Istriku Bad Girl 2 (The Story Of Angel Lee)

Istriku Bad Girl 2 (The Story Of Angel Lee)
Bukankah Harusnya Marah?


__ADS_3


Aku bangun lebih pagi dari pada biasanya. Padahal ini weekend. Biasanya saat di Seoul, aku akan bangun paling siang ketika weekend.


Biasa weekend selalu ditunggu karena kami sekeluarga akan selalu melakukan hal menyenangkan bersama. Entah piknik atau sekedar ke mall.


Sekarang pukul enam di Indonesia berarti pukul delapan di Seoul, lebih baik aku menelepon mereka.


Aku memasang tripod mini dimeja makan. Sambil menunggu Eomma menjawab telepon ku, aku mengolesi roti dengan selai.


"Kak, kalau kakak tidak tahan berjauhan dengan kami sebaiknya kembali ke Seoul." nampak wajah Keenan di layar ponsel.


"I miss you tou brother." Aku membalas sapaan adik kecilku yang sudah beranjak remaja.


"Kalian sedang apa?" aku menyantap roti ku.


"Gak ada. Weekend terburuk sepanjang sejarah. Wait kak, aku mau sambungkan ke tivi." Keenan sibuk dengan ponsel Eomma. Tak lama aku melihat seluruh keluargaku.


"Kalian di rumah? Ini weekend guys."


"Kamu sedang video call?" terdengar suara Harada dari belakang, benar saja dia keluar dari kamar.


"Oh... Sh**it" aku refleks menutup kamera ponsel dengan tanganku.


"Angel, siapa itu? Buka kameranya." Perintah Appa. Aku masih menutup kamera dengan tanganku sambil memberikan isyarat pada Harada agar masuk kembali ke kamarnya.


Tapi bukannya masuk, dia malah duduk di meja makan. "Kenapa ditutup? Ayo buka. Aku juga mau menyapa keluargamu." Dia ngomong sambil memasukan roti ke mulutnya.


"Angel ada di siapa disana?" menutup mata ketika kembali mendengar suara Appa. Sialnya Harada bukannya menghilang dari sini justru seolah ingin menampakan dirinya.


Dengan perlahan aku menjauhkan tangan yang aku pakai untuk menutupi kamera depan ponsel.


"Hi Uncle, Aunty." Sapa Harada ramah.


"Harada-san. Kamu kah itu?" Aku terkejut hingga melotot mendengar Appa yang yang ternyata mengenal Harada. Otakku langsung bergerilya.


"Iya, Uncle." Harada membungkuk memberi hormat.


"Appa sudah mengenalnya?" Aku menunjuk ke arah Harada.


"Tentu. Harada ini anak Hideyoshi dan cucu Kiyoshi." Jelas Appa. Aku masih berpikir siapa kedua orang yang Appa sebut tadi.


Aku bergeser menjauh ketika Harada mendekat. Dia melirik ku ketika aku menempati tempatku yang agak jauh darinya.

__ADS_1


"Kamu menginap?"


"Iya, uncle. Maaf saya menginap tanpa ijin." Harada kembali membungkuk.


"Tidak masalah selama Angel setuju." Kini eomma yang menjawab. Aku memutar mataku dengan malas. Ada apa dengan orang - orang ini. Merekan senang sekali ada laki - laki yang menginap di apartemen.


Aku tidak percaya apa yang aku dengar. Bukankah seharusnya orang tua marah kalau anak perempuannya satu rumah dengan laki-laki?


"Aku hanya kasian padanya Eomma, dia sedang patah hati."


"Aunty titip Angel ya, Harada." Mereka seperti sedang mencari jodohkan ku dengan Yakuza ini.


"Tentu, Aunty. Jangan Khawatir." Entah itu jawaban sopan santun atau Harada sedang serius, tapi aku tidak sanggup mendengar percakapan absurb ini lagi.


"Eomma, aku akan menelepon lagi." tanpa menunggu jawaban Eomma, aku mematikan telepon.


"Apa rencanamu hari ini?"


"Kamu bicara padaku?" Kami sekarang duduk berseberangan dengan pembatas meja makan diantara kami.


"Memangnya disini ada orang lain?" Harada nampak santai, dengan tidak tahu malunya ia sarapan di apartment orang.


"Jadi apa rencanamu?" Ternyata dia masih menunggu jawabanku.


"Entahlah. Mungkin ke rumah kakek. Latihan." Aku kembali menggeser kursiku.


"Apa maksudmu?" pake cara terampuh, pura - pura gak ngerti.


"Aku perhatiin kamu selalu menjaga jarak. Jarak dalam arti sebenarnya?" Harada menggerakan jarinya, menunjuk jarak antara kami berdua.


"Apa aku membuatmu takut?" duh... dia masih mengejar jawabanku. Aku menggeleng.


"Aku nyeremin? Atau aku bau badan?" Sempat-sempatnya Harada mengangkat tangannya dan membaui ketiaknya.


"Atau... kamu suka sesama melon?"


"Sesama melon?" aku binggung sendiri, gak ngerti arah pembicaraan Harada. Tapi melihat arah tatapan matanya yang ke dada ku, aku jadi paham.


Botol selai melayang ke arahnya sayang bisa di tangkap dengan mudah. "Sialan!"


*****


Jam dua belas siang aku keluar kamar, bosan di rumah terus aku akan ke rumah kakek Madin untuk latihan.

__ADS_1


"Kamu akan pergi?" tidak usah menoleh karena aku tahu benar siapa pemilik suara ini.


"Kenapa kamu masih disini?" Aku sibuk dengan tasku, merogoh untuk mencari ponselku.


"Temani aku." Buset ini dia lagi minta ditemenin apa nyuruh aku buat menenin.


Aku mengangkat kepalaku mau ngomelin ini orang.


Entah bagaimana caranya dia bisa menyiapkan pakaiannya. Seingatku saat kemarin dia datang tidak membawa baju sama sekali.


Beberapa detik aku terpaku melihat penampilan Harada. Dia tampak keren, harus ku akui itu. Setelah jas hitam yang dia pakai begitu pas ditubuhnya. Rambutnya disisir dan diikat rapi.



"Aku tahu, aku ini tampan" katanya sambil membenahi kancing kemejanya.


Kepercayaan dirinya yang berlebih itu membuat ku sadar aku menatapnya terlalu lama.


"Gak bisa. Aku mau ke rumah Kakek."


"Madin juga ada disana. Dia datang ke pertunangan sepupuku." aku menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


"Ganti pakaianmu." Kaki sialan ini entah kenapa langsung menurut. Aku kembali masuk ke kamar tanpa mengucapkan apapun.


Didalam kamar aku merutuki diri sendiri yang langsung setuju dengan perintah Harada. Jangan bilang aku terpesona hanya karena dia terlihat keren dengan jas nya itu.


Aku memilih memakai dress putih pendek dengan detail jaring. Cukup formal kurasa. Aku mengurai rambutku dan memoles make up tipis diwajah.


Kini Harada yang nampak terpesona melihatku. Dia memandangku tanpa berkedip. "Jangan memandangku terlalu lama. Bisa-bisa bola matamu melompat keluar."


"Baju apa ini? Tidak cocok untuk acara resmi seperti ini." dia ngegas.


"Salah sendiri mendadak." jawabku santai sambil memakai sepatu. "Atau kamu mau aku pake baju yang biasa aku pakai ke kampus."


"Aahh ya sudah, ya sudah ini saja." Dia menyerah pasrah.


Harada berjalan mendahuluiku dengan wajah kesal. Aku pun sama juga kesal karena harus ke acara seseorang yang tidak aku kenal. Pasti disana banyak makhluk yang bernama laki-laki.


Untungnya ada kakek Madin. Paling tidak aku merasa aman. Aku sebenarnya benar-benar muak dengan perasaan Insecure karena trauma ini, tapi aku belum bisa melawannya.


Angel dan Harada dimasukin list Favorit, ya


like dan komen biar aku masih semangat nulis ya.

__ADS_1


kasi hadiah mawar juga buat mereka, okeh...


makasii


__ADS_2