
Setelah pertemuannya dengan Blue dan Andy, Harada kembali lagi ke rumah sakit. Meminta Alana untuk pulang, dia yang akan menjaga Angel selama di rumah sakit.
Membaringkan tubuhnya disebelah Angel dengan posisi miring hingga bisa melihat dengan jelas wajah yang hilang selama dua minggu ini.
"Kamu sudah kembali?" Angel terbangun saat Harada merapikan anak rambutnya yang menutupi wajah.
"Em.. Tidurlah," Harada memeluk tubuh Angel. Hatinya menghangat, bahagia bisa melihat wajah cantik ini lagi. Memar yang ada diwajah Angel tidak mengurangi kecantikannya sama sekali.
*****
"Sayang, biar Eomma yang membersihkan ku," renggek Angel. Harada bersikeras akan membersihkan Angel, sedang Angel tentu saja malu karena ada kedua orang tuanya di ruangan itu.
"Cih!" Ejek Richard. "Alasan klasik," tambahnya. Richard sedang memeluk pinggang Alana dengan posesif
"Sayang apa kamu ingat ada orang tua yang buru - buru mencari hotel saat mengunjungimu di rumah sakit?" (** cek kejadian di rumah sakit sama Geng Rempong, yah)
Angel terkekeh.
"Kalian berdua ini sama saja!" celetuk Alana. "Sama - sama bucin akut. Tidak perduli tempat dan situasi."
Angel tergelak.
"Jangan macam - macam dengan putriku! Jika dia merintih kesakitan kamu akan menanggung akibatnya!" Ancam Richard. Seketika itu pipi Angel merona.
"Yang ada Angel mendesah nikmat," balas Harada dengan tidak tahu malu. Angel menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menghentak - hentakkan kakinya diranjang.
Di Korea s*x pra nikah memang bukan hal yang tabu, tapi membicarakan didepan orang tua tetap saja terasa tidak sopan.
Perdebatan unfaedah itu dimenangkan oleh Harada yang disambut senyuman bahagia oleh calon menantunya itu.
"Belum jadi menantu saja dia kurang ajar," keluh Richard.
Harada menitipkan Angel pada Alana dan Richard sedang dia akan ke markas untuk mengunjungi Gadis.
__ADS_1
*****
...❌❌SKIP KALAU GAK KUAT❌❌...
Gadis yang kaki dan tangan nya terantai terlihat mengenaskan. Penjaga tidak melepaskannya walau sedetik alhasil dia harus buang air ditempatnya.
Bulu roma nya berdiri mendengar langkah kaki dan juga benda tajam yang diseret, tak lama muncul sosok Harada dihadapannya.
Bukan kelegaan yang dirasakan Gadis justru rasa takut yang menderanya. Harada membawa katana yang sudah keluar dari sarungnya.
Harada berjongkok di hadapan Gadis dengan pedang yang ia gunakan sebagai tumpuan. Menatap gadis yang ketakutan dengan tatapan siap membunuh.
"Harada lepaskan aku!" Gadis menggerakan tangannya yang terantai.
"Melepaskan mu?" suara Harada mengintimidasi. "Jika kamu tidak menyakiti Angel aku tidak akan perduli dengan kegilaanmu!"
"Bersihkan dia!" Titah Harada pada penjaga.
Tak lama penjaga kembali dengan membawa seember air.
Penjaga menyiramkan air pada Gadis.
"AAAA!!" teriakan Gadis menggema. Bagaimana tidak, penjaga menyarankan air panas pada Gadis. "Apa kalian sudah gila!! Kamu mau membunuhku?!" teriak Gadis lagi.
Beberapa bagian kaki, tangan dan wajahnya ada yang melepuh karena terkena air panas.
"Kamu beruntung kami pada Pandawa dilarang keras membunuh anak dan wanita. Jadi Angel sendiri yang akan menentukan nasibmu. Sampai saat itu tiba, aku akan bermain dengan mu,"
"Jadi tangan mana yang kamu gunakan untuk menggoreskan pisau dipunggung Angel?" Harada menatap kedua tangan Gadis bergantian. "Aku rasa yang kanan, kamu tidak kidal bukan?"
Penjaga membawa tiang kedekat Gadis. Melepaskan rantai yang membelenggu tangan Gadis, ganti mengikat tangan Gadis dengan telapak tangan menghadap kebawah.
Setelah itu penjaga memasangjan beberapa lilin dibawahnya. Telapak tangan kanan Gadis menyentuh ujung api pada lilin.
__ADS_1
"AAHHH!! Panas!" Raung Gadis. Lilin sedikit demi sedikit memanaskan telapak tangan Gadis hingga benar - benar melepuh. Kulitnya telapak tangan Gadis terbakar sempurna menyisakan daging merah yang nampak jelas.
"Harada hentikan!!" Teriaknya antara menangis dan menahan panas dan sakit yang menjadi satu.
Harada mengangkat tangan , meminta penjaga berhenti.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Tapi kamu justru memilih Angel dari pada aku. Apa kekuranganku? Apa?!" Tanya Gadis lemah.
"Kamu milik ku! Hanya milikku! Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku!"
"Aku bukan barang yang menjadi milik siapapun. Jika kamu benar mencintaiku kamu seharusnya bertanya apa aku bahagia saat bersama mu?"
"Tapi aku mencintaimu!" Jawab Gadis. Ia sedang berusaha bangkit. Berusaha menggapai Harada agar mau mendengarkannya.
"Benarkah? Apa kamu tahu selama dua minggu kamu sudah membuatku menderita? Apa itu yang disebut cinta? Membuat Angel yang menganggap mu sebagai sahabatnya menderita. Dimana perasaanmu?"
"Aku tidak perduli! Angel sialan itu bahkan sudah tidah suci lagi, dia hanya jala*g kenapa kamu lebih memilihnya?!" Gadis masih tetap pada egonya ingin memiliki Harada.
"Rupanya kamu sudah tidak sayang lagi dengan lidahmu. Aku memberimu kesempatan untuk menyadari kesalahanmu, tapi kamu bersikeras dengan obsesi bodoh mu itu."
"Potong lidahnya! Jahit mulutnya," Titah Harada.
"Tidak! Tidak! Ampuni aku, Ampuni aku Harada. Aku salah! Aku salah!" Gadis memohon. Harada Bergeming tetap membiarkan penjaga melakukan apa yang tadi ia perintahkan.
Satu orang menjaga memegang tubuh Gadis, satu lagu menarik paksa lidah Gadis keluar.
SREETT!!!
Lidah Gadis terpisah dari mulutnya. Darah bercucuran keluar. Gadis bahkan pingsan karena sudah tidak tahan menahan rasa sakit.
Dalam keadaan pingsan penjaga tetap menjahit mulut Gadis.
"Gores punggungnya setiap satu jam. Kalian paham?" Perintah Harada sebelum pergi.
__ADS_1
Besok Gadis tidak akan sendiri, karena akan ada yang menemaninya bermain bersama Harada.