
Semua orang sudah berkumpul di kamar rawat Angel. Harada duduk disisi Angel, Alana dan Richard duduk disofa, Marlin dan Blue berdiri di dekat ranjang, sedang Madin berdiri di hadapan Harada.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Madin memecah keheningan.
"Alfa, ini salah ku. Aku yang membiarkan Angel sendiri tanpa pengawal,"
"Siapa pelakunya?" Tanya Madi lagi.
"Matsu,"
Harada mulai menceritakan kondisi didalam mansion Ozawa dan alasan kenapa ia masih melepaskan Matsu.
Air muka Alana langsung berubah, ia khawatir sudah pasti. Membiarkan Angel masuk ke mansion itu sudah pasti membuat Angel dalam bahaya.
Angel juga tidak kalah terkejutnya mendengar cerita Harada. Tidak disangka masalah keluarganya begitu pelik.
"Jika kalian menikah, apa kamu yakin Angel akan aman?" Tanya Alana. "Menikah dengan Angel sudah mengamankan posisimu buka? Kalian tidak perlu tinggal di mansion,"
Angel menatap Harada, menunggu jawaban dari calon suaminya.
"Sementara kami akan tinggal di rumah yang sekarang. Menyelesaikan kasus Elisabeth. Setelah itu kami akan kembali ke mansion," Jelas Harada.
"Eomma jangan khawatir, justru mansion adalah tempat teraman bagi Angel. Mereka mungkin hanya akan mencoba memprovokasi Angel tapi tidak akan berani untuk mencelakai Angel.
Angel yang mengerti keadaan Harada, memeluk lengan Harada. Ia sudah menautkan hatinya pada Harada, akan menjadi istrinya sebentar lagi maka Angel akan menemani Harada kemanapu apapun kondisinya.
"Eomma, Angel akan baik - baik saja," Harada yang mendengar jawaban Angel menoleh menatap calon istrinya. Mendapat senyuman dari Angel membuat Harada lega. "Harada pasti bisa jagain Angel. Kemarin Angel lagi sial aja."
Alana mendesahkan napasnya ke udara. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, Angel sendiri sudah bersedia terlibat dalam urusan keluarga Harada.
Harada sedang memotongkan buah untuk Angel setelah semua orang pergi. Menyuapi kekasihnya itu dengan telaten.
"Terima kasih," Ucapnya sambil memasukkan sepotong apel ke mulut Angel.
"Untuk apa?" Angel mengambil sepotong apel dan menyuapi Harada.
"Bersedia tetap bersamaku," Harada mengambil tangan Angel, meletakkan tangan kecil itu di pipinya, kemudian mengecup telapak tangan Angel.
"Bukankan suami istri memang seperti itu? Bersama disaat susah dan senang?" Angel tersenyum.
Pov Angel
Ponselku terus berbunyi sejak tadi membuat Harada terbangun. "Ponselmu berisik," keluhnya.
__ADS_1
"Mau gimana lagi, aku gak bisa ngambil," aku menahan tawa melihat wajah kesal Harada. Sepertinya ia kurang tidur.
Dengan terpaksa Harada bangkit dari tidurnya, meronggoh tasku dan mengambil ponsel yang menggangu tidurnya.
"Geng mu," Ia menyerahkan ponselku. Nama bu Sugeng tertera di layarnya.
"Halo," Jawabku sambil terkekeh Harada yang sedang kesal.
[Neng, neng kemana? Udah dua hari ibu liat rumahnya gelap,] Suara Bu Sugeng terdengar dari ujung telepon.
"Oh saya lagi di rumah sakit bu."
[Siapa yang sakit?]
"Angel, bu. Habis kecelakaan," jawabku.
[Aduh... rumah sakit mana, neng? Kirimin ibu alamatnya yah...] Ibu Sugeng terdengar khawatir.
Harada menatap dengan penuh selidik setelah aku menutup telepon. Maklum geng ibu - ibu rempong ini memang perhatian sekali sama tetangganya.
Saat aku kembali pulang ke rumah setelah penculikan waktu itu, mereka ramai - ramai datang ke rumah karena khawatir. Beberapa hari rumah kosong, mereka pikir aku kenapa - napa.
"Mereka mau kesini?" tebak Harada. Aku menjawab dengan cengiran. Harada tidak tahan dekat dengan ibu - ibu geng ku, karena mereka?? mengidolakan Harada. Setiap bertemu Harada bak bertemu artis terkenal.
melakukan.
"Ya ampun so sweet..." Bu Handoko tiba - tiba masuk saat Harada mengikat rambutku. Bu Alit dan Bu Sugeng muncul beberapa detik kemudian.
"Aduh... saya mau satu yang kayak Tuan Harada," Goda Bu Sugeng sambil meletakkan buah di meja.
"Saya limited bu, cuman ada satu. Terus sudah jadi milik Angel," Balas Harada sambil mengerling. Walaupun Harada tidak nyaman dengan ibu - ibu ini tapi dia berusaha tetap ramah.
"Ya sudah, aku ke kantin. Ada yang harus aku kerjakan sama Jason," Pamitnya setelah selesai mengikat rambutku. Memberikan kecupan di pucuk kepalaku tanpa memperdulikan tamu yang ada.
"Aduh... suami mana suami. Saya juga mau digituin," canda bu Handoko yang diikuti gelak tawa yang lain.
"Ih... suaminya neng Angel romantis pisan," Bu Alit mendekatkan kursi ke ranjang dan ikut bergabung bersama yang lain. Bu Sugeng dan Bu Handoko duduk di tepi ranjang.
"Gak usah buru - buru punya anak, neng. Pacaran dulu. Kalau udah punya anak nanti waktu sama suaminya berkurang,"
"Curhat!" Bu Sugeng dan Bu Handoko menimpali Bu Alit berbarengan sambil tergelak.
"Korban perjodohan, neng," sambung Bu Sugeng. "Gak sempat pacaran. Abis nikah beranak tiap tahun," Bu Sugeng terkekeh.
__ADS_1
Bu Alit memang yang termuda diantara ketiganya. Walaupun termuda tapi anak Bu Alit yang terbanyak, bahkan jarak anak satu dengan yang lain sangat dekat.
Kami berbincang cukup lama, hingga Eomma dan Appa datang.
"Oh my God, Lee Min Ho," Bu Sugeng heboh. Mendekati Appa dan meneliti wajah Appa.
Appa yang binggung, mundur selangkah dan bersembunyi di belakang Eomma.
"Ini orang tua Angel, bu." Aku memperkenalkan mereka.
"Tuan, boleh gak foto bareng," Minta Bu Sugeng. "Saya mau bikin heboh se-RT habis ketemu artis,"
"Saya bukan artis," Jawab Appa tegas. "Saya juga gak mau foto bareng,"
Aku dan Eomma tidak bisa menahan tawa melihat Appa yang lebih seperti ketakutan menghadapi ibu - ibu agresif.
Tak lama Harada kembali bersama Jason, "Ya Gusti, mimpi apa saya semalem, ketemu cogan - cogan gini," Bu Sugeng menarik tangan Harada dan Jason.
Mengarahkan mereka kesebelah Appa yang sudah berhasil dibujuk Eomma untuk foto bersama. Setelah mengatur para lelaki, Bu Sugeng dan yang lain meminta seorang perawat untuk mengambil foto mereka.
Appa dan Harada bergidik ngeri saat ketiga ibu rempong pergi. "Aku lebih baik menghadapi musuh dari pada menghadapi mereka," Ujar Harada sambil duduk disebelahku.
"Aku lebih baik ditodong pistol dari pada ditong foto bersama," Appa menarik tangan Eomma.
"Mau kemana? Kita baru sampai," tapi Eomma tetap berdiri.
"Hotel. Aku perlu membersihkan diriku dari sisa cubitan mereka," Appa tidak malu untuk mencium Eomma didepan kami semua.
Bug!
Aku melempar bantal kearah mereka. "Cari hotel sana!" wajahku dan Harada memerah melihat tingkah Appa yang masih tergila - gila pada Eomma.
"Jangan macam - macam dengan putriku. Tunggu dua minggu lagi!" Appa mengancam Harada setelah itu menghilang dibalik pintu sambil menggendong Eomma.
"Mereka selalu begitu. Jangan pikirkan," Aku tahu Harada pasti binggung melihat tingkah Appa yang tidak tahu malu itu.
***jangan lupa like, komen dan mawar ya...
wangi kan Angel dan Harada.
Vote... Vote... kalau tiketnya masih ada ☺☺
makasi***...
__ADS_1