
Di Indonesia, Jason sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Seharian berkutat dengan angka dan laporan membuat kepalanya sakit.
Sejak tidak ada Andy dan Harada dalam pemulihan, dialah yang bertanggung jawab pada perusahaan
Hari ini Jason sengaja melambatkan laju mobilnya. Membuka lebar jendela mobilnya, menikmati angin malam yang dingin. Memperhatikan lampu jalan yang malam ini nampak begitu indah baginya.
CITTTT!!!
Jason menginjak rem sedalam-dalamnya karena tiba-tiba ada seorang wanita yang lewat didepan mobilnya.
Wanita itu berhenti didepan mobil Jason dengan napas tersengal. Dengan cepat ia menuju pintu penumpang yang ada disebelah pengemudi dan masuk ke dalam mobil Jason tanpa permisi.
Visual Jason emak ganti, yah...
"Tolong aku," ujarnya dengan mengatupkan kedua tangannya. "Tolong bawa aku pergi dari sini. Mereka mengejarku. Turun aku dimana saja, tapi tolong bawa aku pergi dari sini."
Tubuh wanita itu bergetar ketakutan. Ia hanya memakai tank top dan rok pendek memperlihatkan kulitnya penuh dengan memar. Kepalanya terus saja bergerak memperhatikan sekeliling.
Jason berbalik badan. Mengambil jaketnya yang ada di kursi belakang kemudian menyerahkannya pasa wanita itu. "Pakai ini,"
__ADS_1
"Kamu?!" Jason mengenali wanita itu. Dia wanita yang berebut kursi ditaman malam itu.
"Tolong aku..." lirihnya sembari merendahkan duduknya karena melihat orang-orang yang mengejarnya semakin mendekat.
Tatapan memohon wanita itu membuat Jason iba dan tidak tega menolak.
"Siapa namamu?" tanya Jason saat mereka sudah cukup jauh dari orang-orang tadi.
"Tidak penting. Toh kita tidak akan bertemu lagi," balas wanita itu lemah.
Jason bisa melihat tubuh wanita itu bergetar. Keringat membasahi keningnya padahal suhu pendingin mobil cukup dingin.
"Kamu demam. Aku antar ke rumah sakit."
"Tidak, jangan ke rumah sakit. Mereka akan menemukanku," jawabnya lemah. Matanya semakin berat, lelah. Hanya itu yang ia rasakan saat ini.
Wanita itu menaikkan jaket Jason, hingga menutupi pundaknya. Hingga ia akhirnya tertidur.
Jason berhenti di depan apotik. Membeli beberap obat, jarum dan juga cairan infus. Ia berencana membawa wanita asing ini ke apartemennya, jadi jangan sampai dia mati disana.
__ADS_1
*****
Mata Kiara mengerjab. Ia, nama wanita itu Kiara. Wanita 27 tahun yang disiksa keluarga suaminya karena tidak mampu memberikan keturunan. Karena sudah tidak tahan, akhirnya Kiara melarikan diri dari istana besar milik suaminya itu.
Ia memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Melirik tangannya yang terasa nyeri. Jarum infus tertancap disana.
Matanya memperhatikan sekeliling. Ia ada di kamar tidur. Sudah pasti kamar tidur laki-laki. Aroma maskulin parfum pemilik kamar ini masih tertinggal.
Perlahan ia bangkit, mendudukkan dirinya kemudian bersandar pada headboard ranjang. Mencoba mengingat-ingat kejadian saat ia melarikan diri.
Diputar-putarnya cincin kawin yang masih melingkat di jari manis dengan ibu jarinya. Matanya menjadi panas mengingat perlakuan Brandon padanya.
Pria itu tidak mau menceraikannya padahal Brandon sudah tak ingin lagi bersama Kiara yang tidak bisa hamil. Pun begitu dengan keluarga besar Brandon yang memanjang Kiara dengan jijik karena tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga itu.
Brandon lebih memilih menikah dengan wanita lain dan menyiksa fisik serta mentalnya dari pada bercerai.
Kiara menghapus air matanya dengan cepat ketika melihat handle pintu bergerak
muncullah...
__ADS_1