
Jika Angel mendapatkan perhatian semua orang karena terluka, tapi tidak dengan Matsu.
Setelah Harada pergi meninggalkan Matsu yang terluka, Andy juga meninggalkannya. Andy tidak memperdulikan Matsu sama sekali.
Matsu yang menahan sakit, dengan tertatih - tatih turun ke parkiran dan meminta supirnya untuk membawanya ke rumah sakit. Dengan kesadaran yang nyaris hilang Matsu berhasil berhasil menghubungi Hiraku.
Matsu koma selama tiga hari karena kehilangan banyak darah.
Hiraku menahan dirinya untuk tidak membalas perbuatan Harada pada putranya. Masih ada rencana besar yang hanya bisa terlaksana dengan menggunakan perusahaan Ozawa dan menguasai Ozawa.
Kalau Angel diperhatikan oleh semua orang termasuk ibu - ibu geng rempong tapi tidak dengan Matsu. Dia hanya ditemani oleh ayahnya dan beberapa pengawal. Bahkan Sheryl yang sering menemaninya melewati malam tidak menampakan batang hidungnya sama sekali.
"Papa..." Lirihnya saat Matsu tersadar dari. koma.
"Kamu sudah sadar?" Hiraku mendekati ranjang Matsu.
"Apa papa sudah membalas Harada?" tanya Matsu dengan lemah.
"Apa kamu masih mau gegabah? Untung saja kamu tidak mati ditangan Harada," Ledek Hiraku.
"Kita harus bersabar Matsu. Tunggu setelah kita bisa menguasai Ozawa, Papa akan menyisakan Harada untuk mu," Hibur Hiraku.
"Papa harus pergi. Hari ini ada pengiriman," Hiraku meninggalkan Matsu sendirian di ruang rawatnya.
*****
Setelah tiga hari dirawat akhirnya aku boleh pulang hari ini.
Semua orang heboh atas kepulanganku termasuk Geng Ibu Rempong. Bahkan Bu Sugeng dengan suka rela membuatkan nasi tumpeng untuku. Simbol bersyukur katanya masih diberi keselamatan.
Baiklah, yang muda menurut saja.
Eomma dan Appa tidak ikut mengantarkan ju pulang. Kami harus berhati - hati karena itu daerah misi kami. Jangan sampai misi kami gagal karena ada seseorang yang mengenali Eomma atau Appa.
__ADS_1
Harada membantuku turun dari mobil. Rumah sudah ramai dengan suara Geng Rempong. Harada memang meminta Jason untuk mengantarkan kunci rumah untuk Ibu Sugeng.
Yang membuatku terkejut adalah kehadiran Elisabeth. Biasa di jam segini Elisabeth masih bekerja.
"Are you oke? I am sorry I didn't come to see at the hospital. I just knew it last night." Elisabeth ikut menuntunku duduk di sofa.
** bagaimana keadaanmu? Maaf aku tidak mengunjungi mu di rumah sakit. Aku baru tahu semalam.
"I am a lot better,"
Elisabeth nampak berbeda hari ini. Dia seperti tertekan dan banyak pikiran. Mungkin dia sedang banyak pekerjaan.
"Ayo neng, doa dulu," Bu Sugeng yang memimpin doa. Kemudian memotong ujung tumpeng dan memberikannya pada ku.
Harada lagi - lagi tidak membiarkan ku melakukan sendiri padahal luka di telapak tanganku sudah membaik.
"Aduh... saya iri," canda Bu Handoko. Suami Bu Handoko menikah lagi dan lebih sering berada di rumah istri mudanya, mungkin itu sebabnya Bu Handoko seperti kurang belaian.
"Cari suami baru," Balas Bu Sugeng. Aku hanya terkekeh.
"Hah gimana - gimana?" tanya Harada tidak mengerti.
"Mesranya jangan pas baru - baru nikah aja. Harus dijaga sampe kakek nenek tetep mesra," Aku dan Harada sama - sama mengangguk.
Pandanganku beralih pada Elisabeth yang duduk tidak tenang. Dia terus saja menggerakkan kakinya.
"Are you oke?"
"Ya... ya I'm good." aku memandang Elisabeth penuh selidik. Aku yakin ada sesuatu.
Syukuran berlangsung lancar dan ramai karena Geng Ibu Rempong. Mereka benar - benar memperhatikan ku.
"Neng istirahat ya, besok Ibu kesini lagi. Tuan, cariin ART lah buat istrinya. Lagi sakit kan belum bisa ngurus rumah," Saran Bu Sugeng.
__ADS_1
"Iya bu," Harada mengiyakan.
"Jangan kuda - kudaan dulu, nanti luka operasinya sakit," goda bu Sugeng membuat wajahku panas.
"Tenang, Bu saya bisa bikin Angel merem melek tanpa kuda - kudaan" balas Harada seyara tersenyum menampilkan gingsulnya.
"Ish... nanti ajarin suami saya yah..." pinta Bu Sugeng. Kedua orang ini senang sekali dengan topik absurb seperti ini.
"Kamu lihat sikap Elisabeth tadi?" tanyaku setelah rumah kosong.
"Hhmm dia terlihat gugup," rupanya Harada juga memperhatikan.
"Satu lagi, tadi sewaktu dia mengambilkan tisu untukku di pergelangan tangannya ada tato. Tato dua bulan," aku mengingat - ingat.
Harada mengeluarkan ponselnya, tak lama menunjukan gambar yang ada diponsel, "Seperti ini?"
"Iya. Biasanya dia pakai jam jadi gak terlihat. Apa itu seperti tato penculik di mall?"
Harada mengangguk. Ia terlihat sedang berpikir. Tak berselang lama ia menghubungi seseorang yang kemudian aku tahu itu adalah Jason. "Cari lagi informasi tentang Elisabeth. Lebih detail. Aku gak mau tahu gimana caramu menggali informasinya yang tertutup itu," titahnya.
"Istirahat lah," Harada membantuku berdiri dan menuntunku ke kamar.
"Apa semua baik - baik saja?" aku duduk di tepi ranjang.
"Jangan khawatir," Harada menatapku lamat - lamat. "Jangan coba - coba melakukan ide konyol mu itu!" seru ku paham dengan apa yang dipikirkan Harada.
"Apa kamu tidak mau mencoba nya sayang?" godanya.
"Tidak!" Aku menunduk.
__ADS_1
"Jangan takut," Harada mengangkat dahulu membuat kami bersitatap. "Setelah menikah nanti aku akan memberikan pengalaman yang indah menggantikan kenangan burukmu," katanya lembut sambil menatapku. Membuatku tahu dan yakin Harada bersungguh - sungguh.
"Tidurlah," Harada membantuku berbaring. Menutupi tubuhku dengan selimut. Memberikan kecupan singkat di dahi dan ciuman panjang.