
Pov Author
"Alana." Marlin menyambut sepupunya dengan sebuah pelukan. Sementara Blue menjabat tangan Richard. "Bagaimana kabarmu?"
"Sama sepertimu, semakin tua." canda Richard. "Dimana Madin?" Dia tidak melihat mertuanya itu menyambut kedatangan mereka.
"Ini hari Jumat, Rich. Dia ke makam." Sejak hari kematian Elara -- Istrinya, Madin selalu mengunjungi makan Elara setia Jumat sesuai hari kematiannya.
Richard mengangguk paham. "Ayo masuk," Blue membimbing mereka masuk ke dalam.
Alana langsung ke dapur untuk membantu Marlin menyiapkan cemilan, Keenan sudah langsung ke kamar Bryan untuk main game sedang Richad dan Blue menunggu wanita mereka di ruang keluarga.
"Angel masih kuliah. Dia akan diantar kesini setelah selesai," Jelas Marlin sambil menghidangkan minuman dan makanan kecil.
"Bagaimana perkembangan mereka?" Tanya Alana penasaran. Ia tahu kalau selama ini Angel tinggal bersama Harada untuk menjalankan misi dari Blue.
Richard memeluk pinggang Alana begitu Alana mendaratkan dirinya disebelah Richard.
"Malu sama umur." Sindir Blue.
"Aish... justru kami makin menempel. Anak - anak sudah besar. Aku bisa bebas menguasai Alana." Richard membalas sindiran Blue.
"Kalian yang seharusnya malu sama umur." Madin datang. Alana berdiri dan mencium punggung tangan Madin pun begitu dengan Marlin.
Madin memeluk keponakan kesayangannya. Sudah tiga tahun sejak terakhir kali mereka bertemu di Seoul.
"Kalian datang lebih awal?" Madin menduduki kursi kebesarannya. Satu - satunya sofa single di ruang keluarga.
"Abi mau ngomong dulu sama Angel. Abi gak mau dia kaget," Alana menjawab.
"Yah itu lebih baik."
"Apa Uwak sudah ngomong ke Harada?" tanya Alana lagi. "
"Kiyoshi sudah mengatakan pada Harada," tuturnya. "Ada apa? Ada yang lu pikirin?" Alana tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Alana menatap Richard sejenak. Melihat Richard mengangguk samar Alana mengatakan apa yang ia khawatirkan.
"Apa tidak berbahaya Angel masuk ke keluarga Ozawa saat keadaan mereka sedang seperti ini?"
"Mereka sedang lemah saat ini. Musuh mereka bisa dengan mudah menyerang," Richard menambahkan.
"Abi takut... takut sesuatu terjadi sama Angel."
Madin membuang napasnya ke udara, memandang generasi penerusnya satu per satu. Bukannya dia tidak memikirkan ini, dia juga tidak mau Angel dalam bahaya.
__ADS_1
Madin bukan orang yang rela menyerahkan keluarganya demi transaksi bisnis. Untuk Madin keluarga ada segalanya.
"Kiyoshi sudah menjamin keamanan Angel, selain itu Uwak percaya Harada --" Madin mendeja ucapannya. "Kalian lihat nanti kenapa uwak berpikir untuk menjodohkan mereka."
"Tapi kalau Angel menolak, kamu tidak akan memaksakan perjodohan ini bukan?" tanya Richard serius. Alana pun menunggu jawaban Madin.
"Aku tidak menjanjikan apapun pada Kiyoshi dan ini bukan perjanjian bisnis kalau itu maksudmu. Kalau Angel menolak, tidak masalah."
Alana dan Richard bernapas lega. Bagaimanapun mereka tidak mau memaksakan soal hati pada putri mereka.
"Bagaimana dengan Keenan? Kalian sudah memberitahunya? Arthur sudah menunggunya di Cecillia."
"Sudah. Dia akan berangkat dua bulan lagi," Jawab Richard.
"Eomma, Appa... " Angel berlari menghampiri kedua orang tuanya.
Angel memeluk kedua orang tuanya secara bergantian. Melepas rindu setelah dua bukan berpisah.
Harada membungkuk memberi hormat pada Alana dan Richard.
"Harada, maaf kami merepotkan mu," kata Richard basa basi.
"Appa, aku tidak pernah merepotkan nya." Renggek Angel.
"Ayo ke ruang kerja," Ajak Madin. Membiarkan para wanita menikmati waktu mereka.
"Kenapa Eomma tidak mengabari ku? Aku bisa menjemput kalian di bandara." Angel memeluk lengan Alana. Menyandarkan kepalanya di pundak ibunya.
"Tidak ada itu sebabnya hari ini, Eomma adalah milikku. Appa tidak boleh meminjam Eomma apapun alasannya," Alana tergelak begitupun dengan Marlin.
"Karena Eomma mu sudah disini, kita harus pergi jalan-jalan. Hanya para wanita termasuk Britany," saran Marlin.
Sementara itu di ruang kerja, para lelaki sedang membicarakan keamanan Angel.
Harada berdiri sambil menundukkan kepala tidak berani menatap ketiga ketua dihadapannya.
"Harada, apa yang kamu lakukan? Jangan seperti itu. Duduklah." Richard memeluk sisi disebelahnya.
"Tidak, uncle." Harada menolak.
"Duduk. Kita ini keluarga. Berhenti bersikap seolah kamu adalah anak buahku," Richard nampak serius.
"Apa Angel masih takut dengan mu?"
"Tidak Uncle, Angel jauh lebih baik belakangan ini. Dia tidak menghindar lagi,"
__ADS_1
Richard menatap Madin sekilas. Tatapan Madin seolah mengatakan, "Lihat kan?"
"Itu bagus. Kamu sudah tahu tentang rencana perjodohan mu? Harada mengangguk. "Bagaimana menurutmu?"
"Aku tahu kakek pasti sudah memikirkan ini matang-matang." jawabnya diplomatis.
"Ish aku bukan membicarakan tentang pendapat kakekmu," Sahut Richard.
"Uncle bicara tentang mu. Pernikahan bukan main-main. Uncle tidak mau ada pernikahan kontrak seperti novel - novel itu --" Richard membuang napasnya.
"Uncle percaya kamu orang baik tapi pernikahan bukan hanya saat upacara tapi setelahnya."
Harada mulai mengerti apa yang Richard bicarakan tersenyum. "Uncle, aku sangat menghormati pernikahan. Jadi bila Angel setuju, aku akan berusaha menjalaninya dengan baik,"
"Angel adalah permata keluarga kami," Richard kembali melanjutkan.
Bagaimanapun ia tahu menikah tanpa cinta itu berat. Dia beruntung Alana mau berusaha menerimanya, melakukan perannya sebagai istri dan ibu walaupun awalnya tidak ada cinta. Tapi bagaimana dengan Angel.
"Uncle tidak mau dia terluka."
"Itu tidak akan terjadi, Uncle."
"Kamu tentu sudah tahu masa lalu Angel. Dia sudah --" Richard tidak sanggup meneruskan kata - katanya. Emosinya selalu bangkin ketika mengingat kejadian 14 tahun yang lalu.
Walaupun dia di Korea, tapi selama 14 tahun ini ia mencari bajingan yang merusak Angel. Orang itu bagai tikus yang sangat pandai bersembunyi.
"Aku bukan orang yang mempermasalahkan hal seperti itu, Uncle. Saat ini aku hanya ingin Angel sembuh dari trauma nya. Agar ia siap jika memang harus bertarung. Keadaan keluargaku sedang tidak baik. '
Richard mengangguk pelan.
"Kami akan belajar saling mencintai, jadi Uncle jangan khawatir."
Richard kembali menatap Madin. Madin yang paling tahu kemampuan Harada. Dia sendiri yang melatih Harada, menajamkan insting memburu Harada seperti serigala.
"Baiklah, Uncle dan Aunty bisa tenang sekarang," Richard menepuk pundak Harada.
"Appa, kami akan ke mall." Alana masuk ke ruang kerja tanpa mengetuk pintu. "Kalian belum selesai?"
"Alarm ku sudah berbunyi tuan - tuan," Richard bangkit dari duduknya mendekati istrinya.
"Yang benar saja," Ledek Blue.
"Tidak Appa, kalian bisa lanjutkan kami akan pergi sendiri." jelas Alana.
__ADS_1
"Kami?" Richard mengerutkan keningnya.
"Hanya para wanita Appa. Jadi kalian pria bersenang - senanglah tanpa kami," Alana meninggalkan para pria setelah memberi ciuman pada Richard.