
Harada kembali menggendong ku ke kamar setibanya kami di rumah kakek. Aku bisa melihat wajah khawarirnya sebelum aku berada di gendongannya.
Pertama kalinya aku sedekat ini dengan laki-laki. Aku bahkan bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Harada.
Anehnya perasaan takut itu menghilang, berganti dengan perasaan aman dan nyaman juga detak jantung yang berantakan.
Dia membaringkan ku dengan perlahan diatas ranjang. Menyelimuti ku hingga pinggang. "Aku ke markas dulu. Nanti aku kembali lagi," Katanya sambil membelai rambutku.
"Aunty saya tinggal dulu," Kata sopan sambil membungkuk pada Eomma yang berdiri diambang pintu.
"Angel, Eomma bantu membersihkan badamu." Eomma membantuku bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
Eomma mengisi air bath tub dan menambahkan aroma lavender yang menenangkan.
"Sudah lama Eomma tidak menggosok badanmu," Eomma yang duduk dengan kursi kecil menggosok tanganku dengan spon.
"Angel sudah besar, Eomma,"
"Buat Eomma kamu tetap Angel kecil yang menggemaskan," Eomma tersenyum, senyum yang selalu bisa membuat aku tenang.
"Maafkan Angel, Eomma. Angel sudah berusaha tapi rasa takut itu terlalu besar," aku menunduk menyesal tidak bisa mengalahkan diriku sendiri.
Eomma mengangkat daguku, menghapus air mata yang mengalir deras. "Angel benci hidup Angel! seberapa pun besarnya Angel berusaha untuk bahagia dan menikmati hidup, masa lalu itu selalu datang dan merusak semuanya!" keluhku sambil memukul - mukul air.
Eomma memelukku, tidak memperdulikan pakaiannya yang ikut basah. Kami menangis bersama.
"Jadikan masa lalu untuk membuatmu kuat, sayang. Jadilah kuat untuk membalas dia yang sudah menghancurkan mu," Eomma menggelus rambutku.
"Bajing*n itu menghancurkan mu sekali, nanti kamu harus menghancurkannya berkali - kali lipat.
"Eomma mengajariku untuk balas dendam?" aku terkekeh ditengah isak tangisku.
"Hem, menjadi di Mahakali Kadang itu diperlukan agar tidak ada Angel - Angel lain,"
cerita soal Mahakali googling sendiri aja yah... emak mau nulis takut salah. Yang pasti Dewi Kali bertugas sebagai pelebur seperti dewa Siwa.
Eomma membantuku kembali berbaring. Rasanya lebih relax setelah mandi. "Eomma akan ambilkan sop untuk mu. Tunggulah."
Aku merasa seperti kembali ke usia enam tahun. Walaupun Eomma hanya ibu sambung tapi Eomma tidak pernah membedakan ku dengan Keenan, justru lebih menyayangiku.
Setelah memandikanku, Eomma juga menyuapiku. Kami menceritakan hal - hal lucu yang membuat pikiranku sedikit teralihkan.
"Eomma perhatikan Harada sangat mengkhawatirkan mu," tiba - tiba Eomma membahas Harada.
"Kenapa Eomma tiba - tiba membicarakannya?"
__ADS_1
*****
Sinar matahari mulai menyilaukan mataku yang masih terpejam. Perlahan aku membuka mata, mengerjab - ngerjabkan mata menyesuaikan dengan sinar yang masuk.
"Harada?" Aku melihat sosoknya ketika hendak turun dari ranjang. Dia tidur dikursi yang ada disebelah ranjang ku. Kenapa tidak cari kamar lain? Rumah kakek punya banyak kamar atau tidur disofa.
Harada tidur sambil menyilangkan tangan nya didepan dada, bersandar pada kursi dan kepala sedikit tengadah karena bertumpu pada sandaran kursi.
"Harada," Aku menyentuh lengannya.
Dia bangun detik itu juga, seperti sudah terbiasa tidur dalam mode siaga. "Kamu sudah bangun?" Harada membetulkan duduknya.
"Sejak kapan kamu disini?" Seingatku semalam aku tidur bersama Eomma.
"Kamu butuh sesuatu?" Aku menggeleng.
"Aku mau bicara sesuatu. Kelualah dulu, setelah mandi kita bicara," Harada nampak ingin bertanya, tapi tidak bersuara.
"Akan aku panggilkan Aunty Alana,"
"Tidak usah, aku bisa. Kembali kesini lima belas menit lagi," Aku turun dari ranjang, menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Aku dan Harada duduk bersisian disofa. Aku memilih bicara di kamar, karena tidak ingin orang lain mendengar apa yang kami bicarakan.
"Apa kamu tahu tentang perjodohan kita?" tidak perlu basa - basi lagi. Semalam Eomma menceritakan padaku tentang rencana dua keluarga ini.
"Kenapa? Kita bahkan tidak saling suka," Aku memperhatikan raut wajah Harada lekat - lekat mencoba menerka jalan pikirannya.
"Bukankah bisa cinta tumbuh karena terbiasa?" jawabnya santai. Aku setuju tentang itu. Seperti eomma dan appa.
"Bagaimana kalau kita tidak berhasil? Maksudku jika pada akhirnya kita tidak saling mencintai?"
"Rumah tangga adalah tentang komitmen. Itu menurutku. Asalkan kita berkomitmen untuk saling setia, menjaga dan bersama sampai tua, aku yakin cinta akan tumbuh," kali ini Harada bicara sambil menatapku.
"Pernikahan ini bukan hanya tentang kita tapi juga keluarga kita. Keluargaku butuh penerus, keluargamu butuh orang yang bisa menjagamu." katanya jujur.
"Tapi lebih dari itu aku juga akan berusaha agar pernikahan kita berjalan dengan baik, karena aku menghormati pernikahan." sambungnya.
Aku meremas kedua tangan ku yang saling bertautan. Aku harus menanyakan hal yang penting, tapi entah bagaimana cara menanyakannya.
Harada memegang tanganku, menghentikan gerakan tangan yang mungkin menggangu. "Katakan, apa yang ingin kamu tanya kan?"
"Aku --" Aku mengambil udara sebanyak - banyaknya kemudian membuangnya perlahan.
"Kamu sudah tahu tentang masa lalu, bukan? Aku -- Apa kamu mau beristri gadis sepertiku? Aku sudah tid --"
"Laki-laki itu menghancurkanku. Membuatku jijik pada diriku sendiri. Bajing*n itu bukan hanya meninggalkan bekas luka tapi mengambil rasa percaya diriku."
__ADS_1
"Jangan katakan apapun lagi. Bagiku kamu cantik, bersih, suci. Aku menghomatimu apapun keadaanmu." Mataku memanas, terharu dan tersentuh dengan kata - kata Harada.
"Masa laluku terlalu gelap, aku takut suatu saat kamu akan terbebani dan merusak rumah tangga kita," Aku semakin menangis.
"Bintang tidak akan terlihat indah disiang hari bukan? Tidak masalah masa lalu mu gelap, tapi jadilah seperti bintang yang bersinar indah ditengah kegelapan," Aku semakin paham kenapa kakek menjodohkan ku dengan Yakuza ini. Dia bisa menjadi sangat bijaksana dan dewasa membuatku tenang, meghilangkan semua kekhawatiran ku.
"Jangan menangis," dia menghapus air mata di sudut mataku. "Jadi kamu menerima perjodohan ini?"
Aku memberikan anggukan kepala. Aku akan belajar mencintai Harada seperti Eomma yang belajar mencintai Appa. Mungkin benar kata Eomma Harada bisa membantu ku sembuh dari trauma. Eomma dan Appa juga akan tenang melepasku bersama Harada. Mereka sangat mempercayai laki - laki ini jadi aku tidak punya alasan untuk untuk ragu.
*****
Para pria berkumpul di ruang kerja Madin termasuk Kiyoshi.
"Jadi kalian berhasil menginterogasi orang itu?" tanya Madin pada Blue dan Harada. Blue menggeleng.
"Dia setia sampai mati." jawab Harada.
"Kalian yakin yang Alana lihat?" Tanya Kiyoshi.
"Alana bilang ia melihat tato dua bulan dan empat bintang. Alana cukup yakin itu lambang Korui Kage." Richard menjawab pertanyaan Kiyoshi.
Kiyoshi dan Madin saling berpandangan. Sepertinya mereka harus mulai berburu.
Lambang Korui Kage
Kiyoshi Ozawa
Madin Gustav (old Version)
Blue a. k. a Dimas
***Udah ya... emak gak ada utang visual.
Like dan komen okeh?
mawar... mawar... mawar...
Vote kalau berkenan
__ADS_1
selamat menikmati ceritanya***...