
Seminggu yang lalu Harada sudah menjalani operasi pelepasan pen pada kakinya. Setelah tiga bulan berjalan dengan tongkat dan melakukan serangkaian fisioterapi agar ototnya tidak kamu akhirnya hari ini ia bisa berjalan lagi tanpa tongkat.
Angel dan Harada juga sudah kembali tinggal di mansion. Hanya ada Alicia yang tinggal sendirian merasa kesepain walau di mansion banyak pelayan. Aunty Miwa menyusul suami dan anaknya ke Jepang.
Harada menyusup masuk ke dalam selimut. Mensejajarkan wajahnya dengan perut Angel yang sudah membuncit dan memberikan ciuman bertubi - tubi pda perut istrinya.
Dengan mata masih terpejam, Angel membelai rambut suami. "Kamu sudah bangun? Butuh sesuatu?" tanya Angel khawatir.
"Tidak. Aku hanya perlu kalian. Mulai hari aku yang akan mengurus kalian," katanya.
Angel terkekeh. "Tentu. Kami akan merepotkan mu appa."
"Akan? Kalian sudah merepotkan ku? Tidak ingat masalah stroberi itu? Kamu membiarkannya busuk di kulkas. Kamu tahu berapa harganya?" jawab Harada kesal.
"Maafkan aku. Aku tiba-tiba tidak ingin lagi dengan stroberi itu. Tadinya ingin membagi stroberi itu dengan pelayan di mansion. Tapi aku lupa."
"Belum lagi soal rambut dan gaya aktor Korea mu itu. Kamu tahu berapa lama aku perlu memanjangkan rambutku?"
Isakan Angel terdenger dikuping Harada. Istrinya menjadi sangat sensitif sejak hamil. Mudah marah dan menangis tidak seperti dulu yang bisa diajak berdebat dan bercanda.
Harada mendesahkan napasnya. Ia merangkak naik dan mensejajarkan wajahnya dengan wajahnya istrinya. Benar saja, kelopak mata Angel sudah penuh dengan air mata.
Harada menghapus air mata Angel, membawa istrinya masuk ke dalam pelukannya. "Maafkan aku," katanya sambil mengusap punggung Angel.
"Apa aku menyusahkan mu?" Angel terisak.
"Tidak, sayang. Bahkan jika kamu meminta yang lebih dari itu aku akan berusaha mengabulkannya. Aku hanya belum terbiasa dengan perubahanmu." Harada mengeratkan pelukannya.
"Jangan menangis, nanti baby Oz ikut bersedih." Harasa kembali mengumpulkan kesabarannya. Ia lebih suka Angel yang dulu, yang bisa ia ajak berdebat panjang. Tapi apa mau dikata, dia sendiri yang membuat istrinya seperti ini.
Angel mengurai pelukan mereka, "Sayang, aku ingin kuliah lagi."
"Nanti setelah kamu melahirkan sayang. Jangan sekarang, Ok? Aku sudah mengurus cuti kuliahmu."
__ADS_1
Harada mengerutkan keninganya tidak mendapatkan jawaban apapun dari Angel. Takut dirinya salah bicara yang membuat istrinya sedih.
"Ada apa hum?"
Air mata Angel luluh lagi. Ia kembali memeluk suaminya. "Kamu perhatian sekali. Aku terharu."
Harada bernapas lega. Ia kira istrinya akan merajuk.
*****
Harada masuk ke kamar dengan nampan penuh dengan makanan. Buah susu dan dan juga sereal untuk sarapan istri juga calon anak mereka.
"Sayang sarapan dulu." Harada meletakkan sarapan Angel di meja yang ada di balkon kamar mereka. Menghampiri istrinya yang duduk di depan meja rias.
Ia mengambil alih sisir dari tangan Angel. "Ayo sarapan, setelah itu aku ingin menunjukkan sesuatu."
"Oh ya? Apa itu?"
"Sayang, ini banyak sekali," keluh Angel melihat banyaknya makanan yang ada di nampan. "Apa kamu tidak lihat aku sudah bertambah besar? bukan hanya perut tapi juga pipi dan lenganku."
Harada tergelak menggelengkan kepala. Ia sama sekali tidak pernah mengeluhkan perubahan bentuk tubuh istrinya, tapi Angel sering merasa tidak percaya diri.
Harada mulai menyuapi Angel. "Aku lebih suka kamu yang berisi seperti ini."
"Maksudnya gendut?" Angel memastikan.
Harada terkekeh. Apa semua wanita hamil seperti istrinya, hal kecilpun bisa membuat mereka tersinggung? "Berisi, sayang," balasnya Harada sembari menyuapi Angel.
"Jadi dulu aku terlalu kurus? Kamu tidak suka?
Rasanya Harada ingin menampar mulutnya sendiri. Padahal ia hanya tidak ingin istrinya merasa insecure dengan bentuk tubuhnya.
"Sayang, bagaimanapun betuk tubuhmu, aku suka. Tidak masalah berisi atau tidak," hibur Harada.
__ADS_1
Angel masih belum berhenti merajuk. Bibirnya masih mengerucut dan tidak mau memandang suaminya.
Harada meletakkan piring berisi buah yang sudah habis setengahnya kemudian bangkit dari duduknya. Masuk ke dalam kamar tak lama ia keluar dengan membawa ponsel.
"Ini." Harada menyerahkan ponsel miliknya.
Mata Angel berbinar. Ia bahagia membaca yang tertulis diponsel Harada.
"Kita ke Seoul?" tanyanya girang. Melihat anggukan kepala Harada, Angel melompat ke pangkuan suaminya.
"Wow... Hati-hati sayang."
"Maaf aku terlalu bahagia." Angel menciumi wajah Harada.
"Kamu bisa makan soto buatan Eomma sesuka mu," kata Harada. Ia mengelus rambut panjang Angel.
Tiga bulan ini istrinya menahan diri ingin memakan soto bikinan ibu mertuanya. Angel tidak pernah mengeluh, tetapi Harada tahu istrinya diam - diam menanyakan resep soto pada Alana. Kemudian menangis karena rasa tidak sama dengan buatan Alana.
Ia tahu Angel pasti merindukan rumah. Begitu mendapatkan ijin dari dokter untuk bepergian, Harada memesan tiket pesawat untuk mereka berdua menuju Seoul.
"Aku mencintaimu sayang," Angel membenamkan bibirnya pada bibir suaminya.
"Aku juga. Jangan bersedih lagi," katanya pada Angel.
"Terima kasih. Maafkan aku merepotkan mu." Angel menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Harada sambil memainkan jarinya didada pria itu.
"Kamu ingin membeli sesuatu untuk dibawa ke Seoul?" Angel menggeleng. " Jangan lupa baju hangatmu."
Mereka menghabiskan waktu sarapan dengan membicarakan kegiatan akan lakukan selama di Seoul.
satu lagi sorean ya gais...
__ADS_1