Istriku Bad Girl 2 (The Story Of Angel Lee)

Istriku Bad Girl 2 (The Story Of Angel Lee)
Gadis


__ADS_3

Suara bel pintu yang berbunyi terus menerus mengusik tidur tenang Harada. Mau tidak mau dia bangun dari tidurnya.


"Selamat pagi Harada," Suara Gadis mengisi telinganya. Gadis menerobos masuk tanpa perlu diminta.


"Apa yang kamu lakukan disini pagi - pagi seperti ini?" Hadara masih berdiri diambang pintu.


"Aku sudah melakukannya seminggu ini. Kenapa selalu bertanya," Jawab Gadis dari ruang makan sambil mengeluarkan semua makanan yang ia bawa.


Sejak Angel meninggal, Gadis datang ke rumah setiap pagi membawakan sarapan. Ia baru akan pergi saat Harada akan pergi. Membuat Harada risih, tapi entah bagaimana menolaknya karena Gadis teman Angel. Gadis beralasan hanya ingin menghibur Harada yang sedih karena kehilangan Angel.


"Besok tidak perlu kemari lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri," Sahut Harada pada akhirnya. Mengingat sikap Jason kemarin saat dipesta Andy.


Gadis menghentikan kegiatan sedetik, menatap Harada kemudian kembali melanjutkan menata sarapan. "Aku akan tetap datang untuk menghibur dan menjagamu," serunya.


"Apa aku terlihat sedih dan perlu dijaga? Aku bisa menjaga diriku sendiri," jawab Harada ketus.


"Aku akan tetap datang dan membuatmu melupakan Angel," bisik Gadis tapi masih bisa didengar oleh Harada. Harada seketika itu menarik tangan Gadis dan mencengkramnya.


"Apa maksudmu?!"


Gadis meringis kesakitan. "Ti... tidak ada. Itu hanya pesan Angel saat terakhir kali kami bertemu. Menjagamu bisa terjadi sesuatu. Sepertinya Angel sudah mempunyai firasat kalau sesuatu akan terjadi padanya."


Harada melepaskan lengan Gadis dengan kasar. Mengamati Gadis dengan seksama. Ia tahu Gadis berbohong. Gesture nya mengatakan demikian. Tapi kenapa? Dia teman baik Angel.


Gadis yang seminggu ini datang menemui Harada sangat berbeda dengan Gadis yang dulu berteman dengan Angel.


Tanpa kacamata, rambutnya terurai, pakaian ketat mengekspose tubuhnya. Potongan leher baju yang rendah seolah sengaja memperlihatkan leher dan dadanya.


"Ayo makan," Ajak Gadis dengan nada suara cerita, tidak ada ketakutan sama sekali meskipun baru saja diperlakukan kasar oleh Harada


"Aku tidak lapar," Harada meninggalkan Gadis.

__ADS_1


"Bukannya itu kamar Angel?" tanya Gadis ketika melihat Harada hendak masuk ke kamar Angel.


"Kamar kami. Ini kamar kami," Tegasya lalu menghilang dibalik pintu kamar Angel.


Ingin rasanya Gadis menghacurkan semua barang yang ada di rumah itu. Seminggu ini dia berusaha keras membuat Harada melupakan Angel tapi tidak ada hasilnya sama sekali. Harada selalu mengacuhkannya.


Pria itu tidak pernah menyentuh makanan yang Gadis bawa. Harada tidak meliriknya sama sekali padahal Gadis sengaja merubah penampilannya untuk menarik perhatian Harada.


"Kamu mau pergi?" tanya Gadis pada Harada yang sudah nampak rapi.


"Boleh aku ikut?" tanyanya lagi ketika tidak mendengar jawaban Harada. "Sarapan dulu." Gadis menyiapkan piring untuk Harada.


"Pulanglah aku mau berangkat," kata Harada ketus.


"Kamu tidak sarapan dulu?" Gadis sama sekali tidak memperdulikan sikap ketus Harada sama sekali. Ia tetap bertingkah seolah Harada memperhatikannya.


"Mimi, aku tidak membawa mu kali ini. Setelah menemui mami mu aku harus langsung ke kantor," Harada membelai Mimi kemudian mengisi tempat makannya.


*****


Hampir lima belas menit Harada duduk di tepi malam Angel. "Sayang tolong katakan pada temanmu untuk berhenti datang ke rumah, dia membuatku tidak nyaman," Katanya sesaat sebelum pergi meninggalkan makam Angel.


Harada mengendari motor besarnya dengan beberapa pertanyaan yang tiba - tiba muncul dikepalanya. Sebaiknya setelah sampai perusahaan dia mencari tahu jawabannya.


"Ikut aku," kata Harada ketika melewati meja kerja Jason. "Duduklah," titahnya ketika Jason berdiri di hadapannya.


"J, aku ingin bertanya sesuatu,"


"Kenapa sekarang kamu suka sekali berbelit - belit? Tanya ya tanya saja," Ejek Jason.


"Apa kamu memberitahu alamat rumah kami, rumah ku dan Angel pada Gadis? Selain pandawa tidak ada yang mengetahui dimana kita tinggal," Harada terlihat serius sekarang.

__ADS_1


"Aku baru tahu alamat itu dihari kejadian karena kamu meminta ku datang dan aku sudah lama tidak bicara dengan Gadis. " jawab Jason.


"Jadi bagaimana Gadis bisa tahu?" Harada mengetuk - ngetik kan jarinya kemeja.


"Mungkin kah Angel yang memberitahu Gadis?" tebak Jason.


"Aku rasa tidak. Aku melarang Angel memberitahukan pada siapapun. Bahkan Richard dan Alana tidak tahu tempat tinggal kami," Harada mengendurkan dasinya.


"Sebenarnya ada apa?" Jason penasaran.


"Sehari setelah Angel meninggal Gadis datang ke rumah, dan dia selalu datang setiap pagi. Maafkan aku tidak memberitahu mu sebelumnya. Dia mengatakan Angel yang memintanya menjagaku jika terjadi sesuatu padanya,"


"Jangan khawatir kami tidak sedekat itu," Mata Jason berubah sendu.


"Benarkah? Kata Angel kalian dekat," Jason menggeleng. "Ini aneh," tambah Harada.


Harada dan Jason bersitatap.


Benar, ini aneh menurut Angel Gadis menyukai Jason dan Jason sedang berusaha mendekati Gadis. Tapi menurut Jason tidak seperti itu.


"Aku akan periksa nomor Angel," Jason bangkit dari duduknya mengetahui apa yang ada dipikiran Harada.


"Berikan aku CCTV jalan di perumahan," katanya sebelum Jason keluar.


Harada memang belum memeriksa apapun terkait kematian Angel Dia masih berusaha menyiapkan hatinya untuk menerima kenyataan yang akan ia hadapi saat mencoba mencari tahu penyebab kematian Angel.


*****


Di tempat lain Elisabeth sedang ketakutan. Ia menutup kamarnya rapat - rapat. Tidak ingin ada celah untuk mengintip.


Ia menatap ponsel Angel yang ada diatas meja. Ponsel yang sengaja ia matikan, takut ada yang melacak keberadaan nomor itu.

__ADS_1


"Pergilah! Bawa ponselku! Setelah mendapatkan tempat yang aman, hubungi Harada atau Madin. Mereka akan membantumu," Pesan Angel kembali terngiyang di telinganya.


__ADS_2