
Pov Author
Harada menunggu kedatangan Angel dengan gelisah. Ia sengaja menunda pembicaraan dengan Sheryl menunggu Angel datang.
Harada paling tidak suka bertengkar dengan pasangan, maka dari itu iya meminta Angel untuk datang agar tidak ada salah paham.
"Babe..."
"Sheryl, tolong panggil aku Harada. Aku tidak mau orang lain salah sangka," Harada mengangkat tangannya ketika melihat Angel masuk restoran.
"Ngapain cewek itu kesini?" Sheryl kesal saat melihat Angel berjalan kearah meja mereka.
Harada berdiri menyambut kedatangan Angel. Direngkuh nya pinggang kecil Angel hingga mereka saling menempel.
"Maaf aku terlambat," Ujar Angel berbasa basi.
Sheryl memalingkan wajahnya melihat Harada mengecup mesra pipi Angel. Angel tersenyum kaku sambil menahan rasa gugupnya.
"Tidak apa-apa sayang. Kami belum memesan apapun," Harada menarikkn kursi untuk Angel.
"Mana Andy?" Sindir Angel. "Kamu menemui lelaki lain tanpa tunangangmu?" cibirnya.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan Nona Sheryl?"
"Tapi aku ingin bicara berdua denganmu, Harada," Mata Sheryl berkaca-kaca. Sunggu dia tidak rela jika harus kehilangan Harada. Ini tidak seperti yang ia rencanakab.
"Aku tidak akan menyembunyikan apapun dari Angel, Nona Sheryl. Jadi apapun yang ingin kamu katakan, katakan didepan Angel," Nada suara Harada menegaskan ia tidak ingin dibantah.
"Aku... Aku ingin kamu kembali padaku," merasa tidak punya pilihan lain, Sheryl akhirnya mengutarakan keinginannya. Menyingkirkan ego dan malunya.
__ADS_1
Keheningan melanda meja itu.
"Aku tahu aku salah, aku mengkhianati hubungan kita, tapi aku butuh kepastian. Andy saat itu bisa memberiku kepastian," Jelasnya.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku ini bukan pilihan?" suasana berubah menjadi menakutkan. Hanya satu kalimat, Harada berhasil membuat kedua wanita yang duduk bersama berinding.
"Aku bukan orang yang bisa kamu permainkan. Kamu cari saat butuh, kamu buang saat bosan,"
"Dan apa kamu pikir aku akan menyakiti seluruh keluarga hanya demi dirimu? Apa kamu pantas untuk diperjuangkan?" Sheryl menunduk, dia kalah telak. Semua yang Harada katakan benar.
Tapi sedetik kemudian Sheryl menggeleng pelan, meyakinkan dirinya bahwa Harada hanyalah miliknya. Harada mencintainya dan akan meninggalkan gadis sialan ini demi dirinya.
Sheryl meraih tangan Harada, menggenggam tangan kekar itu, berusaha meyakinkan Harada, "Keluarga mu pasti mengerti. Kita saling mencintai. Mereka pasti mengerti. Kembalilah padaku, aku tidak sanggup melihatmu dengan orang lain,'l" mohonnya sambil terisak.
"Kamu yakin aku masih mencintaimu?" cibir Harada. "Asal kami tahu, hubungan dengan Angel sudah sangat jauh. Apa kamu masih yakin aku mencintaimu?"
"Aku laki-laki yang memegang teguh kata - kata yang aku ucapkan nona Sheryl. Perasaanku padamu sudah hilang tanpa bekas. Berbahagialah bersama Andy," Harada bangkin, mengulurkan tangannya pada Angel dan disambut oleh Angel.
"Kamu tidak apa - apa?" tanya Angel setelah mereka meninggalkan restoran.
"Jika kamu masih mencintainya --"
"Perasaan itu sudah tidak ada lagi," jawab Harada datar. "Jangan bahas masalah ini lagi. Mengingatnya hanya membuatku ini menebas kepala seseorang,"
"Seram sekali. Kamu terdengar seperti psikopat dari pada Yakuza," Angel mengerucutkan bibirnya sebal
Angel terlihat menggemaskan. Mata Harada yang tidak sengaja melihat itu, membuat sudut bibir Harada terangkat.
Entah bagaimana Angel selalu bisa membuatnya merasa bahagia saat sedang kesal.
"Aku lapar," Angel memegangi perut dengan kedua tangannya.
*****
__ADS_1
Di rumahnya Sheryl menghancurkan semua barang sambil berteriak histeris.
Sheryl mengabaikan ponsel ya yang sejak tadi terus berdering. Bukan orang itu yang ia harapkan. Ia, Andy sejak tadi terus menghubungi Sheryl karena khawatir.
Kemudian Sheryl teringat Matsu.
"Harada menolakku," ujarnya masih sambil terisak.
[Jangan khawatir. Mintalah Andy mempercepat pernikahan kalian, setelah itu kita akan mencoba menggagalkan pernikahan Harada,]
"Baiklah," jawab Sheryl.
[Apa kamu butuh bantuan ku untuk meredakan amarahmu?] goda Matsu. [Datanglah ke tempatku]
*****
Harada menatap Angel yang sedang asik memakan burgernya. "Jangan buru - buru, tidak akan ada yang meminta burgermu."
Angel tidak menjawab, dia terus melahap burger yang ada ditangannya.
"Mulai besok kamu latihan combat. Setelah itu kita latihan dengan simulasi," kata Harada setelah mereka menyelesaikan makan malam. "Pernikahan kita bisa mommy dan Eomma yang mengurus."
Angel mengangguk setuju.
"Dengan laki - laki," sambung Harada.
"Apa? Jangan bercanda,"
"Apa kamu mau kejadian di mall terulang lagi? Aku akan menemani mu jadi jangan khawatir."
Angel menarik napas panjang, meyakini dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik - baik saja. Ada Harada yang akan menjaganya.
"Baiklah. Aku ikut apa katamu," Angel pasrah. Sudah saatnya ia melawan rasa takutnya.
__ADS_1