
Seperti kata Angel tiga hari berlalu dengan cepat. Hari ini kedua keluarga besar sudah berkumpul di sebuah gereja untuk pemberkatan Angel dan Harada.
"Kamu sudah siap?" Richard menjemput putrinya.
Angel tampak cantik dan anggun dengan gaun putih yang membalut tubuhnya. Eomma memilih gaun dengan punggung tertutup dengan aksen brokat pada lengannya.
"Sudah," jawab Angel singkat sambil membuang napasnya.
"Gugup?" Richard memberikan tangannya, Angel menyambut lengan yang selama 20 tahun sudah menjaganya.
"Sangat."
"Appa juga." Richard menuntun Angel berjalan melewati aisle menuju Harada yang sudah menunggu di depan sana.
"Aku serahkan putriku padamu. Bahagiakan dia," Richard menyerahkan tangan Angel pada Harada ketika mereka berdua mencapai altar.
"Pasti," Harada menjawab, menerima tangan Angel. Menggenggam tangan Angel.
"Kamu cantik sekali," puji Harada sambil berbisik.
Pendeta memulai upacara pernikahan mereka. Angel dan Harada bergantian membacakan janji pernikahan mereka.
"Anda bisa mencium pengantinnya," ujan pendeta menutup rangkaian upacara pemberkatan pernikahan.
__ADS_1
Angel menunduk malu mengingat Harada yang tidak kenal tempat jika menciumnya, berpikir Harada juga akan melakukannya. Tetapi ternyata salah, pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu memberikan ciuman panjang pada keningnya. Ciuman penuh kerinduan dan rasa cinta.
"Aku mencintaimu istriku," kata Harada dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Aku juga suamiku," balas Angel.
Tidak ada jeda,keduanya langsung melakukan resepsi di jam makan siang.
Intimate party seperti kemauan Angel. Angel tampil menawan dengan hanbok pilihannya. Rambut yang ditata sederhana membuat kecantikan terpancar keluar belum lagi rona kebahagiaan membuat wajah Angel sangat sempurna
Melihat istrinya lelah karena, Harada menarik sebuah kursi untuk Angel. "Duduklah," katanya. "Kamu bahagia?" tanyanya menatap Angel dengan lekat.
"Apa senyumku memudar hingga kamu menanyakan itu?"
"Tidak. Senyum mu terus mengembang," Harada mendekatkan wajahnya hendak mencium Angel. Angel yang paham, menutup mulut dengan tangannya.
"Jangan rusak make up ku," kata sambil menggeleng samar.
__ADS_1
Harada terkekeh kemudia mencubit hidung Angel. "Tunggu disini, aku akan mengambil minum untuk mu."
Harada kembali tak lama setelah itu dengan membawa dua gelas minuman. "Ayo kita sapa para tamu, agar cepat selesai." Harada membantu Angel berdiri. "Aku ingin mereka semua cepat pulang." tambahnya lagi.
Angel mendatangi keluarganya yang berkumpul dalam satu meja. "Oh lihat, pengantin mendatangi kita," Marlin menyambut Angel dengan pelukan. Disusul oleh Alana.
"Kamu cantik sekali," Alana menangkup wajah Angel. Alana kembali memeluk Angel. "Berbahagia lah."
"Tentu Eomma."
Tak lama Harada datang. Disambut oleh para lelaki. "Ayo kita minum, red wine?" tawar Blue.
"Tidak. Aku ingin tetap sadar," tolak Harada dengan tegas.
"Satu gelas saja," bujuknya. Blue memang ingin mengerjai Harada. Rencananya dia akan terus mengisi gelas Harada hingga Harada mabuk dan gagal malam pertama.
"Kamu ingin membuatku gagal seperti dirimu?" Ejek Harada. "Tidak akan berhasil."
Yang lain terbahak. Semua tentu mengingat insiden malam pertama Blue dengan Marlin.
Semua keluarga diliputi oleh rasa bahagia. Setelah insiden kematian Angel yang membuat Harada kehilangan separuh jiwanya, kini mereka bisa bersatu dan bahagia.
Tidak ada yang memperhatikan sejak tadi sepasang mata jahat memandang mereka dengan tajam. Merencanakan sesuatu yang jahat untuk membalas dendam pada keluarga itu.
masih ada satu bab lagi gaes
__ADS_1
sabar yah...
Ps : baju yg d pake Harada bukan hanbok ya. tapi baju tradisional Myanmar.