
Angel melakukan pemeriksaan
seperti yang Harada minta. Ia juga ingin tahu apa calon bayinya baik – baik
saja. Angel berusaha sebaik mungkin agar perutnya tidak terkena benturan dan
tidak melakukan gerakan ekstrim saat menyerang Matsu tetapi lebih baik dipastikan.
Harada mengumpat kesal dikamarnya
karena dia tidak bisa ikut menemani Angel melakukan pemeriksaan. Dokter belum mengijinkan Harada turun dari
ranjangnya hingga luka operasinya benar – benar kering.
Angel kembali ke ruang rawat Hadara dengan membawa foto USG calon anak
mereka. ”Bagaimana? Apa anak kita baik – baik saja?” tanya Harada tidak sabar.
Angel menyerahkan foro USG nya dan jugab video saat pemeriksaan tadi.
Harada yang terharu memeluk Angel yang
sedang duduk disebelahnya dengan erat. ”Jangan lakukan apapu yang membuat mu
lelah. Pulanglah, biar Jason yang menjaga ku.”
”Tidak mau!” tolak Angel. ”Kami mau disini menemani daddy,” Angel
mengerucutkan bibirnya.
”Sayang, aku mengkhawatirkan mu dan anak kita. Pulanglah ke apartemen. Dua
atau tiga hari lagi aku boleh pulang.” Harada masih mencoba merayu Angel.
”Tidak mau! Aku mau pulang tapi ke Seoul.” rajuknya.
Harada menjadi panik. Apa jadinya ia yang sedang sakit seperti ini harus
ditinggal istri ke Seoul. ”Apa? Kenapa jauh sekali? Kamu juga punya rumah
disini kan?”
”Aku ingin soto buatan Eomma?”
Harada semakin panik. Tidak mungkin mengirim soto buatan ibu mertuanya
kesini. Entah bagaimana rasanya saat soto itu sampai di Jakarta. Ia menggaruk
kepalanya yang tidak gatal mencari cara untuk merayu istrinya.
Harada menghembuskan napas pasrah, ”Baiklah, kamu boleh disini. Tapi jangan
__ADS_1
paksakan dirimu.”
Angel menampilkan senyum penuh kemenangan. Membenamkan ciuman pada bibir
Harada tapi ketika hendak melepaskan ciumannyam, Harada menahan tengkuk
istrinya dan menyesap bibir yang sudah menjadi candu baginya.
Angel yang meladeni ciumannya membuat Harada semakin ini lebih. Tanganya
meraba bukit kembar milik istrinya dan berusaha melepaskan kancing baju Angel.
”Sayang... aku tidak mau bertanggung jawab jika meneruskan ini.”
”SHIT!” Harada mengumpat kesal. Gairahnya sudah mulai naik terpaksa harus
diredam karena kondisinya saat ini. Sebelum semua terlambat lebih baik
dihentikan sekarang sebelum little samurainya siap menyerang.
Angel tidak tega melihat suami yang harus menahan hasratnya sejak kemarin.
”Kita lakukan di rumah. Oke?” bisiknya.
”Sayang aku belum bisa...” Harada menunjuk kakinya yang masih harus
melewati beberapa terapi lagi sebelum bisa digunakan.
suaminya meremang. ”Sisanya serahkan padaku.” Angel mengerlingkan matanya.
”Kamu mulai nakal.” Harada membenamkan wajahnya didada Angel, mencari
kenyamanan yang ia rindukan. ”Aku akan cepat pulih.” Tangannya meraba perut
Angel.
”Harus!”
*****
”Sayang....” Angel merenggek. ”Aku ingin
sesuatu.” Angel mendekati ranjang Harada dan memperlihatkan ponselnya.
”Kamu ingin ini?” Harada memperhatikan gambar
stroberi di ponsel Angel. ”Stroberi?” Ange mengangguk. Tapi entah kenapa
perasaan Harada menjadi tidak enak. ”Minta Jason untuk membelikannya untukmu.”
ia mengembalikan ponsel Angel.
__ADS_1
”Aku ingin stroberi Bijin-Hime.” Harada
membuang napasnya kasar. Ia tahu pasti tidak mungkin hanya stoberi biasa.
”Sayang, sroberi itu hanya tumbuh di bulan
Januari dan Februari. Selain itu hanya ada 500 biji setiap panen. Dibulan
seperti ini tidak ada.” Harada mencoba menjelaskan dengan sabar.
Stroberi Bijin-Hime adalah salah satu stroberi
termahal yang harganya bisa mencapai $4,400 per buah. Dan setiap panen hanya
menghasilkan 500 buah. Stroberi ini dihasilkan oleh pertanian Okuda. Stroberi ini seukuran bola tenis yang bisa
mencapai berat 100 gram. Warnanya luar biasa merah cerah. Rasanya lezat dengan
aroma manis. Dengan semua keunggulan itu dan proses panjangan untuk
menghasilkan stroberi ini, maka harganya sangat fantastis.
“Tidak bisakan kamu tanyakan pada kenalanmu di Jepang. Mungkin mereka punya
stock.”
”Sayang cari stoberi yang lain saja. Aku akan membelikan mu banyak
stroberi,” bujuk Harada.
”Sudahlah aku tidak mau merepotkan mu.” Angel kembali duduk disofa dengan
wajah cemberut.
Harada menyerah, ia tidak tahan melihat wajah cemberut dan kecewa Angel.
Segera ia mengambil ponselnya dan menghubungi beberapaeorang. Cukup lama Harada berbicara dalam bahasa Jepang kemudian ia menutup teleponnya.
”Sudah. Teman - teman ku akan mencarikannya untuk mu, Tapi tidak bisa segera
datang. Sabarlah untuk beberapa hari kedepan.”
Senyum Angel mengembang. Ia berhambur memeluk suaminya, memberikan banyak
kecupan pada wajah Harada. ”Terima kasih,” ucapnya.
”Apappun untuk mu sayang.” jawab Harada lesu. Bukan ia tidak sanggup
membelikannya, tetapi mencari stroberi itu di bulan seperti ini memang sulit
__ADS_1
apalagi jumlahnya yang tidak banyak.