
Suara ponsel Harada sangat menganggu. Masalahnya Harada tidak mau menjawab panggilan masuk itu karena sedang menyetir. "Telinga ku sakit mendengar suara telepon mu. Kenapa gak dijawab sih?"
"Jawablah, gunakan pengeras suara," titahnya.
"Sheryl," aku memberitahukan Harada siapa yang menghubunginya sejak tadi. Ku geser tombol hijau kemudian menyalakan pengeras suaranya.
Harada memberikan kode agar aku yang menjawab, "Halo,"
"Kamu? Mana Harada?" suara kerasnya membuatku menjauhkan ponsel beberapa senti.
" Ada perlu apa dengan tunanganku?"
"Berikan saja ponselnya pada Haraka, Gaijin!" bentaknya.
"Sayang, kita baru satu hari bertunangan tapi sudah ada gadis yang menghubungi mu, kamu sungguh jahat," Aku geli sendiri dengan tingkahku yang sok manja.
"Kamu dengar itu?! Kamu membuat tunanganku marah," Rupanya Harada mengerti aku sedang mengerjai Sheryl.
"Harada, babe dengarkan aku, ayo kita bicara. Berdua. Kita perbaiki semua. Aku akan melepaskan Andy, ayo kembali bersama," bujuk Sheryl.
Aku berusaha bersikap biasa saja mendengar penawaran menarik Sheryl. "Please... " tambah gadis berambut merah itu lagi.
Harada menatapku sekilas, memberi kode bertanya pendapat ku, aku jawab dengan mengangkat bahu. Entah sejak kapan kami saling mengerti bahasa gestur ini.
"Baiklah. Aku kirimkan alamatnya nanti," entah kenapa hatiku perih mendengar jawaban Harada.
Aku tidak bertanya apapun lagi padanya. Menunggu dia menjelaskan padaku.
*****
Harada menjelaskan padaku apa-apa saja yang harus aku lakukan.
Hari ini aku dan Elisabeth berencana pergi ke grooming salon. Grooming salon memberikan pelayanan perawatan mulai dari mandi, merapikan bulu kucing, potong kuku hingga membersihkan telinga. Kebetulan kucing Elisabeth jantan dan Mimi, jadi kami membuat ini seperti kencannya para kucing.
"Kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan?"
"Aku tahu, bawa dia ke salon, usahakan pinjam ponselnya, masukkan spyware, tunggu kode darimu, setelah dapat kode bawa dia kembali setelah pukul tujuh, Benar?"
__ADS_1
"Pandai," dia menyentil hidungku.
"Jika --"
"Jika ada hal mencurigakan segera menghubungi mu," aku meneruskan kata-kata Harada.
"Jangan --"
"Jangan membuatmu khawatir jika tidak kamu akan menghukum ku," Lagi-lagi aku menyelesaikan kalimatnya.
Harada memintaku menghapalkan apa saja yang boleh dan tidak boleh aku lakukan dan aku menyebutkannya dengan baik.
Harada mengeluarkan mobil dari garasi, memarkirkan nya didepan rumah. Membantuku dan Elisabeth memasukkan kucing kami yang berada dalam kandangnya.
"Have fun," Harada mencium pucuk kepalanya yang berhasil membuat ku terbelalak. Untungnya Elisabeth tidak menyadari keterkejutan ku.
Dasar! Dia pandai mengambil kesempatan! Aku menggerutu dalam hati.
"You're Husband is so sweet," Puji Elisabeth saat kami sudah berada didalam mobil. Aku hanya tersenyum kaku.
"What about you? Do you have boyfriend?"
"No. I like a guy. But he just too high to be reach. I give up," Jawabnya.
Aku tidak punya pacar. Aku menyukai seseorang, tapi dia telalu sulit dijangkau. Aku menyerah.
"He cold as an ice or he way to rich man?" tebak ku.
Dia pria yang dingin atau terlalu kaya?
"He's both" Elisabeth tersenyum getir.
Dia keduanya.
"Don't worry, your man will come the right time and the righ place," aku berusaha menghiburnya.
Jangan terlalu dipikirkan, jodohmu akan datang di waktu dan tempat yang tepat.
"I have boyfriend," Elisabeth menoleh pada kucingnya. Kami pun terbahak.
__ADS_1
Semuanya berjalan sesuai rencana Harada. Aku berhasil meminjam ponsel Elisabeth dengan alasan mengambil foto Mimi dan Gray.
"Ish... I run of battery. Can you take their picture for me please?" Aku menggoyang-goyangkan ponsel yang sengaja aku matikan layarnya.
Ponselku habis baterai, bisakan kamu mengambil foto mereka?
Elisabeth mengambil beberapa fotoku bersama Mimi. Rupanya ia tertarik juga untuk berfoto bersama kedua kucing menggemaskan ini. Dengan suka rela ia membiarkanku memegang ponselnya yang tidak terkunci.
Dengan cepat aku mengirimkan spyware yang sudah disiapkan Om Ecco dan berusaha mengulur waktu untuk terus memegang ponsel Elisabeth.
Berhasil. Harada sudah mengirim pesan padaku. Om Ecco sudah bisa meretas data pada ponselnya.
[Aku menemui Sheryl. Datanglah ke restoran itu setelah kamu selesai.] Harada kembali mengirim pesan.
Aku tidak membalas pesan Harada, belum memutuskan apa aku akan datang atau tidak.
Sesuai rencana, aku sampai rumah sekitar pukul tujuh tiga puluh. Rumah sudah gelap, motor besar Harada tidak tampak terparkir di garasi, sepertinya dia sudah pergi.
Ting! Harada mengirim pesan lagi. [Aku tahu kamu sudah di rumah. Bersiaplah lalu susul aku kesini. Jangan buat orang salah sangka karena aku berdua dengan Sheryl.]
Aku mengalihkan pandanganku pada kamera CCTV yang ada di ruang tengah. Harada pasti sedang melihat CCTV dari ponselnya.
Tapi benar juga apa yang Harada katakan, jangan sampai Andy atau salah satu keluarga kami salah paham.
Dengan terpaksa akhirnya aku bersiap. Aku sepertinya harus ikut campur dalam masalah Harada dan Sheryl.
satu bab dulu gaes. Satu lagi diusahakan agak siang, okeh
.
.
like dan komen dong..
bagiin mawar yang buanyakkk
vote juga boleh๐๐
__ADS_1