
Angel memerintahkan Jason untuk
membawa Matsu yang sudah pingsan ke markas,
berkumpul dengan ayahnya yang sudah beberapa bulan ada disana.
Alicia dan Miwa mendekati Andy
yang sedang memangku Sheryl. Tangan
Andy berubah menjadi merah karena dari Sheryl. Sheryl yang lemah berusaha
mengangkat tangannya dan menghapus air mata Andy.
”Kenapa menangis?” lirihnya lemah.
”Tidak, aku tidak menangis.” Andy menghapus air matanya dengan cepat.
Menyisakan noda merah di wajahnya. ”Jangan bicara apapun, Angel sedang menyiapkan
mobil untuk kita.” Andy bersiap untuk mengangkat Sheryl tapi Sheryl menolak.
”Tidak, biarkan aku mati dipangkuanmu. Melihat wajahmu.” katany dengan napas terputus –
putus.
”Tidak! Apa yang kamu katakan sayang. Kamu akan baik – baik saja. Kita belum memulai
apapun, jangan tinggalkan aku.” Andy menangkup pipi Sheryl memberikan ciuman
bertubi – tubi di kening istrinya.
”Berjanjilah untuk bahagia, Sayang. Maafkan aku belum bisa membahagiakan
mu. Maafkan aku yang selalu menyakitimu,” kata Sheryl dengan sisa – sisa
tenaganya.
”Kamu bahagiaku, bagaimana aku bisa bahagia tanpa kamu, sayang. Bertahanlah... kita ke rumah sakit.” Andy
mulai panik. Ia bisa merasakan tangan Sheryl mulai dingin.
”Berjanjilah. Jangan biarkan aku pergi dengan rasa khawatir.”
Miwa memegang pundak Andy, mengangguk samar agar Andy berjanji pada Sheryl.
”Iya, sayang. Aku berjanji. Aku berjanji.” Dengan cepat Andy mengiyakan
__ADS_1
permintaan Sheryl.
Sheryl tersenyum.
Hening
”Sayang...” Andy menepuk pipi Sheryl. ”Bangun...” Dia menepuk lebih keras.
Merasa tidak ada pergerakan, Andy meletakkan kepala Sheryl di lantai, melakukan
CPR pada Sheryl. Andy memompa dada Sheryl dengan cepat berharap dapat
mengembalikan denyut jantung Sheryl. Dia juga mengangkat sedikit kepada Sheryl
berusaha melancarkan pernapasan istrinya.
Hampir lima menit Andy terus memompa dada Sheryl. Maíz berharap istrinya
akan kembali. Andy memanggil nama istriny terus menerus memintannya kembali
sambil menangis. Mohon agar Sheryl tidak meninggalkannya.
Miwa menarik tangan Andy, membawa putranya masuk ke dalam pelukan. Mengusap
lembut punggung Andy untuk memenangkan anaknya itu. “Iklaskan dia, nak.”
mereka benar – benar layaknya suami – istri yang sesungguhnya. Kenapa mereka
secepat ini mereka harus terpisah?
Sheryl menepati janjinya menjadikan Andy sebagai laki – laki terakhir dan
selamanya untuk dirinya.
*****
Angel kembali ke rumah sakit dengan wajah lesu.
Dengan pakaian yang sudah bersih, Angel masuk ke ruang rawat Harada yang
sudah di pindahkan ke kamar rawat biasa.
Angel duduk disebelah ranjang Harada, membaringkan kepalanya di ranjang. Harada
membelai rambut istrinya. “Bagaimana Andy?”
“Dia sangat terpukul.” Angel tidak mengangkat kepalanya. Membiarkan
__ADS_1
suaminya terus mengelus rambutnya.
“Matsu?”
“Di bawa Jason ke markas.” sahut Angel.
Angel menggenggam tangan suaminya, mencium tangan kekar itu sambil
menangis. ”Terima kasih sudah bertahan,” katanya lembut.
”Terima kasih juga karena tetap disisiku. Setelah ini aku akan banyak
merepotkan mu sayang. Kakiku, mungkin sementara aku harus di kursi roda.”
”Tak apa, aku bisa menjadi kaki mu.” jawab Angel.
”Kemarilah, berikan aku ciuman.” Angel mendekati suaminya. Memberikan
ciuman lembut pada bibir kering Harada.
Keheningan kemudiann hadir diantara mereka. Membayangkan bila salah satu
dari mereka harus merasakan kehilangan. Harada yang pernah merasakan, sangat
mengerti apa yang sedang Andy rasakan saaat ini. Sedang Angel mungkin akan
terpuruk bila kehilanga Harada apalagi saat ini ia sedang mengandung.
”Sa...” Angel nyaris memberitahu Harada tentang kehamilannya tetapi ia
urungkan. Ia akan menyampaikan kabar gembira ini nanti setelah menghukum Matsu.
”Ada apa?”
”Tidak. Istirahatlah. Segera lah sembuh.” Angel tersenyum pada suaminya.
***semoga nyampe ya feel nya... emak waktu ngehalunya sih sampe merinding, semoga kalian juga gitu.
maafkan telat up
maafkan klo ga greget
say Adios untuk Sheryl***
tungguin cerita spin of Andy yah...
rencananya aku keluarin tgl 1agustus. Tapi masih belum tahu disini atau N O V E L M E liat nanti.
__ADS_1