
Hari ini adalah hari Minggu. Jadi aku memutuskan untuk meliburkan semua karyawanku, agar aku juga bisa menikmati masa liburku hari ini.
Setelah aku mengetahui semua informasi yang di berikan oleh Daniel kemarin, kini aku pun mulai menyusun strategi. Aku ingin membuat Andini agar tidak bisa lepas lagi dari ku.
"Halo, bro," sapa ku di balik layar panggilan video.
"Iya, bro. Ada apa? Kenapa kau menggangguku sepagi ini?" tanyanya di seberang panggilan.
Aku pun menautkan kedua alisku.
"Apa! Masih pagi lo bilang? Apa lo tidak memiliki jam di apartemen? Coba lihatlah dari balik jendela, sekarang sudah jam 11 siang," ucapku dengan nada santai.
"Apa! Kenapa lo tidak membangunkan gue sejak pagi tadi! Apa lo tau bahwa gue sudah sangat terlambat saat ini?" ujarnya dengan begitu panik.
Aku yang masih dengan santainya, masih melihat tingkah Daniel yang kelabakan. Aku memang sudah terbiasa mengganggu ketenangan sahabatku ini, karena hanya dia sahabatku satu-satunya yang tau luar dalam kehidupaku.
Daniel juga mengenal baik ibuku, bahkan dia juga sudah seperti putra kedua untuk beliau.
"Memang lo mau kemana? Apa lo ingin bertemu dengan seseorang? Apa dia kekasih baru lo?" tanyaku penasaran.
Dia pun langsung melotot tajam padaku.
"Diam! Lo nggak perlu tau dengan siapa gue ketemu. Yang pasti ini sangat penting buat gue, dan lo jangan coba-coba untuk menguntit gue kali ini!" ucapnya dengan penuh ketegasan.
"Oke, gue nggak akan menguntit lo hari ini, tapi gue menunggu lo di rumah. Tadi ibu nanyain lo, ibu ingin bertemu dengan lo, katanya beliau juga sangat rindu sama lo. Sudah lama juga 'kan lo nggak mengunjungi beliau. Jadi gue harap hari ini lo bisa datang ke rumah, untuk sekedar makan malam bersama," ucapku dengan nada santai.
Daniel pun menghela napasnya perlahan.
"Baiklah, gue akan datang ke rumah di jam makan malam nanti. Tolong sampaikan maaf gue sama ibu. Dan satu lagix tolong sampaikan kepada beliau untuk memasakkan makanan kesukaan gue," ucapnya sambil meringis.
Aku pun hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Oke! Ingat, jangan sampai terlambat dan membuat ibu kecewa lagi!" tegasku dengan sedikit menekannya.
__ADS_1
"Iya, iya. Lo tenang aja! Gue pasti on time saat jam makan malam nanti. Kita lanjutkan nanti, gue mau siap-siap dulu bro," ucapnya, lalu mematikan sambungan video secara sepihak.
Memang itu sudah menjadi hal biasa bagi kami.
Tapi aku mulai penasaran dengan gelagat aneh Daniel tadi, aku jadi ingin mengirimkan seseorang untuk mengintainya.
Aku pun langsung menggulirkan layar ponselku di aplikasi hijau. Aku pun segera menekan tombol call untuk melakukan panggilan suara dengannya.
"Halo, saya mau kamu ikuti Reno kemanapun dia pergi hari ini! Tapi ingat jangan sampai membuatnya curiga dengan gerak-gerik kamu. Apa kamu paham!'' titahku dengan nada tegas.
"Baik pak. Akan saya lakukan sesuai keinginan Anda," jawabnya dari seberang panggilan.
"Bagus!" Lalu aku pun langsung memutuskan panggilan suara kami.
Lalu aku beralih ke berkas-berkas hasil penyelidikan, yang di lakukan oleh Reno kemarin.
Ku buka perlahan, lalu pahami dengan seksama.
"Mengapa ada ya seorang ibu yang sangat membenci anak kandungnya? Padahal jelas-jelas anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Tapi kenapa aku jadi begitu peduli dengan gadis ceroboh itu?" gumamku.
Kemudian aku pun menepis pikiranku, mana mungkin aku menyukai gadis sepertinya. Bahkan yang lebih darinya sudah sangat mengantri untuk mendapatkan perhatian dariku.
Tapi ini, hanya gadis dari desa yang bekerja di perusahaanku, dan hanya sebagai seorang office girl!
Ah, mungkin otakku sudah tidak berfungsi dengan baik. Tapi tunggu! Aku jadi teringat dengan ciuman pertamanya yang ku ambil secara paksa itu.
Aku jadi memiliki rencana agar dia menyetujui tentang pernikahan kontrak yang aku ajukan padanya.
_________###________###______
POV Daniel
Cafe Diamond
__ADS_1
Saat ini aku sedang menunggu seseorang, yang semalam aku berikan tugas untuk menyelidiki gadis yang ku lihat di warung pinggir jalan itu.
Tak berselang lama, kini dia pun datang dengan pakaian serba tertutup untuk menjaga identitasnya.
"Gimana? Apa benar gadis yang saya maksud, sama dengan gadis yang bernama Andini Amalia yang saya selidiki kemarin?" tanyaku pada orang itu.
"Benar Pak! Dia adalah gadis yang sama dengan yang Pak Daniel katakan semalam. Saya sudah mendapatkan alamatnya, dia tinggal dengan temannya yang berasal dari desa yang sama," jelasnya.
Aku pun menganggukkan kepalaku. Dia pun menyodorkan sebuah map yang berisi beberapa informasi tentang gadis itu, dan ini ku lakukan tanpa sepengetahuan Devan. Aku tak mau dia salah paham padaku.
Aku hanya penasaran dengan gadis itu, gadis yang berasal dari desa yang mampu memikat hati seorang Devan.
Sangat menarik!
"Oke! Terimakasih informasinya, saya sangat puas dengan cara kerja Anda. Ini bonus untuk Anda, dan ingat simpan rapat-rapat informasi ini, jangan sampai Revandra tau!'' tegasku.
"Baik Pak. Pak Daniel tenang saja, rahasia ini di jamin keamanannya. Dan saya ucapkan terimakasih atas kepercayaan Pak Daniel atas pekerjaan saya," ucapnya.
Lalu kami pun berdiri dan saling menjabat tangan sebagai tanda kerjasama telah selesai. Setelah kepergian orang itu. Aku pun masih santai di tempat dudukku sambil menikmati cappucino yang aku pesan tadi.
"Devan, Devan. apa istimewanya gadis itu? Aku benar-benar penasaran, apa sebenarnya tujuanmu mendekatinya. Apa kau sudah menaruh hati pada gadis itu atau hanya sekedar rasa penasaran saja sepertiku saat ini?" gumamku.
Tak terasa hari sudah mulai gelap, ku putuskan untuk ke rumah Revan sesuai dengan janjiku. Aku tak ingin membuat ibu kecewa kembali, karena ketidakhadiranku saat acara makan malam dengan keluarga besarnya.
Ku lajukan mobil dengan kecepatan sedang, jarak antara cafe dan rumah Revan hanya sekitar 30 menit saja. Jadi aku tidak terlalu terburu-buru saat ini.
Seperti biasa, alunan musik menjadi temanku saat di jalan. Saat ku tengok ke arah samping, tanpa sengaja aku melihat gadis itu lagi. Akan tetapi saat ini dia tidak sendiri, dia bersama dengan seorang gadis. Mungkin dia teman Andin, yang di maksud oleh orang suruhanku tadi.
Tapi, kenapa dia terlihat sangat menggemaskan. Oh Tuhan,dia manis sekali.
"Tunggu, tunggu. Kenapa aku jadi terpesona dengan temannya Andini? Ada apa denganku? Apa aku sama seperti Devan, menyukai seorang gadis desa?" gumamku.
Kini dua gadis itu pun menghilang dari pandangan ku.
__ADS_1
Aku jadi penasaran dengan gadis itu, siapa dia sebenarnya? Aku harus segera mencari taunya. Aku tak mau mati penasaran karena gadis itu.
BERSAMBUNG......