
Saat aku melihat sosok pak Devano yang terlihat sangat dingin, kini aku melihat sosok lain dari dalam dirinya. Begitu sangat menakutkan saat melihat amarahnya, bagai bom waktu yang sudah saatnya meledak dan menghancurkan.
Aku pun di buat tercengang oleh pak Devano, terkadang aku juga bingung dengan kepribadiannya itu. Kenapa dia seperti memiliki banyak kepribadian.
Ah, entahlah, yang jelas setelah dia mengatakan bahwa akan keluar untuk menyelesaikan urusannya, aku sedikit menjadi kepikiran padanya.
Dalam hati, aku begitu sangat takut jika terjadi apa-apa dengannya. Jujur saja, kini perasaanku padanya justru semakin dalam.
Inilah yang aku takutkan nanti, jika masa pernikahan kontrak kami berakhir, aku akan merasakan luka kembali dalam hatiku.
"Siapa wanita itu? Kenapa pak Devano bisa semarah itu padanya? Ah, aku harus segera mencari informasi tentang wanita yang baru saja datang kemari!" gumamku.
Lalu aku pun melanjutkan pekerjaanku, agar cepat terselesaikan. Aku ingin segera keluar untuk menanyakan kepada seniorku.
Setelah pekerjaan selesai, aku pun bergegas untuk ke pantry. Sekedar untuk menemui salah satu senior di sini.
"Hai kak Dewi?" sapaku.
"Eh, hai juga Andini," sahutnya sambil tersenyum.
"Kak Dewi sedang apa? Apakah sedang sibuk?" tanyaku dengan seulas senyum.
"Sedang istirahat sebentar ini, ada apa Ndin? Ada yang bisa aku bantu?" tanya kak Dewi penasaran.
"Emn, ini kak, ada yang ingin aku tanyakan pada kak Dewi, tapi rahasia ya?" terangku dengan lirih.
Kak Dewi pun terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, ada apa?" tanyanya lagi.
"Emm, jadi begini Kak, tadi di ruangan pak Devan tiba-tiba datang seorang wanita. Akan tetapi, pak Devano justru marah-marah dan langsung mengusirnya," ucapku sambil menyandarkan punggungku ke dinding.
"Lalu?" tanyanya dengan rasa penasarannya.
"Ya, wanita itu sebelum pergi memohon-mohon kepada pak Devano, tapi dia tidak menggubrisnya sama sekali," lanjutku.
"Apa kamu sempat mendengar pak Devano mengucapkan namanya?" tanya kak Dewi lagi.
"Emm, seperti iya. Kalau tidak salah namanya Vania, Kak," jawabku dengan nada santai.
"Oh, ternyata dia," ujarnya dengan santai.
"Maksud Kak Dewi?" Kini aku yang kembali di buat penasaran olehnya.
"Wanita itu hanya masa lalu pak Devano, wanita itu mengkhianati cinta pak Devano.nBahkan berani bermain belakang dengan rekan kerjanya sendiri," jelas kak Dewi dengan santainya.
"Oh, jadi begitu. Pantas saja jika pak Devano sampai mengamuk seperti tadi," ucapku sambil menatap kak Dewi.
"Memang tadi mereka sempat berdebat juga?" yanya kak Dewi.
__ADS_1
Aku pun menganggukkan kepalaku.
"Iya Kak," jawabku singkat.
"Ya pantas saja sih jika pak Devano menjadi murka, cinta tulusnya di khianati. Apa kau tau, bahkan sebelum kejadian, pak Devano sudah menyiapkan acara kejutan untuk melamar wanita itu. Akan tetapi semua hanya menjadi sia-sia. Kasian pak Devano. Jika saja aku bisa menggantikan posisi wanita itu, maka dengan senang hati aku akan melakukannya," ucap kak Dewi dengan mengerjap-erjapkan matanya.
Aku yang melihat tingkahnya, kini hanya memutar mata malas. Tidak tau saja bagaimana seorang Devano Wicaksana sebenarnya.
Orang yang dingin, mesum, dan sangat menyebalkan. Tapi kenapa aku bisa mencintai laki-laki sepertinya. Ah, entahlah! Hanya Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati manusia.
"Ya sudah Kak, aku mau kembali bekerja dulu, sampai nanti kak Dewi," ucapku yang ingin berlalu.
Tapi kini terdengar suara kak Dewi yang menahanku.
"Andin, tunggu!" panggilnya.
Aku pun menoleh kembali ke arah kak Dewi.
"Iya Kak, ada apa?" tanyaku dengan nada santai.
"Emm,, aku hanya mau menanyakan, bagaimana rasanya bekerja dengan pak Devano? Apa dia bersikap baik padamu? Apa dia juga perhatian?" tanyanya tanpa jeda.
Aku pun menghela nafas panjang.
"Rasanya biasa saja kok Kak, dia orangnya baik seperti pada umumnya. Memang ada apa, Kak?" tanyaku penasaran, kini gelagat kak Dewi mulai mencurigakan.
Aku pun menganggukkan kepala, tanda menyetujui.
"Jadi begini, sebenarnya aku sudah lama jatuh cinta padanya. Akan tetapi, aku juga sadar diri, siapa aku jika ingin bersanding dengannya. Maka dari itu, aku memilih untuk memendam perasaanku padanya, meskipun akan terasa berat jika nanti aku melihatnya bersanding dengan wanita lain," ucapnya sendu.
Saat mendengar pernyataan kak Dewi, aku menjadi tidak enak hati sendiri. Bahkan seminggu lagi, aku yang akan bersanding dengan pujaan hatinya.
Tapi aku harus bagaimana, jika membatalkan surat perjanjian itu, pasti pak Devano akan menuntutku.
Ingin berkata jujur pada kak Dewi pun aku juga tidak bisa. Karena dalam perjanjian, tidak boleh saling membocorkan rahasia kontrak itu.
Sekarang aku menjadi dilema karena kak Dewi. Jujur saja, melihatnya seperti ini sungguh membuatku merasa sangat bersalah padanya. Lalu ku peluk kak Dewi, untuk sedikit menenangkan hatinya yang sedang galau.
'Maafkan aku kak Dewi. Aku tak bermaksud ingin menyakitimu,' ucapku dalam hati.
"Maaf ya Ndin, aku jadi curhat begini ke kamu. Tapi kamu janji ya jangan bilang ke siapapun!'' pintanya.
"Iya Kak, Kak Dewi tenang saja. Semua di jamin aman," jawabku dengan seulas senyum.
"Ya sudah, sekarang kita kembali lagi bekerja ya? Tidak enak juga dengan yang lain," tuturnya dengan senyum yang di paksakan.
"Iya Kak, sampai bertemu lagi." Ku lambaikan tangan padanya, dan aku bergegas untuk kembali ke ruangan pak Devano.
Kini hatiku benar-benar dilema karena mendengar semua curahan hati kak Dewi. Sungguh aku tidak ada niat sedikitpun untuk membuatnya kecewa nanti.
__ADS_1
'Maafkan aku kak Dewi. Maaf," gumamku lirih pada diriku sendiri.
Kini aku sudah tiba kembali di ruangan pak Devan, semua pekerjaan ku telah selesai, dan aku hanya menunggunya kembali.
"Apa aku harus diam saja seperti ini? Bosan sekali rasanya jika tidak melakukan sesuatu," gumamku.
Aku pun berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan kerja pak Devano, ku perhatikan setiap pernak-pernik yang selalu tertata rapi, dan kini aku beralih ke arah bingkai foto yang terpajang di sebelah meja kerjanya.
Ku ambil bingkai itu, lalu ku pandangi foto itu dengan seksama.
"Tampan, tapi menyebalkan!" Gumamku.
"Ehhm!''
Aku pun terkejut karena suara deheman yang berasal dari belakang ku. Dan tanpa sengaja bingkai foto pun terjatuh, dan kini kacanya pecah dan berserakan di lantai.
Aku pun bergegas untuk membersihkan pecahan kaca tersebut, tapi karena tidak hati-hati kini tanganku terkena serpihan kaca.
"Aww!" Rmrintihku
Lalu pak Devano pun menarik pergelangan tanganku, lalu menghisap darah yang mengalir dari salah satu jariku, dengan mulutnya tanpa merasa jijik sedikitpun.
Aku yang melihat reaksi pria itu pun hanya melongo.
Saat aku menatap ke arahnya, kini dia pun kembali menatap tajam ke arahku. Aku pun segera menyadari, lalu memalingkan wajahku darinya.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja memecahkan bingkai foto itu,'' sesalku.
Kini dia pun memegang daguku.
"Biasakan jika berbicara dengan seseorang, jangan memalingkan pandangan, tapi tatap matanya," ucapnya dengan seulas senyum tipis.
"Biarkan saja, biarkan nanti saya yang membereskannya. Saya tidak ingin kau terluka kembali. Sekarang duduklah di sofa," ucapnya dengan nada lembut.
Aku yang mendengarnya, kini seperti terhipnotis oleh ucapannya. Aku pun mengikuti arahan darinya, kemudian duduk di sofa.
Kini pak Devano dengan hati-hati membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Aku pun hanya terpaku melihatnya, seperti mimpi bagiku, melihat sikapnya yang begitu lembut.
"Ini minumlah dulu.''
Kini lamunanku pun buyar, oleh kedatangan tiba-tiba pak Devano di sampingku.
Sejak kapan dia di sana? Kenapa aku tidak melihatnya berjalan ke sini? Ah, aku seperti sudah tidak waras karena perubahan tiba-tiba Pak Devano.
Lalu ku ambil gelas itu dari tangannya. "Terimakasih Pak," ucapku dengan seulas senyum.
BERSAMBUNG......
__ADS_1