Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Bab 73


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, kini kesehatan Andini sudah mulai membaik. Devan pun menjadi lebih sabar dan telaten dalam menghadapi sikap Andini yang belum stabil.


Dengan kesungguhan hati, Devan selalu merawat istrinya dengan sepenuh hati. Meskipun beberapa kali Andini melakukan penolakan dengan kehadirannya.


"Van, apa kita perlu membawa Andini ke psikolog?" tanya Rahma, saat sedang duduk bersama di ruang Keluarga.


Devan pun hanya menggeleng kecil, karena sementara waktu dia ingin melihat bagaimana perkembangan Andini hanya dengan usaha dan kesabaran yang dia miliki.


Semua itu dia lakukan kepada Andini, bukan karena dia perhitungan. Tetapi dia hanya ingin menunjukkan jika cinta dan kasih sayangnya bisa membuat Andini pulih kembali seperti sedia kala.


"Devan yakin, Ma. Jika Andini akan sehat kembali seperti dulu, dengan kehadiran dan ketulusan hati kita. Karena yang dia butuhkan saat ini hanyalah sebuah dukungan dari orang-orang disekitarnya, yang selalu mensupport dan memberikan kasih sayangnya dengan tulus." ujar Devan dengan seulas senyum.


"Baiklah. Mama percaya, jika kamu pasti bisa membuat Andini kembali seperti semula. Dan kamu juga harus ingat! Jika Arvin sangat membutuhkan sosok figur seorang ibu dan kasih sayang darinya. Mama memang sengaja menekankan semuanya kepadamu, Van. Mama hanya ingin melihat putra dan menantu Mama hidup bahagia tanpa siapapun yang mengusiknya." tutur Rahma dengan penuh harap.


Devan pun kini duduk bersimpuh di depan Mamanya. Dia melakukan hal itu, agar Rahma percaya dan memberikan dukungan atas keputusan yang telah dia ambil.

__ADS_1


Sebagai seorang suami sekaligus kepala keluarga, Devan harus mengambil keputusan untuk kebaikan istrinya. Di pun juga percaya, jika keluarga kecilnya akan kembali utuh dan bahagia tanpa gangguan dari orang-orang yang ingin menghancurkan rumah tangganya.


"Terimakasih, Ma. Hanya Mama yang selalu ada untuk Devan, bahkan hanya Mama yang selalu mendukung semua keputusan yang Devan ambil. Terimakasih, Ma. Devan sangat menyayangi Mama. I Love you?!" ujar Devan sambil menciumi punggung tangan Mamanya.


"Iya, Sayang. Mama percaya dengan keputusan mu, karena Mama yakin jika kamu akan bertanggungjawab atas semua yang terjadi nanti. Semua ini Mama lakukan untuk putra kesayangan Mama. I Love you more, Son." ucap Rahma dengan penuh kasih sayang.


Sepasang mata kini melihat dari balik pintu yang sedikit terbuka, dia kini merasa haru dengan kegigihan orang yang selalu membuatnya kecewa.


Ya, orang itu adalah Andini. Dia memang sengaja ingin menguji kesabaran suaminya beberapa hari ini, setelah dia mulai tersadar kembali saat putra tercintanya datang bersama dengan Ayahnya.


Semua itu dia lakukan karena rasa kecewa yang ditorehkan oleh suaminya untuk kesekian kalinya. Hati siapa yang tidak sakit dan kecewa, saat suaminya dijebak oleh mantan kekasih yang masih memiliki obsesi yang sangat besar.


Tap... Tap... Tap...


Setelah beberapa saat termenung di balik pintu, akhirnya Andini memilih untuk diam di tempat, tanpa berniat untuk kembali ke ranjangnya.

__ADS_1


Saat ini yang paling ingin dia lakukan adalah memeluk erat suaminya, yang beberapa hari ini sudah dia rindukan setelah pertengkaran hebat itu.


"Lho, pintunya kok kebuka, Ma? Apa tadi Mama lupa menutup pintunya?" tanya Devan kepada Mamanya.


Rahma yang hanya melirik ke arah balik pintu, kini sedikit mengulum senyum saat pandangannya bertemu dengan menantu kesayangannya.


"Ti-tidak, Van. Bukankah terakhir kali yang datang ke kamar Andini adalah kamu?" tanya Rahma sambil menautkan kedua alisnya.


"Masa sih? Kok Devan jadi pelupa gini ya, Ma?" tanya Devan sambil terkekeh dan menggaruk tekuk lehernya yang sama sekali tidak gatal.


Devan yang penasaran dengan keadaan istrinya, kini langsung membuka pintu kamar itu dengan sangat perlahan dan hati-hati.


"Sa-sayang?"


Grap!

__ADS_1


Dengan cepat Andini langsung memeluk tubuh yang sangat dia rindukan itu. Andini pun langsung membuang jauh-jauh rasa egoisnya.


"Sayang?"


__ADS_2