Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Malam Yang Dinantikan


__ADS_3

Setelah acara resepsi selesai, akhirnya kami pun bisa beristirahat di kamar hotel ini.


Karena Kak Devan memang membooking 2 kamar VVIP untuk kami. Satu untukku dan Kak Devan, dan yang satu untuk Ibu, Mama dan Nenek.


Sebenarnya bukannya tidak ingin memesan mereka kamar sendiri-sendiri, tetapi karena permintaan mereka yang ingin tidur bersama dan tidak merasa kesepian nanti.


"Mama ingin satu kamar dengan Shintya dan Ibunya. Mama tidak ingin kesepian sendiri nanti!" pinta Mama saat itu.


"Baiklah, Ibunda. Sesuai dengan titah Ibunda!" jawab Kak Devan sambil bersimpuh layaknya pangeran yang sedang menghadap sang permaisuri.


Ah, terlihat sangat manis sekali.


Aku yang melihat tingkah antara Ibu dan Anak itu terkadang merasa iri. Karena meskipun hanya berdua, akan tetapi mereka saling melengkapi dan menyempurnakan.


Saat berada di kamar hotel, aku pun segera meminta izin kepada Kak Devan untuk membersihkan diri dahulu. Karena rasanya tubuhku sangat lelah dan terasa lengket, jadi aku hanya ingin sekedar berendam sebentar untuk merilekskan otot-otot ku yang sempat menegang dan kaku.


"Kak?" panggilku.


"Hem, iya Sayang?" sahutnya sambil berjalan ke arahku.


Kini Kak Devan ikut duduk di tepi ranjang, tetap di samping ku.


"Bolehkah aku mandi terlebih dahulu? Aku ingin menyegarkan tubuhku sambil berendam sebentar menggunakan air hangat. Bolehkan?" tanyaku sambil tersenyum tipis.


"Tentu saja boleh, Sayang. Lakukanlah sesukamu, tetapi ingat! Jangan lama-lama ya? Ini sudah larut malam, nanti kamu kedinginan." ucap Kak Devan dengan suara lembutnya.


"Iya, Kak. Tidak akan lama kok. Hanya sebentar saja." ucapku dengan senyum yang semakin mengembang.


"Apa perlu kita mandi bersama? Agar aku bisa ikut membantu mu untuk mandi?" tanya Kak Devan sambil mengerlingkan satu matanya.


"Tidak! Aku ingin mandi sendiri, Kak! Jangan ngadi-ngadi ya? Aku tau, pikiran mesum Kak Devan sekarang. Dasar CEO mesum!" seruku sambil sedikit berlari menuju ke kamar mandi.


Kini Kak Devan pun terkekeh saat melihat tingkahku.


"Hahaha ... baiklah. Pelan-pelan saja, Sayang! Nanti kalau kamu sampai terjatuh, aku akan menggendongmu masuk ke dalam kamar mandi dan kita akan mandi bersama," ucapnya sambil terkekeh.


Aku yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi, kini mengerucutkan bibirku.


"Dasar suami mesum! Ah, semoga saja malam ini dia tidak meminta haknya. Aku takut jika dia mengeluarkan jurus andalannya. Ah, tidak tidak!"


Aku pun segera menepis jauh-jauh pikiran ku tentang Kak Devan. Karena saat ini aku ingin memanjakan diriku terlebih dahulu, urusan dengan Kak Devan akan kupikirkan nanti.


Kini aku pun membuka gaunku dengan hati-hati, tetapi aku sedikit merasa kesulitan untuk meraih kancing di bagian belakang.

__ADS_1


"Ih, susah sekali sih! Bagaimana aku bisa mandi? Jika gaunnya saja sangat sulit untuk aku buka, masa iya aku berendam dengan menggunakan gaun yang sedikit berat ini?" gerutuku saat sedang berusaha meraih kancing belakang gaunku.


"Duh, benar-benar sangat sulit. Apa aku meminta tolong kepada Kak Devan saja ya? Ah, tidak tidak! Nanti dia pasti akan mencuri kesempatan untuk bisa menjamah ku malam ini. Tetapi jika aku tidak meminta tolong kepadanya, lalu kepada siapa lagi? Masa iya aku harus ke kamar Ibu, Mama dan Nenek. Apa yang akan mereka pikirkan nanti, sedangkan di dalam kamar ada Kak Devan yang bisa membantuku. Ah, bagaimana ini?" gerutuku lagi sambil mondar-mandir di belakang pintu kamar mandi.


Jadi aku pun terpaksa harus keluar untuk meminta bantuan Kak Devan, agar dia mau membantuku membukakan kancing bagian belakang gaunku.


Kini kepalaku menyembul terlebih dahulu untuk melihat dimana Kak Devan berada.


Dan saat ku lihat, ternyata dia sedang asyik dengan ponselnya.


"Ish! Istrinya sedang kesusahan, dia malah senyum-senyum sendiri dengan ponselnya. Apa-apaan ini!" gerutuku.


Lalu aku pun berjalan ke arah Kak Devan, sambil melipat kedua tanganku di depan dada dan sedikit menghentakkan kakiku, saat berjalan ke arahnya.


"Kak?" panggilku.


"Eh, Sayang! Lho katanya mau mandi? Mengapa masih memakai gaun ini?" tanyanya sambil menatapku dari atas sampai bawah.


"Emn, aku ingin meminta bantuan Kak Devan!" ucapku dengan nada sedikit ketus.


Lalu Kak Devan pun mengernyit dahinya saat melihatku.


"Meminta bantuan apa, Sayang? Apakah seperti ini caramu meminta bantuan kepada suamimu?" tanya Kak Devan dengan sedikit menggoda ku.


"Lalu bagaimana? Apa aku harus berdiri di sini terus Kakak? Yang saat ini sedang keasyikan bermain ponsel sambil senyum-senyum sendiri?" ucapku sambil menekan-nekan kata "keasyikan" kepadanya.


Kemudian Kak Devan pun bangkit dari ranjangnya, lalu berjalan mendekat ke arahku.


Aku yang melihatnya hanya berdiam diri sambil menatap tajam ke arahnya.


Akan tetapi secara tiba-tiba, Kak Devan menarikku ke dalam pelukannya. Kemudian dia membisikkan sesuatu kepadaku.


"Apa kamu sedang cemburu, Sayang?" bisiknya tepat di samping telingaku.


Kini tubuhku pun meremang, saat hembusan napas hangatnya menyusuri telinga hingga leherku.


"Tidak!" kilahku.


Aku pun mencoba untuk mendorong tubuh Kak Devan, dengan tenaga yang aku memiliki.


Akan tetapi, seperti biasa tenagaku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Kak Devan.


"Jangan mengelak, Sayang. Aku tau kamu sedang cemburu 'kan? Jangan menutupi apapun dariku! Karena aku sudah mengetahui semuanya, bahkan saat kamu diam-diam memiliki perasaan yang sama denganku." bisiknya lagi.

__ADS_1


Kini tubuhku pun menegang di tempat. Ah, bagaimana bisa dia mengetahuinya? Apa jangan-jangan selama ini dia mencari tau semua tentangku.


"Mengapa sekarang kamu diam? Benar bukan apa yang baru saja aku ucapkan?" bisiknya lagi.


Aku pun segera tersadar, lalu mencoba untuk memberontak kembali.


"Diamlah! Atau aku akan melakukannya sekarang juga di sini!" ancamnya sambil berbisik.


Aku yang mendengar ancamannya, kini langsung terdiam dan pasrah.


Akan tetapi saat aku diam, tiba-tiba bibir Kak Devan mulai menyusuri telinga dan leherku. Sehingga membuat ku geli dan merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah aku rasakan.


"Kak?" panggil ku dengan suara parau.


Kak Devan tidak menyahut panggilanku, kini dia pun semakin menjadi dan tangannya pun kini juga mulai ikut beraksi.


Aku yang merasakan sesuatu yang menjalar di sekujur tubuh, hanya bisa mengeluarkan deruan napas berat.


Kini aku pun seperti kehilangan kesadaran ku, saat bibir dan tangan Kak Devan mulai bergerilya menyusuri tubuhku.


Kini aku mendengar suara kancing bagian belakang ku di buka oleh Kak Devan.


"Emmhh... Jangan Ka-k!"


Kini suaramu seperti tercekat di tenggorokan.


Dan gejolak di dalam diriku kini mulai bangkit kembali, sehingga aku melupakan niat awalku menghampiri Kak Devan.


Kak Devan yang mendengar deru napasku yang semakin memburu, terus melancarkan aksinya.


Dan kini bibirku pun di bungkam menggunakan bibirnya.


Akhirnya aku pun terbuai dengan permainan panas yang dilakukan oleh Kak Devan saat ini.


"Eemmppht...."


Kami pun semakin memperdalam ciumaan bibir kami, dan aku sendiri semakin hilang kendali saat ini.


Pasrah?


Ya, itu yang saat ini aku rasakan. Saat suamiku mulai memberikan tatapan ingin meminta haknya untuk saat ini. Aku pun semakin memejamkan mataku dan mulai menikmati permainan suamiku.


'Ah, benar-benar sangat memabukkan.'

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2