Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Kau Tega Kak


__ADS_3

Hotel Hardon's 


Tap... Tap... Tap...


Kini langkah kakiku terdengar sangat keras, karena saat ini aku berjalan dengan sedikit berlari.


Setelah aku mendapatkan kunci dari sang resepsionis, kini aku pun menggenggam erat kunci tersebut sambil menyusuri lorong-lorong hotel tersebut.


Tak membutuhkan waktu lama, aku pun bergegas membuka pintu itu menggunakan kunci yang sudah aku bawa.


Tak ingin membuang waktu lagi, setelah pintu terbuka. Aku pun bergegas masuk ke dalam kamar tersebut. Aku segera berlari ke arah kamar yang tersedia di hotel tersebut.


Saat pintu kamar terbuka, kini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Jika suamiku sedang memeluk mesra wanita itu.


"KAK DEVAN!" pekikku dengan suara lantang, hingga suaraku menggema di seluruh kamar itu.


Dengan langkah kaki panjang, aku pun bergegas menghampiri Kak Devan dengan di ikuti oleh Siska dan Kak Daniel. Mereka pun juga sama terkejutnya saat melihat pemandangan di depan mata mereka sendiri.


Kini dengan sekuat tenaga, ku tarik lengan kekar Kak Devan hingga dia terjatuh ke lantai.


"Aawww!!" rintihnya.


Kemudian dengan wajah terkejut, dia pun langsung menatap ke arahku.


"Lho, Sayang! Kamu kok bisa di sini? Lho, Siska dan Daniel juga ikut?" tanyanya dengan nada santai, seperti tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan Sayang, Pak Devano yang terhormat!" ucapku dengan suara lantang, lalu perlahan aku pun berjalan mundur.


Kemudian Kak Devan pun terkejut, lalu dia bangkit dan berjalan perlahan menghampiri ku.


"STOP! JANGAN BERANI MENDEKAT KE ARAH SAYA! CUKUP SAYA MELIHAT DENGAN MATA KEPALA SAYA SENDIRI. JIKA SEMUA INI BENAR-BENAR NYATA BUKAN HANYA SEKEDAR MIMPI. SEMOGA ANDA MERASA PUAS KARENA TELAH BERHASIL MENGHANCURKAN SAYA, PAK DEVANO!" pekikku lagi dengan suara lantang yang menggema.


Kak Devan pun tertegun dan seperti kebingungan, saat mendengar ucapan ku.


"Apa yang kamu katakan, Sayang? Apa maksud dari semua ucapanmu itu?" tanya Kak Devan dengan suara lembutnya.


"OH, ANDA PINTAR BERSANDIWARA TERNYATA! PANTAS SAJA ANDA MENINGGALKAN SAYA DI RUMAH SENDIRI. JADI INI YANG ANDA LAKUKAN DI BELAKANG SAYA DENGAN WANITA MURAHAN ITU? HAH! APA ANDA SUDAH PUAS, HAH?!'' ucapku dengan suara yang bergetar, karena amarahku yang saat ini telah meledak. Aku pun menunjuk ke arah ranjang, tepat di belakang Kak Devan berdiri.


Saat mengikuti kemana arah telunjukku, kini Kak Devan pun merasa terkejut.


"APA! Bagaimana bisa Vania berada di kamar ini?" tanyanya dengan raut wajah yang terkejut.


Kemudian Kak Devan menarik dengan kasar lengan Vania. Lalu mendorong tubuhnya hingga terjungkal ke lantai.


"Aawww!! Sakit Sayang!" ucapnya dengan nada manjanya.


"CIH! DASAR WANITA ULAR! APA YANG KAMU LAKUKAN DI SINI? HAH! KAMU BENAR-BENAR WANITA GIL*, KAMU BENAR-BENAR SUDAH TIDAK WARAS!" hardik Kak Devan kepada Vania.

__ADS_1


Aku yang melihat sandiwara mereka kini hanya bertepuk tangan.


"Wah.. wah.. wah... Benar-benar sandiwara yang sempurna! Kalian yang meminta ku untuk datang kemari untuk melihat tingkah menjijikan kalian. Dan kalian pun langsung melakukan sandiwara ini. Wow! Benar-benar SEMPURNA!" ucapku sambil memberikan tepuk tangan kepada mereka.


Sedangkan Siska dan Kak Daniel hanya diam sambil melihatku yang sedang meluapkan semua amarahku.


"Sayang? Tolong dengarkan aku! Ini semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan! Percayalah kepadaku! Aku hanya di jebak oleh wanita ular itu. Tolong percayalah kepadaku, Sayang!" ucap Kak Devan dengan raut wajah sendu.


"Hah! Di jebak? Benarkah? Apa setelah Anda menikmati tubuhnya berulang-ulang, sekarang Anda mengatakan bahwa Anda di jebak? Wow! Benar-benar sangat sempurna sekali sandiwara yang telah Anda mainkan, Pak Devano!" ucapku sambil tersenyum kecut.


Dengan perlahan Kak Devan pun berjalan ke arahku, dan aku pun berjalan mundur untuk menghindarinya.


"Sayang? Tolong percayalah! Ini semua tidak seperti yang kamu lihat. Sungguh aku tidak pernah sedikitpun menyentuhnya!" jelas Kak Devan dengan suara paraunya.


"APA? SETELAH KAMU PUAS MENJAMAH TUBUHKU, KAMU MENGELAK NYA BEGITU SAJA. MANA JANJIMU YANG KAMU LONTARKAN KEPADAKU TADI, VAN! APAKAH SETELAH KAMU PUAS, KAMU MENCAMPAKKAN DIRIKU BEGITU SAJA?" ucap Vania yang mencoba membela dirinya.


"DIAM KAMU WANITA ULAR! APA BELUM PUAS KAMU MENGHANCURKAN HIDUPKU SEBELUMNYA? DAN SEKARANG KAMU INGIN MENGHANCURKANNYA KEMBALI. DASAR WANITA GIL* DAN LICIK! CUIH!" hardik Kak Devan sambil memberikan tatapan tajam kepada Elena.


"Oke! Baiklah! Silahkan kalian lanjutkan permainan panas kalian! Maaf, karena saya sudah mengganggu ketenangan kalian! Permisi!" ucapku sambil tersenyum kecut, kemudian aku pun bergegas untuk berlari keluar. Karena air mataku kini tidak mampu untuk ku bendung kembali.


"Sayang?" panggil Kak Devan.


"Bugh! Bugh! Bugh!"


"Dasar sial*n! Brengksek! Awalnya gue nggak percaya dengan pesan yang diterima oleh Andini. Tetapi sekarang gue percaya, karena gue melihat sendiri dengan mata kepala gue sendiri. Gue emang brengs*k dan bajing*n, Van! Tetapi di saat gue menemukan orang yang tepat, gue akan sepenuh hati akan menjaganya. Bukan seperti Lo! Yang tega menghancurkan gadis polos dan lugu itu dengan pengkhianatan Lo, setelah Lo mendapatkan semua yang Lo inginkan darinya. Semoga kamu puas melihat kehancuran Andini!" maki Kak Daniel setelah membuat wajah Kak Devan lebam, dan darah segar mengalir di sudut bibirnya.


Aku yang masih mendengar perdebatan mereka, kini aku memutuskan untuk berlari menjauh dari mereka, termasuk Siska.


"Andini!" panggil Siska dari kejauhan.


Aku pun tak menghiraukan panggilan Siska.


Dengan sekuat tenaga, kini aku berlari dengan kencang agar bisa segera menjauh dari mereka.


Akhirnya aku pun berhasil keluar dari hotel itu, lalu aku berlari tanpa henti dan tanpa tujuan. Entah kemana langkah kakiku akan membawa ku.


Akan tetapi, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pening dan....


Bugh!


Kini aku pun terjatuh dan tak sadarkan diri.


****


POV Daniel 


Setelah aku menyelesaikan urusan ku dengan memberikan pelajaran kepada Devan, kini aku dan Siska berlarian ke sana kemari untuk mencari keberadaan Shintya.

__ADS_1


"Yang? Gimana? Di angkat nggak?" tanyaku kepada Siska.


Lalu dengan suara isakan tangisnya, kini Siska pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Kak! Kak, aku takut kalau Andini kenapa-napa. Saat ini pikiran dan perasaannya sedang sangat kacau. Kita harus mencarinya kemana lagi, Kak? Aku takut! Aku benar-benar takut jika harus kehilangan sahabat terbaik ku. Hiks.. hiks.. hiks.." ucap Siska dengan suara paraunya.


Kemudian aku pun menarik tubuh Siska ke dalam pelukanku.


"Ssttt!! Tenanglah Sayang! Kita pasti akan segera menemukan Andini. Percayalah! Andini tidak akan kenapa-napa, karena dia adalah gadis yang kuat dan tangguh sama sepertimu." ucapku sambil menenangkan Siska dalam pelukanku.


"Sudah, Yang! Lebih baik sekarang kita lanjutkan pencarian kita. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya atau kita akan kesulitan untuk mencarinya." jelasku sambil melepaskan pelukan ku.


Dengan lemah, kini Siska menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, ayo! Kita cari ke arah kanan. Semoga saja tadi Andini berlari ke arah sana." ucapku dengan penuh harap.


Kami pun berjalan sambil menelisik ke seluruh penjuru, dan akhirnya kami pun sampai di sebuah kerumunan.


Tidak ingin membuang-buang waktu, kini kami pun ikut menyusup ke dalam kerumunan itu.


Saat tiba di pusat keramaian, kini mata kamu pun membulat sempurna.


"ANDI!''


Kami pun terpekik bersama, saat melihat Andini terkapar lemah di sebuah trotoar jalan di tepi jalan itu.


"Apa Anda mengenal gadis ini, Pak?" tanya salah satu Ibu-ibu yang berada di kerumunan itu.


"Iya, Pak. Dia sahabat Saya. Bolehkan Saya membawanya ke Rumah Sakit terdekat di sini? Sepertinya dia sangat kelelahan karena terlalu jauh berlari. Dia harus mendapatkan perawatan sesegera mungkin, Bu." jelasku kepada Ibu dan semua orang yang ada di kerumunan itu.


"Oh, tentu saja. Silahkan! Semoga tidak terjadi apa-apa dengan gadis itu. O, iya, kbolehkah Saya ikut dengan kalian?" tanya Ibu itu lagi.


Tidak ingin berpikir panjang lagi, aku pun langsung menganggukkan kepalaku.


"Tentu saja, Bu. Silahkan ikut dengan mobil kami!" pintaku kepada Ibu itu.


"Baiklah, terimakasih." ucapnya dengan raut wajah yang berbinar.


Aku pun langsung menggendong Andini, karena hanya aku di sini yang kuat untuk menggendongnya. Dan Siska pun sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Ayo, Kak! Cepatlah!" pinta Siska dengan suara paraunya.


"Iya, Sayang." jawabku singkat.


'Bertahanlah, Andini! Kamu pasti kuat!'


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2