
Tiga hari kemudian...
Setelah kondisi Ibu dan bayi itu sudah mulai stabil. Akhirnya Dokter Rebecca mengizinkannya untuk pulang. Tetapi setelah pulang, bukan berarti mereka mengabaikan kesehatan Ibu dan bayinya. Justru sebaliknya, mereka harus selalu siap siaga jika terjadi sesuatu sewaktu-waktu nanti. Dan mereka pun akan kembali satu Minggu lagi, untuk melakukan kontrol.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu pulang juga ke rumah ini, Sayang. Maafkan aku! Karena sudah mengecewakan mu, dan Terimakasih! Karena kamu telah melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kita." tutur Devano sambil menangkup kedua sisi wajah Andini.
Andini pun memaksakan seulas senyum di bibirnya. Saat memasuki rumah dan kamar itu, dia menjadi teringat kembali tentang rasa sakit yang sangat luar biasa.
"I-iya, Kak." jawab Andini dengan ragu-ragu.
Andini memang bukan tipikal orang yang mudah melupakan sesuatu yang pernah membuat hatinya patah, bahkan beberapa bulan pergi dari rumah itu. Kini sayatan luka itu kembali terbuka dan sangat terasa nyeri.
"Apa yang kamu pikirkan, Hem? Apa kamu ingin sesuatu, atau....."
Devano yang sedikit lebih peka, kini merasakan sesuatu hal yang membuat istrinya sendiri tidak nyaman. Bahkan, dia juga tau persis, bagaimana reaksi istrinya saat memasuki kamar mereka.
"Maaf! Maafkan aku, Sayang! Maaf, maaf dan maaf! Jika ada kata-kata yang bisa lebih mewakili dari kata-kata itu, maka aku akan mengatakannya. Maafkan aku! Karena dulu tidak mendengarkan ucapan ataupun firasatmu. Aku tau jika yang kamu rasakan saat itu adalah pertanda buruk untukku. Aku benar-benar minta maaf, Sayang! Dan aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku lagi! Karena jika hal itu terjadi kembali, maka aku akan benar-benar gila." ujar Devano sambil menciumi kedua tangan Andini secara bergantian.
Andini yang melihat sorot ketulusan dari ucapan Devano, kini sedikit demi sedikit mulai menurunkan egonya kembali. Dia pun juga menyadari, jika kepergiannya telah menyusahkan orang-orang disekitarnya.
Bahkan, saat melihat suaminya yang semakin kurus dan tak terawat. Membuatnya merasa lebih bersalah karena tindakannya yang sama sekali tidak memikirkan tentang bagaimana konsekuensinya nanti.
__ADS_1
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, dan semua itu juga tidak bisa diulang kembali. Keputusan untuk pergi meninggalkan suaminya pun membuat dia selalu memikirkan tentang pria yang telah memikat hatinya.
"Seharusnya aku yang meminta maaf kepada Kak Devan. Maaf karena aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kakak. Dan entahlah, apakah aku masih pantas untuk dikatakan sebagai seorang istri, setelah aku meninggalkan rumah ini dan suamiku sendiri hanya karena masalah itu." ucap Andini sambil membuang wajahnya.
Sejujurnya saat mengatakan hal itu, hatinya terasa sangat nyeri. Sehingga buliran bening yang sudah mengumpul di pelupuk matanya, kini sudah tidak bisa di bendung lagi.
Andini menggigit bibir bawahnya dengan kuat, dia berharap jika tangisnya tidak terdengar oleh suaminya. Hingga dia merasakan jika giginya menusuk ke bibirnya.
"Hey? Kenapa kamu tidak menatapku, Hem? Cobalah lihat mataku, Sayang! Apakah kamu melihat kebohongan di dalam sana? Apakah kamu belum mempercayai ku?" tanya Devano sambil meraih dagu istrinya dengan lembut.
Saat Devano melihat pipi mulus istrinya yang sudah basah oleh cairan bening itu, dan mendapati luka di bibir bagian bawah istrinya. Kini semakin membuat Devano tertegun, melihat sang istri menangis dalam diam.
Andini yang sejak tadi menundukkan kepalanya tanpa ingin bersitatap dengan Devano, hanya bisa terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Jangan menangisi badjingan seperti ku, Sayang! Karena air matamu sangat berharga untuk melakukan hal itu. Aku memang tidak pantas untuk mendapatkan kata maaf itu, meskipun aku sangat ingin kamu memaafkan ku, dan kembali membuka lembaran baru denganku." tutur Devano lagi.
Andini masih bergeming, dan masih enggan untuk mengatakan sesuatu hal yang masih terpendam di dalam hatinya saat ini. Keraguan yang sempat mengikis kepercayaan untuk suaminya, kini perlahan-lahan sirna.
Pada saat Devano dan Andini sedang mencairkan suasana dan ingin kembali merajut kebahagiaan baru mereka. Tiba-tiba sepasang suami-istri itu menangkap keriuhan dari ruang tamu.
Andini dan Devano yang merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi, kini langsung bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju ke arah sumber suara itu.
__ADS_1
Awalnya Devano melarang Andini untuk keluar dari dalam kamar, dan meminta istrinya untuk beristirahat saja. Tetapi Andini tetap kekeuh untuk melihat keributan yang terjadi di dalam rumah ini.
"Jangan pernah berpikir kami tidak tau, bagaimana kebusukan mu, wanita ular!" hardik Rahma.
"Tetapi ini benar-benar milik Devan, Tante. Dan aku memiliki bukti yang cukup kuat, jika Devan tidak mau mengakuinya." geram Vania.
Andini yang saat ini masih berada di samping Devano, seketika membatu di tempat. Dia sangat terkejut saat melihat perut mantan kekasih suaminya yang sudah membesar.
Devano yang tersulut emosi, kini langsung menghampiri Vania dan meninggalkan Andini yang masih membatu di tempat. Tanpa sedikitpun berniat untuk melangkahkan kakinya dari tempat itu.
PLAK!!
"JAGA BICARAMU, WANITA MURAHAAN! ASAL KAMU TAU, JIKA AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGAKUINYA SEBAGAI ANAKKU! KARENA ANAKKU HANYA LAHIR DARI RAHIM ISTRIKU TERCINTA, BUKAN DARI WANITA JALAANG SEPERTI MU!" hardik Devano setelah satu tamparan melayang di pipi mulus Vania.
"Hah?! Jadi kamu masih terus menyangkalnya, Van? Dan kamu tidak mau mengakuinya? Baiklah, aku akan membuktikan kebenaran yang sebenarnya demi depan semua orang yang berada di sini." gertak Vania sambil melemparkan selembar kertas berwarna putih yang berlogokan rumah sakit di kota itu.
Devan yang meremas lembaran itu, kemudian langsung melemparnya ke sembarang arah. Dan kertas itu jatuh tepat di depan Andini berada, dan dengan cepat Andini mengambil lembaran kertas yang sudah sangat kusut itu.
Andini yang melihat isi dari kertas itu, langsung menutup mulutnya dengan satu tangannya. Dia yang sudah mulai mempercayai setiap kata-kata yang terucap dari mulut suaminya, kini seakan lenyap dan terhempas oleh fakta itu.
"JANGAN PERNAH BERMIMPI, JIKA AKU AKAN MEMPERCAYAI KEBOHONGAN MU, WANITA ULAR! AKU SANGAT TAU, BAGAIMANA OBSESI DAN KEINGINAN MU UNTUK MENDAPATKAN KU KEMBALI. TETAPI APA YANG KAMU INGINKAN, AKU PASTIKAN TIDAK AKAN PERNAH MENDAPATKAN SEMUA KEINGINAN MU!"
__ADS_1
Devano yang sudah sangat tersulut emosi, kini langsung menarik pergelangan tangan Vania yang sudah hamil besar dengan kasar. Dia pun langsung menghempaskan tubuh Vania hingga tersungkur ke lantai, dan semua itu membuat Vania meringis menahan rasa sakitnya.
"HENTIKAN!"