
POV Andini
Satu bulan kemudian...
"Kak, besok yakin mau pergi keluar kota tanpa aku?" tanyaku dengan hati-hati.
Kak Devan yang baru saja mem-packing beberapa pakaian dan beberapa barang yang harus ia bawa, kini ia pun menoleh ke arahku sambil tersenyum.
Lalu Kak Devan pun berjalan ke arahku, untuk menghampiri ku.
"Sayang? Hanya dua hari saja kok. Aku hanya menginap satu malam saja di sana. Apalagi jaraknya juga tidak begitu jauh 'kan? Jadi kamu tetap di rumah dan menunggu ku pulang kembali. Do'akan sumaimu ini! Semoga pekerjaanku kali ini bisa segera terselesaikan, Sayang! Karena meeting kali ini benar-benar sangat penting. Kamu mengerti 'kan, Sayang?" jelas Kak Devan dengan suara lembutnya.
Aku yang sedang memiliki firasat yang tidak baik, kini hanya menganggukkan kepala dan memaksakan senyumanku di depannya.
"Kamu tenang saja, Sayang. Nanti aku datang bersama dengan sekretaris pribadiku, jadi aku tidak sendirian. Sudah ya? Jangan terlalu khawatir! Bukan aku tidak ingin mengajakmu, akan tetapi ini hanya perjalanan yang singkat saja, Sayang. Bahkan nanti aku akan sering melakukan pekerjaan di luar hotel, dan datang ke hotel kembali saat ingin beristirahat saja. Jadi aku tidak mau jika nanti kamu ikut, kamu akan merasa jenuh dan kesepian saat di hotel sendiri." jelasku lagi, sambil menangkup kedua pipinya.
Perlahan Kak Devan menyatukan kening kami, kemudian perlahan bibirnya melumaat lembut bibirku.
Ah, kebiasaan sekali memang! Pasti setiap kali aku ingin merajuk, jurus andalannya dia keluarkan. Sehingga sejenak mampu membuatku tenang dan melupakannya.
__ADS_1
Hingga akhirnya ciumaan itu pun berakhir di atas ranjang dengan pernainan beberapa Ronde, dan mendapatkan beberapa Ronde. Sehingga kami bisa tiba di puncak kenikmatan dan melakukan pelepasan secara bersama-sama.
Kami berharap setiap kali melakukan hubungan, ada benih yang tertanam dan berkembang di dalam rahimku. Karena Kak Devan tidak ingin menunda hadirnya malaikat kecil diantara kami.
Akhirnya Kak Devan pun terkulai lemas di sampingku, dan kami pun sama-sama menetralkan kembali napas kami yang tidak beraturan.
Seperti biasa ucapan terimakasih dan kecupan hangat di keningku tidak pernah ia lewatkan.
"Terimakasih, Sayang! Kamu semakin pintar sekarang ya? Semakin buas dan liar saja, istri mungilku ini." ucapnya sambil mengecup lembut keningku.
Aku pun langsung memukul pelan dada bidang Kak Devan, lalu menenggelamkan wajahku di dadanya.
"Kak?" panggilku lirih.
"Hem, iya Sayang?" sahutnya.
"Jangan macam-macam ya nanti di sana. Entah mengapa aku memiliki firasat yang tidak baik saat ini. Aku merasa cemas dan gelisah, Kak." ucapku dengan suara parau.
Perlahan Kak Devan melepaskan pelukan kami, lalu menangkup kedua pipiku.
__ADS_1
"Sayang, percayalah kepadaku! Selama ini juga tidak terjadi sesuatu 'kan? Kita hanya berpisah dua hari satu malam saja. Aku janji, setelah pekerjaan di sana selesai, aku akan segera pulang." ucapnya dengan penuh keyakinan.
Dengan ragu-ragu aku pun menganggukkan kepalaku dan memberikannya senyuman tipis.
"Sudah ya? Jangan terlalu dipikirkan! Semua kegelisahan mu saat ini, hanya bentuk ketakutan mu saat kita berada di jarak yang cukup jauh." jelas Kak Devan.
"Iya, Kak. Maafkan aku! Mungkin aku hanya takut saja, jika nanti di sana ada sesuatu yang akan terjadi. Sehingga membuat hubungan kita menjadi-" kini ucapan ku terpotong karena kecupan singkat Kak Devan.
"Ssttt!! Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sayang! Percayalah kepada suamimu ini, aku di sana hanya untuk bekerja saja. Bukan untuk mencari wanita dan kepuasan lain. Percayalah! Bagaimana bisa aku tertarik dengan wanita di luar sana, jika istri mungilku saja bisa memuaskan suaminya kapanpun aku menginginkannya." jelas Kak Devan dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Kak." jawabku singkat.
"Ya sudah, ayo kita tidur. Sudah malam, besok aku harus bangun dan berangkat pagi-pagi, Sayang." ucap Kak Devan lalu mengecup lembut keningku.
Aku pun hanya menganggukkan kepalaku, lalu menenggelamkan wajahku di dada bidangnya.
'Semoga saja, firasat ku ini tidak benar, Kak.'
BERSAMBUNG.....
__ADS_1