Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Menyebalkan


__ADS_3

POV Andini 


Hari ini Pak Devano dan Ibunya berkunjung kembali ke rumah. Dan ini untuk ke sekian kalinya aku terjebak kembali bersama dengan Pak Devano.


Saat Ibu, Nenek dan bu Rahma menyuruh kamu untuk berbicara empat mata di dalam kamarku. Kejadian yang tidak pernah ku duga pun hampir terjadi.


Seperti biasa saat pak Devano dekat denganku, pasti dia akan memberikan ci*man yang membuat gejolak di dalam tubuhku bangkit.


Akan tetapi kali ini dia hampir melewati batasannya. Perlahan tangannya mulai menyusup ke dalam kemeja yang aku pakai. Tetapi Alhamdulillah! Aku langsung tersadar dan menahan tangannya agar tidak melewati batas.


Naas! Kini kedua tanganku di cekal olehnya, lalu dia pun tidak melepaskanku lum*tannya dari bibirku.


Lama-kelamaan lum*tan itu, kembali membakar gejolak di dalam tubuhku. Perlahan aku rasakan cekalan itu mulai mengendur.


Kini terasa satu tangan Pak Devano kembali menyusup ke dalam kemeja yang aku kenakan.


"Eemppht ...."


Satu tangannya sudah berhasil meraih satu jelly  kenyalku. Tetapi aku buru-buru tersadar, bahwa semua ini salah. Kami tidak boleh melewati batasan kami, karena kami hanya melakukan perjanjian kontrak sementara. Jadi aku tidak boleh terlena oleh permainan dari Pak Devano.


Ku tahan lagi tangannya, lalu air mata ku pun kembali menetes dari sudut mataku. Dan akhirnya Pak Devano pun menyadarinya.


"Maafkan aku, Ndin! Aku hampir saja melewati batasanku. Aku berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi kepadamu! Kecuali nanti jika kamu benar-benar sudah jatuh cinta kepadaku, dan mau menerimaku dengan tulus. Aku akan menunggu waktu itu tiba! Sekarang pergi basuh wajahmu terlebih dahulu, lalu kita keluar setelahnya!" ucapnya sambil menangkup kedua pipiku.


Aku yang mendengar kata-kata ambigu yang baru saja dia lontarkan pun sedikit terkejut.


'Apa sebenarnya maksudnya ucapannya? Mengapa sangat terdengar ambigu?' gumamku dalam hati.


******


Setelah kami keluar dari kamar ku, dengan mataku yang sedikit terlihat sembab. Kini Tante Rahma dengan jelinya menatap ku dengan penuh selidik.


"Van,'' panggil Bu Rahma kepada Pak Devano dengan tatapan mata tajam.


"Hem, iya Ma," sahutnya.


Lalu tangan Bu Rahma pun menjewer telinga Pak Devano.

__ADS_1


"Duuhh, sakit Ma! Mama kenapa sih?" ucapnya sambil merintih kesakitan.


"Kamu apakan Andini, sehingga tadi dia menangis? Apa kamu berbuat yang tidak-tidak tadi di dalam sana, hah!?" tanya Bu Rahma dengan suara yang sedikit meninggi.


Aku yang melihat adegan yang dilakukan antara Ibu dan anak, hanya terperangah. Seorang Devano Wicaksana yang terkenal dingin dan arogan, kini dengan Ibunya terlihat lemah dan lucu sekali.


"Apaan sih, Ma! Tadi kan Mama sendiri yang menyuruh kami masuk ke dalam kamar!" kilah Pak Devano.


"Tetapi Mama tidak menyuruh kamu untuk membuat Andini menangis! Apa kamu menyakitinya tadi?" tanya Bu Rahma sambil menatap tajam ke arah Pak Devano.


Lalu beliau pun berbalik menatapku dengan tatapan sendunya.


"Maafkan putra Mama ya, Sayang! Apa yang tadi dia lakukan kepadamu? Apa dia tadi menyakiti mu? Apa kamu terluka olehnya? Apa dia melakukan hal yang melewati batasannya?" tanya Bu Rahma dengan memberondongiku dengan begitu banyak pertanyaan.


"Hah!" aku pun kembali terkejut dengan berbagai pertanyaan yang beliau ajukan.


"Apaan sih, Ma? Devan tidak menyakiti Andini kok.''


"Kamu diam! Mama sedang berbicara dengan Andini, bukan kamu!" bentak Bu Rahma sambil menatap tajam kembali ke arah Pak Devano.


"Katakan, Sayang! Apa yang terjadi tadi?" tanya Bu Rahma dengan suara lembutnya.


"Tadi tidak terjadi apa-apa kok, Bu. Hanya saja Pak Devano sedikit membuat cerita sedih, jadi saya terharu saat mendengarnya." bohongku yang tidak tega melihat Pak Devano yang memasang wajah memelas.


"Jangan berbohong, Sayang! Alasanmu sama sekali tidak masuk akal." sangkal Bu Rahma dengan suara lembutnya.


"Van! Katakan sama Mama! Apa yang tadi kamu lakukan kepada Andini?" tanya Bu Rahma kepada Pak Devano dengan penuh penekanan.


"Oke, oke! Lepaskan dulu tangan Mama dari telinga Devan. Agar Devan bisa menceritakan semuanya dengan jujur kepada kalian." pinta Pak Devano kepada Bu Rahma.


Dengan cepat Bu Rahma melepaskan jewerannya. Dan saat aku melihat telinga Pak Devano, terlihat sangat merah. Uh! Pasti tadi sakit sekali.


"Oke! Devan akan cerita. Tetapi kalian jangan menyerang ku saat aku menceritakan semuanya!" pinta Pak Devano lagi.


"Baik!" seru mereka bersamaan, aku sendiri hanya terdiam sambil menunggu cerita Pak Devano.


Aku takut jika Pak Devano jujur kepada mereka, apa yang baru saja dia lakukan kepada ku.

__ADS_1


"Sebelumnya Devan mau jika pernikahan kami di gelar besok pagi! Resepsi tetap di lakukan seminggu lagi, tetapi Devan ingin ijab qobul dilaksanakan besok pagi!" pinta Pak Devano.


Kami yang mendengar permintaan Pak Devano pun sangat terkejut.


"Hah!" Aku pun terperangah dan tidak kalah terkejutnya.


"Van! Apa kamu sudah tidak waras? Besok? Mengapa dadakan seperti ini? Apa jangan-jangan kalian tadi ..." tanya Bu Rahma penuh selidik.


Aku pun menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Iya, Ma. Tadi aku hampir saja khilaf, saat berdua dengan Andini di dalam kamarnya. Jujur saja, saat berada di dekat Andini aku sangat sulit untuk menahan diriku sendiri. Setiap dekat dengannya, seperti ada aliran magnet yang terus menerus menarikku. Jadi sebelum aku bertindak melewati batasan ku, aku mau ijab qobul dilaksanakan besok!" jelas Pak Devano sehingga membuat kamu semua terkejut.


"Apa?!" tanya mereka serentak.


"Apa kamu sudah melakukannya kepada putriku, Nak?" tanya Ibu kepada Pak Devano.


Nenek hanya terdiam sejak tadi, dan hanya menyimak setiap ucapan yang beliau dengar.


"Tidak Bu! Kami belum melakukannya, karena Andini selalu menolaknya. Dan saya pun sadar bahwa yang saya lakukan ini sangat salah. Saya minta maaf, karena saya sulit untuk menahannya!" ucap Pak Devano dengan tulus.


Kini aku pun mendengar helaan napas berat Ibu.


"Jika seperti itu, baiklah acara ijab qobul akan dilaksanakan besok di rumah ini. Akan tetapi hanya acara sederhana saja, karena ini sangat mendadak sekali. Sedangkan kami belum ada persiapan untuk saat ini," ucap Ibu dengan suara paraunya.


"Shin, apa kamu yakin? Ini terlalu mendadak lho. Maafkan aku, Shin! Karena aku gagal mendidik putraku sendiri, sehingga sekarang dia menjadi sedikit liar!" ucap Bu Rahma sambil melirik ke arah Pak Devano.


"Tidak apa-apa. Ini semua juga kesalahan kita. Karena kita yang menyuruh mereka untuk berbicara berdua di tempat yang tertutup." ucap Ibu sambil tersenyum kecut.


"Sekali lagi aku meminta maaf kepada kalian!" ucap Bu Rahma sambil memegang kedua tangan Ibu.


"Sudahlah, semua sudah terjadi! Sekarang kita lakukan persiapan sesegera mungkin, agar besok pagi semua siap tanpa ada hambatan sedikit pun." ucap Nenek dengan suara paraunya.


"Hah!"


'Menyebalkan!'


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2