
POV Devano
Saat melihat Andini berlari memasuki kamar mandi, aku pun menatapnya dengan seingai licikku.
"Kita lihat saja, Sayang! Kamu pasti akan keluar dan meminta bantuanku." gumamku dengan percaya diri.
Lalu aku pun langsung menyandarkan tubuhku di sisi ranjang. Aku sangat merasa lelah sekali saat ini, setelah melangsungkan resepsi pernikahan kami. Sehingga menguras tenaga ku yang harus menemui para rekan dan sahabat-sahabatku, termasuk Daniel.
Sudah lama sekali aku tidak bersua dengannya karena kami memang sangat sibuk karena pekerjaan masing-masing, akan tetapi di tengah kesibukannya dia masih meluangkan waktunya untuk hadir di resepsi pernikahan kami.
Kami pun sedikit berbincang-bincang sambil mengenalkan istriku kepadanya. Sebenarnya dia juga sedikit terkejut dengan pernikahan dadakan kamu, akan tetapi dia pun langsung memakluminya karena dia sudah tau betul bagaimana aku.
**
Sesuai dengan dugaanku, pasti Andini akan kembali keluar untuk meminta bantuanku.
Dia pun melangkah ke arahku, sambil menggerutu.
Akan tetapi aku pura-pura memainkan ponselku, sambil berpura-pura tersenyum. Karena aku juga ingin melihat reaksinya sepertinya apa, saat melihatku yang sedang asyik memainkan ponselku.
"Kak?" panggilnya.
"Eh, Sayang! Lho katanya mau mandi? Mengapa masih memakai gaun ini?" tanyaku sambil berpura-pura menatapnya dari atas sampai bawah.
"Emn, aku ingin meminta bantuan Kak Devan!" ucapnya dengan nada ketus.
Lalu aku pun mengernyit dahi, saat mendengar nada suaranya yang ketus.
"Meminta bantuan apa, Sayang? Apakah seperti ini caramu meminta bantuan kepada suamimu?" tanyaku dengan sedikit menggodanya.
Lalu dia pun memutar malas bola matanya.
"Lalu bagaimana? Apa aku harus berdiri di sini terus? Dan melihat Kakak yang sedang keasyikan bermain ponsel sambil senyum-senyum sendiri?" ucapnya sambil menekan-nekan kata "keasyikan" kepadaku.
__ADS_1
Kemudian aku pun bangkit dari ranjang, lalu berjalan mendekat ke arahnya.
Andini pun melihatku yang sedang berjalan menghampirinya, hanya berdiam diri sambil menatap tajam ke arahku.
Tak ingin membuang waktu dan kesempatan lagi, aku pun langsung menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Apa kamu sedang cemburu, Sayang?" bisikku tepat di samping telinganya.
Lalu dia pun terdiam sejenak, dan kini terasa tubuhnya pun menegang saat berada di dalam pelukanku.
"Tidak!" kilahnya.
Dia pun kini mencoba untuk mendorongku, agar bisa terlepas dari pelukan ku. Akan tetapi kali ini aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.
Karena tekadku pun sudah bulat. Malam ini aku harus mendapatkan hakku, dan menjadikannya milikku seutuhnya.
"Jangan mengelak, Sayang. Aku tau kamu sedang cemburu kan? Jangan menutupi apapun dariku! Karena aku sudah mengetahui semuanya, bahkan saat kamu diam-diam memiliki perasaan yang sama denganku." bisikku lagi.
Entah apa yang dipikirkannya, setelah aku mengatakan hal tersebut kepadanya. Dia pun langsung terdiam dan berhenti memberontak.
Akan tetapi tiba-tiba dia memberontak kembali, dan mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan ku.
"Diamlah! Atau aku akan melakukannya sekarang juga di sini!" ancamku sambil berbisik.
Setelah mendengar ancamanku kembali, kini dia pun terdiam dan pasrah. Aku pun tidak ingin membuang kesempatan lagi, lalu bibirku mulai melancarkan aksinya dan mulai menyusuri telinga dan lehernya. Sehingga kini ******* suara paraunya terdengar begitu sangat seksi.
Ah, ini yang ku tunggu selama ini. Karena sudah lama sekali aku tidak menjamah tubuh wanita, setelah aku mengenal Andini.
"Kak?" panggilnya dengan suara parau.
Aku sama sekali tidak menyahuti panggilannya, kini aku semakin menjadi dan tanganku pun kini ikut bergerilya dengan leluasa.
"Emmhh ... Kak?"
__ADS_1
Aku sama sekali tidak mengindahkan panggilannya, karena saat ini hasratku pun sudah mulai menggebu-gebu. Dan ingin segera di tuntaskan oleh sang pemiliknya.
Kini aku pun langsung membuka kancing baju bagian belakangnya, sehingga punggung mulusnya kini terlihat dengan jelas.
"Emmhh ... Jangan Ka-k!"
Aku yang mendengar suaranya yang parau kini sangat terdengar merdu dan seksi di telingaku. Kini seru napasnya memburu dan aku pun membungkam bibirnya menggunakan bibirku.
'Ah, bibir yang selama ini membuatku candu. Akhirnya kau menjadi milikku, kau terasa sangat manis dan menggoda sekali. Sehingga sangat sulit bagiku untuk tidak melahap habis rasa manismu,' gumamku dalam hati.
Akhirnya Andini pun terbuai dengan permainan panas yang aku lakukan. Kini dia perlahan mengikuti permainan bibir kami.
'Ah, benar-benar sebuah keberuntungan untukku. Mendapatkan istri yang benar-benar masih suci dan belum pernah di jamah oleh siapapun.' gumamku dalam hati.
Bahkan aku pun masih mengingat kejadian, saat aku menciumnya dan dia mengatakan bahwa itu adalah ciuman pertamanya.
Setelah kejadian itu, aku pun bertekad untuk mendapatkannya. Entah bagaimana caranya aku harus bisa mendapatkannya. Dan akhirnya sekarang aku pun menang, karena bisa mendapatkan dirinya seutuhnya.
Perlahan aku pun menuntun istriku ke ranjang, tanpa melepaskan tautan bibir kami.
Aku pun mendorong tubuhnya perlahan, agar dia bisa berbaring terlentang di atas ranjang.
Tak ingin melewatkan sedikit setiap jengkal tubuhnya. Kini perlahan aku pun menurunkan gaun yang masih menempel di tubuhnya.
Dan penyatuan itu pun terjadi antara kami, hingga menghabiskan waktu 2 jam. Dan kini Andini tepar lelah di sampingku.
"Terimakasih, Sayang! Terimakasih karena masih menjaganya untukku," bisikku sambil menarik pinggangnya, agar dia menempel dengan ku.
Lalu dia pun membenamkan wajahnya di dadaku, dan hanya menganggukkan kepalanya.
Ku kecup lembut keningnya.
'Terimakasih, Sayang'
__ADS_1
BERSAMBUNG......