Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Bertahanlah


__ADS_3

POV DanielĀ 


Rumah Sakit Permata


Akhirnya kami pun sampai di rumah sakit terdekat dari lokasi hotel tadi.


Andini pun segera mendapatkan penanganan dari pihak Rumah Sakit Permata.


"Alhamdulillah, Yang. Akhirnya Andini baik-baik saja. Semoga dia segera pulih dan sehat ya? Aku juga sempat khawatir tadi dengan keadaannya." ucapku sambil menggenggam erat tangan Siska.


Siska pun menatap sayu ke arahku, kemudian menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Kamu baik-baik saja 'kan, Yang?" tanyaku yang kini mulai mengkhawatirkan kondisi kekasihku.


Kini tangannya semakin terasa dingin dan wajahnya pun terlihat semakin memucat.


Dan akhirnya yang aku takutkan pun terjadi. Hampir saja Siska tersungkur ke lantai, jika saja aku tidak bergerak cepat untuk menangkapnya.


"Sayang? Ya Allah! Apa lagi ini? Andini belum sadarkan diri, kini gantian kekasihku yang ikut pingsan." keluhku sambil membopong tubuh Siska.


"Astaghfirullah! Maafkan Hamba-Mu ini, Ya Allah. Hamba telah berprasangka buruk kepada -Mu." ucapku yang sedang menyesali karena keluh kesah ku.


Kemudian aku pun segera membawa Siska ke ruang rawat, setelah aku mengatakannya kepada salah satu perawat di sana.


"Sayang, maafkan aku! Aku tau kamu pasti sangat kelelahan 'kan? Wajah kamu sangat terlihat pucat sekali. Aku janji! jika nanti kamu sehat nanti, aku tidak akan pernah membiarkanmu seperti ini lagi, dan aku akan selalu berusaha untuk menjagamu." ucapku sambil menggenggam erat tangan Siska, yang tidak terpasang selang infus.


Ya, Siska telah menjadi kekasihku. Setelah pertemuan kami di acara resepsi pernikahan Devano dan Andini.


*Flashback on*


Saat aku melihat perdebatan antara Siska dan beberapa karyawati Devan. Aku pun segera menghampiri mereka, lalu menyela perdebatan mereka.


"Hey hey, ladies? Ada apa ini ribut-ribut? Apa kalian ingin membuat masalah di acara bahagia sahabat saya? Atau kalian memang sudah bosen untuk bekerja di Tisvan's Company Group?" tegur ku kepada para wanita-wanita bermuka dua itu, sambil memasukkan kedua tanganku di saku celana.


"E... Ma-maaf, Pak! Ka-mi memang salah. Tolong jangan katakan masalah ini kepada Pak Devano! Kami ti-dak akan mengulanginya kembali." ucap salah satu wanita tersebut dengan raut wajah yang ketakutan.


"It's okey ! Kalau begitu, silahkan kalian menjauh dari kekasih saya. Dan jangan pernah mencoba untuk mengganggunya!" ucapku dengan penuh penekanan.


Saat aku melirik ke arah Siska. Kini tatapan matanya membulat sempurna. Dan itu semakin membuatku ingin mendekatinya.


"Hah?"

__ADS_1


Kini dia pun sangat terkejut dengan ucapanku.


"Maaf! Jika ucapanku membuatmu terkejut. Aku hanya ingin melindungi seorang gadis yang aku cintai, dari para pembully seperti mereka." ucapku to the point kepada Siska.


"Hah!"


Aku pun terkekeh saat melihat ekspresi wajahnya yang sedang terkejut.


"Sudahlah, lupakan saja! Jangan terlalu dipikirkan. Oh, iya.. kalau tidak salah, kamu sahabatnya Andini bukan? Perkenalkan namaku Daniel, sahabat terbaik dari Devano. Suami dari sahabat kamu." ucapku memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tanganku.


"Oh, eh.. iya Pak. Perkenalkan nama saya Siska, Pak. Terimakasih karena telah menyelamatkan saya dari mereka. Karena saya tidak terima, saat sahabat saya mendapatkan hinaan dan cacian dari mereka." jelasnya sambil menyambut uluran tanganku.


Aku pun tersenyum lebar, saat tanganku tersambung olehnya.


"Emn, bolehkah saya meminta nomor ponsel kamu? Emn, maksud ku kita bertukar nomor ponsel. Ya, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Jika kamu tidak merasa keberatan." ucapku lagi, tanpa basa-basi.


Ya, jujur saja. Aku memang bukan seorang laki-laki yang romantis, saat mendekati seorang wanita. Akan tetapi saat aku melihat sosok gadis seperti Siska, rasa ingin memiliki dia sepenuhnya sangatlah besar.


Meskipun nanti Siska akan merasa ilfil denganku, aku pun tidak peduli. Karena tekadku pun sudah bulat, dan tidak bisa di ganggu gugat. Seperti Devano yang menghalalkan segala caranya, aku pun akan melakukan hal yang sama.


"Hah? Emn, eh.. maksud Saya? Duh gimana ya, Pak? Saya bingung menjelaskannya. Intinya saya ini hanya karyawan rendahan di kantornya Pak Devano, Pak. Apa Pak Daniel tidak salah ingin mengenal saya- emn, lebih dekat?" jelas Siska lagi, sambil menautkan dan meremas jari-jemarinya.


Aku yang melihat kegugupannya, tanpa aba-aba langsung menarik lengannya agar mengikuti langkahku.


Aku pun hanya terdiam, tanpa menoleh kebelakang.


Akhirnya kami pun tiba di sebuah balkon di hotel tersebut.


Kemudian perlahan aku melepaskan genggaman tanganku, lalu aku pun berbalik ke arahnya.


Dan tanpa aba-aba, aku pun langsung mendekat ke arahnya dan meraup bibir mungilnya.


Saat tatapan kami saling bertemu, kini bola matanya membulat sempurna. Mata indah terunik yang pernah aku tatap.


Saat dia ingin meronta dan mendorong tubuhku, aku pun langsung mengungkungnya di dalam pelukanku, dan melumaat lembut bibirnya.


Mungkin saat ini dia menganggapku orang Gil*. Karena baru pertama kali bertemu langsung bertindak di luar batas kepadanya.


Saat dia sedikit merasa tenang, perlahan aku pun melepaskan lumatanku. Lalu memandangi wajah yang selalu mengusik pikiranku.


"Maaf!" ucapku singkat, sambil menatap dalam-dalam matanya.

__ADS_1


Siska pun masih mematung, sambil memandang sendu ke arahku.


"A-apa yang telah Anda lakukan, Pak? Sa-saya ini bu-bukan kekasih Anda! Tetapi kenapa Anda melakukan semua ini kepada Saya?" tanya Siska dengan raut wajah sendu.


Lalu aku pun menariknya ke dalam pelukanku, dan membisikkan kata maaf secara berulang-ulang kepadanya.


Dan sejak saat itu, aku pun tidak pernah lelah untuk terus berjuang agar bisa mendapatkan Siska.


Setiap hari aku terus menemuinya, bahkan dia sering menganggapku sebagai peneror hidupnya.


Akan tetapi, perlahan dia pun luluh karena perjuanganku yang tidak pernah mengenal lelah.


Ya, selang dua Minggu setelah kejadian di acara resepsi pernikahan Devano dan Andini, kami pun akhirnya menjadi sepasang kekasih hingga saat ini.


*Flashback off*


"Bangunlah, Sayang! Katanya kamu ingin menjaga dan merawat sahabatmu. Tetapi mengapa sekarang kamu ikut sakit seperti ini? Cepatlah sehat kembali, agar aku bisa melihat senyuman termanismu lagi!" ucapku yang masih setia berada di samping Siska dan genggaman tanganku pun tak pernah aku lepaskan.


Kini ponselku pun bergetar, lalu segera ku lihat siapa yang menghubungi ku.


Dan ternyata saat aku melihat nama yang tertera di layar ponselku, dengan malas aku pun menjawab panggilan dari orang tersebut. Lalu aku loud speaker.


"Ada apa lagi, Tuan Devano? Apa Anda belum puas untuk menghancurkan kehidupan seseorang yang benar-benar tulus mencintai Anda?" ucapku tanpa basa-basi.


"Dan, kalian dimana sekarang? Apa kalian sudah kembali ke rumah?" tanya Devan tanpa membalas pertanyaanku.


"Hah? Untuk apa Lo ingin mengetahui keberadaan kami? Apa Lo belum merasa puas? Apa ada hal lain lagi yang ingin Lo perlihatkan lagi kepada kami? Atau Lo ingin membunuh istri Lo sekarang juga?" tanyaku sambil menahan gejolak amarah yang saat ini masih ku pendam.


"Eh, Dan. Maksudnya Lo apa bicara seperti itu? Gue cuma mau menanyakan dimana kalian sekarang? Gue mau ketemu sama istri gue! Gue mau jelasin semua yang terjadi ke dia. Sekarang Lo jawab pertanyaan dari gue! Dimana kalian sekarang?" tanya Devan yang kini ikut tersulut emosi.


"Wah.. wah.. wah.. ternyata masih punya nyali juga ya Lo, Van? Masih berani juga Lo mau nemuin istri Lo, di saat Lo menghancurkan kehidupannya? Wow, hebat banget ya Lo!" ucapku sambil mempermainkan emosinya.


"Sial*n Lo, Dan! Sekarang Lo berani ya main-main sama gue? Liat aja, setelah gue berhasil nemuin kalian, gue bakal kasih Lo pelajaran!" ucap Devan dengan dipenuhi amarahnya.


"Ih, takut! Hahaha... Okey gue tunggu Lo sekarang juga di Rumah Sakit terdekat dari hotel tempat Lo menginap sama selingkuhan Lo!" jelasku sambil tertawa meremehkannya.


"Hah! Rumah Sakit? Maksud Lo ap-?"


Sebelum dia berbicara lebih banyak lagi, aku pun segera memutuskan panggilan masuk darinya.


Biarkan saja dia memaki dan marah-marah kepadaku. Aku sudah tidak mempedulikannya. Yang terpenting saat ini adalah keadaan kedua wanita yang saat ini sedang memperjuangkan kehidupannya.

__ADS_1


'Bertahanlah kalian! Kalian adalah para wanita terhebat yang pernah aku kenal!'


BERSAMBUNG.....


__ADS_2