Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Kisah Pahit Daniel


__ADS_3

DanielĀ 


*Flashback on*


Namaku Daniel Wijaya, aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku bernama Damian Wijaya, kami terlahir kembar hanya selisih 10 menit saja. Kami dua anak yang terlahir dari seorang pengusaha yang terkenal di kota ini, dia adalah Ristan Wijaya yang beristri Florisa Laurencia.


Meskipun aku terlahir dari keluarga yang terbilang sangat kaya, akan tetapi kehidupan ku tidak pernah di kelilingi oleh kebahagiaan.


Tuan Ristan Wijaya, lebih tepatnya papa kandungku sendiri pun tidak pernah menganggap ku ada. Beliau hanya memanjakan kakakku, Damian Alfarizi.


Aku yang merasa selalu di anak tirikan oleh papa, bahkan seringkali aku mendapatkan pukulan dan hinaan darinya.


Jika di tanya bagaimana rasanya menjadi aku, sejak kecil aku sudah sangat rapuh, hanya saja aku selalu di kuatkan oleh mama dan bi Sari (asisten rumah tangga di rumah kami).


Hanya mereka yang mau menerima dan menyayangiku dengan sepenuh hati mereka, entah apa jadinya aku tanpa mama dan bi Sari.


Bahkan di suatu hari, hanya karena masalah sepele saja aku selalu mendapatkan cacian dari papa. Bahkan aku pernah menjadi imbas dari kemarahan beliau, ketika kak Damian yang berbuat salah.


"Dasar anak yang hanya bisa membuat keonaran saja! Kamu contoh kakakmu ini! Dia saja tidak pernah berbuat masalah sama sekali, bahkan dia selalu berbuat baik kepadamu, tapi justru kamu selalu menyalahkan kebaikannya itu! Mau jadi apa kamu jika besar nanti? Mau jadi preman?"


Itu hanya salah satu perbandingan antara aku dan kak Damian. Entah apa sebabnya, aku berbeda dengan Kak Damian. Padahal wajah kami juga mirip, hanya saja tubuh kak Damian memang sedikit bongsor, sedangkan aku tinggi tapi tidak terlalu berisi.


Pernah suatu ketika aku menanyakan kepada mama, tentang suatu hal yang selama ini hanya bisa aku pendam saja. Kini aku hanya sedang berdua saja di kamarku bersama Mama.


"Ma,'' panggilku lirih.


Mama pun menoleh dan tersenyum padaku.


"Iya sayang, ada apa?" sahutnya dengan senyum yang tersungging di bibir.


Sejenak aku pun terdiam, lalu kupandangi wajah teduh beliau. "Ma, kenapa papa tidak pernah menyayangiku seperti dia menyayangi kak Damian? Apa memang aku tidak pernah di harapkan oleh Papa? Apa benar aku hanya masalah bagi kalian?" tanyaku dengan sendu.


Mama yang mendengarnya, sontak terkejut.


Kemudian beliau menarikku ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tidak sayang! Kami sangat menyayangimu, sama seperti kami menyayangi kakakmu. Kamu juga sangat berarti untuk kami, sayang. Tolong kamu bersabarlah sebentar, pasti nanti papa akan memperlakukanmu sama dengan kakakmu,'' jawabnya dengan suara serak.


Aku tau saat ini mama sedang menangis, kini aku merasa bersalah karena telah membuatnya bersedih.


"Maafkan Daniel, Ma. Sudah membuat Mama sedih!" Kemudian aku mengeratkan pelukanku.


Mama menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan seperti ini sayang! Mama mohon maafkanlah apa! Mama tau selama ini papa memang sangat keterlaluan kepadamu. Akan tetapi percayalah, di balik semua itu papa juga sangat menyayangi mu, sayang," ucap mama dengan diiringi suara isakan tangisnya.


Aku pun hanya menganggukkan kepalaku di pelukan Mama. Aku tak mau bertanya kembali, karena akan semakin membuat Mama bersedih. Saat aku mengingat perkataanku dulu, mungkin aku masih di usia tujuh tahun saat itu.


Waktu dimana, memoriku merekam semua kejadian yang selalu aku lalui tanpa adanya kasih sayang dari seorang ayah.


.


.


Pada suatu hari, tanpa sengaja aku mendengar suara pertengkaran antara mama dan papa.


"Pa, tolong dengarkan Mama dulu!" pinta Mama dengan suara meninggi.


"Cukup Pa! Dia juga anakmu, anak kita! Dia juga darah dagingmu sendiri! Apa salahnya jika kau memberikannya sedikit kasih sayang padanya?'' tutur mama dengan diiringi suara tangisnya.


"Tidak! Aku tak Sudi memberikan kasih sayangku kepadanya! Bagiku dia sudah mati. Dia hanya anak yang membuat kesialan dalam hidupku. Jika saja dulu kau membiarkan dia mati, mungkin hidup kita akan selalu bahagia dan terhindar dari pertengkaran seperti ini!" hardik papa.


"Diam Pa! Cukup! Tolong jangan katakan itu lagi. Andai kau tau bagaimana perjuangannya untuk kembali hidup. Maka kau tidak akan pernah menyia-nyiakannya! Kau pasti akan menyesal telah mencampakkan darah dagingmu sendiri!" Mama berkata dengan amarah yang berapi-api.


"Terserah kau saja! Aku tidak peduli!"


Kini terdengar suara hentakan kaki menuju ke arah pintu, aku pun langsung berlari dan bersembunyi agar tidak ketahuan oleh Papa. Tubuhku pun kini merosot ke lantai.


"Ya Tuhan! Sebenci itukah papa denganku? Sehingga tega mengatakan hal itu di depan mama. Apa sebenarnya yang terjadi? Berikan aku petunjukMu, Tuhan!" gumamku sambil meratapi nasibku yang begitu sangat malang.


Setelah sedikit merasa tenang, aku pun berjalan menghampiri mama yang masih menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Ma," panggilku lirih.


Mama yang terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba, dengan cepat beliau menghapus air matanya.


"Eh, iya sayang. Ada apa?" tanya beliau dengan seulas senyum yang dipaksakan.


Aku pun berjalan menghampirinya, kemudian duduk di sebelahnya.


"Mama tidak perlu menyembunyikan semuanya dariku. Aku sudah mendengar pertengkaran Mama dan papa tadi. Tolong jelaskan semuanya kepadaku, Ma! Aku sudah cukup besar untuk mengetahui fakta yang kalian sembunyikan dariku!" pintaku sambil menatap sendu mama.


Mama yang mendengar pernyataan dariku pun langsung terkejut, matanya kini membulat sempurna.


"A-apa yang kau dengar sayang?" tanyanya dengan sedikit terbata.


"Kenapa papa begitu sangat menginginkan kematianku, Ma? Apa yang terjadi? Sehingga membuat papa membenciku sampai sekarang?'' tanyaku dengan penuh penekanan.


Saat ini aku sedang tidak bisa berpikir jernih, bahkan tidak memikirkan kesedihan Mama saat ini.


"Sayang,'' panggilnya lirih.


Aku pun masih terdiram dan masih menunggu penjelasan darinya. "Baiklah, Mama akan menceritakannya kepada sekarang!" jawabnya lirih.


Kini terdengar helaan napas beratnya. Beliau pun menatap ke depan, menerawang jauh ke masa lalu.


"Saat kalian terlahir semuanya masih terasa baik-baik saja. Hingga suatu hari saat kau sedang panas tinggi, kami membawamu untuk berobat ke dokter pribadi kami. Akan tetapi panas di tubuhmu tak kunjung mereda, berbagai tes dan pengobatan pun sudah kami lakukan. Akan tetapi hasilnya nihil. Hasilnya pun tidak terdeteksi apa sakit yang kau alami. Sehingga macam-macam obat dari resep dokter tidak membuahkan hasil sama sekali ..." Kini Mama memotong ucapannya, lalu menghela napas panjang.


Aku pun masih terdiam dan menyimak semua penjelasan Mama.


"Hingga suatu ketika, papa pun memutuskan untuk membawamu ke orang pintar mungkin bisa dibilang semacam dukun. Kata orang pintar itu, kami harus memisahkanmu dari kakakmu, agar tidak ada kesialan yang terjadi nanti. Akan tetapi Mama membantah pernyataan orang pintar itu, lalu pergi meninggalkan papa dan orang pintar itu berdua. Entah apa yang selanjutnya dikatakan oleh orang pintar itu pun mama sama sekali tidak tau. Sehingga sejak pulang dari tempat itu, papa selalu menghindarimu dan Mama ..." Kini penjelasan mama terpotong kembali.


"Seiring berjalannya waktu, Papa selalu membandingkan kau dengan kakakmu. Bahkan lebih mementingkan kakakmu dan mengabaikanmu. Akan tetapi, Mama terus saja menentang dan mendesak papa agar bisa bersikap adil kepadamu juga. Meski Mama tau itu akan sulit, tapi Mama selalu akan berusaha untuk meluluhkan hati papa kembali," ucap Mama dengan suara seraknya.


Aku yang mendengar semua penjelasan dari Mama pun kini sudah memahami. Meskipun fakta yang begitu mengejutkan yang aku dapatkan.


Sejak saat itu, aku pun menjaga jarakku dari papa dan Kak Roni, seperti keinginan beliau. Hingga saat ini pun hubungan kami masih renggang dan bahkan semakin jauh, bahkan saling acuh.

__ADS_1


*Flashback off*


BERSAMBUNG.....


__ADS_2