Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Tidak Mau Menerima


__ADS_3

POV Devano 


Setelah berkonsultasi dengan Dokter Hendra kini aku pun memberanikan diriku untuk menemui istriku.


Meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak bersalah, akan tetapi aku juga harus meminta maaf kepadanya.


Dengan langkah gontai aku pun berjalan menuju kamar rawat istriku. Kini pintu pun terbuka, perlahan kepalaku pun menyembul, perlahan aku berjalan menghampiri istri tercinta ku.


Lalu aku pun duduk di kursi yang berada di sebelah ranjangnya. Ku pandangi wajahnya yang masih terlelap dan terlihat pucat.


"Maafkan aku, Sayang! Seharusnya ini adalah momen yang sangat membahagiakan untuk kita, akan tetapi aku merusak semua kebahagiaan yang baru saja kita bangun. Seandainya saja ada kata lebih dari 'Maaf' maka aku akan mengatakannya kepadamu. Sayang, aku benar-benar minta maaf! Tolong maafkan aku!" ucapku lirih.


Kini buliran kristal bening perlahan menetes membasahi pipiku. Aku pun berkali-kali merutukki kebodohan yang telah aku lakukan. Karena kebodohan ku, istriku menolak keras kehadiran benih yang aku tanamkan di rahimnya.


Sakit? Tentu saja. Ini benar-benar sangat menyakitkan untukku. Benih yang seharusnya aku tanamkan akan memperkuat cinta dan hubungan kami, kini justru membawanya ke dalam kehancuran bersama kami.


Sebagian besar seorang Ibu akan sangat merasa bahagia dan sempurna akan hadirnya si buah hati. Akan tetapi, lain dengan istriku yang kekeuh ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri.


Ya, ini semua bukan murni karena kesalahannya, tapi ini semua karena kesalahan dan kecerobohan yang telah aku lakukan kepadanya. Sehingga dia tidak menginginkan benihku tumbuh di dalam rahimnya.


*Flashback on*


"Jadi begini, Dok. Sebelum istri saya di rawat di Rumah Sakit ini, saya bertengkar hebat dengannya karena sebuah kesalahpahaman. Dan setelah itu, dia pergi meninggalkan saya terlebih dahulu, sehingga saya kehilangan jejaknya. Untung sahabat saya berhasil menemukannya, tapi istri saya ditemukan pingsan di pinggir jalan. Kemudian sahabat saya dengan cepat membawanya ke Rumah Sakit ini, Dok." jelasku disertai dengan helaan napas berat.


Dokter Hendra pun mengernyitkan dahinya, lalu saling beradu pandang dengan sang perawat yang berdiri di sebelahnya.


"Mohon maaf, Pak Devano! Apakah permasalahan kalian memang sangat rumit? karena saat ini Bu Andini sangat membutuhkan dukungan Anda, Pak. Terlebih lagi adanya janin yang berada di dalam kandungan beliau, besar kemungkinan istri Anda bisa bertindak nekat. Tadi istri Anda juga sempat meminta saya untuk melenyapkan janin yang berada di kandungannya. Saya hanya ingin menyarankan saja, Pak. Agar Anda bisa untuk segera meluluhkan kembali hatinya, agar beliau bisa menerima janinnya." ujar Dokter Hendra.


Degh!


Aku pun tertegun sesaat, dan dengan senyum tipis yang ku paksakan, aku pun mengangguk lemah.

__ADS_1


"Baik, Dok. Saya akan berusaha sebisa Saya, dan terus berjuang untuk mendapatkan kepercayaan dari istri saya kembali." tutur ku dengan seulas senyum tipis.


Setelah perbincangan tersebut, aku pun segera meminta izin untuk undur diri dan kembali ke kamar rawat istriku.


*Flashback off*


Dan di sinilah aku berada saat ini, tepat di samping ranjang Andini sambil memandangi wajah pucatnya.


"Maafkan aku, Sayang! Tolong maafkan aku! Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, agar kita bisa sama-sama menjaga buah cinta kita," ucapku dengan suara parau.


"Enggh!"


Kini dia pun menggeliat, dan kembali terbangun kembali.


"Sayang?" panggilku lirih.


Kemudian Andini pun langsung membuang muka dariku.


Bagai di sayat pisau belati yang sangat tajam, sehingga membuat hatiku terasa perih dan nyeri saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulutnya.


"Sayang? Tolong, jangan katakan itu lagi! Aku benar-benar minta maaf kepadamu. Tolong berikan aku kesempatan lagi untukku, aku berjanji akan memperbaiki hubungan kita kembali seperti semula. Dan kejadian ini juga tidak akan pernah terjadi lagi nantinya." ujarku untuk kembali meyakinkannya.


Kemudian dia pun kembali mengalihkan pandangannya kepadaku, sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Apakah saya tidak salah dengar, Pak Devano? Apakah Anda benar-benar yakin? Jika kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang kembali? Apa yang akan menjadi jaminan Anda saat ini? Sehingga Anda begitu sangat yakin dengan janji Anda?" tanya Andini dengan nada meremehkan.


Aku yang melihat tatapannya yang tidak biasa, kini hanya bisa pasrah. Karena semua perkataan yang ku ucapkan saat ini hanyalah sia-sia saja. Dan jalan satu-satunya adalah Daniel dan Siska, hanya mereka berdua harapanku saat ini.


"Baiklah, Sayang. Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai ku kembali saat ini. Akan tetapi aku akan membuktikan semua janji dan ucapan yang aku lontarkan kepadamu. Aku akan selalu membuatmu agar percaya kepadaku lagi. Aku berjanji akan hal ini. Dan satu lagi, aku mohon! Tolong pertahanan benihku di dalam rahim mu, biarkan dia berkembang dan terlahir ke dunia ini. Dia sama sekali tidak bersalah, bahkan dia juga tidak tau menahu tentang hal ini, Sayang." ujarku kepada Shintya.


"Terserah Anda!" serunya dengan nada ketus.

__ADS_1


Tak ingin berdebat kembali dan semakin memperburuk keadaan, kini aku pun mengalah dan diam. Andini pun kembali membuang mukanya dariku. Dan kembali mengacuhkan ku.


'Ya Allah, tolong bantu aku kembali untuk meluluhkan hatinya, yang kini kembali mengeras dan membatu. Aku sangat rindu istriku yang ceria dan periang. Aku juga rindu senyuman manisnya yang setiap hari dia berikan saat dekat dengan ku.' doa'ku dalam hati.


Hampir selama satu jam, Andini masih diam dan membuang muka dariku.


Aku pun hanya menghela napas panjang, karena aku sudah benar-benar kehabisan kata-kata saat ini. Bahkan pikiran ku saat ini terasa sangat buntu.


"Sayang?" panggilku dengan suara lembut.


Kini suasana pun masih terasa hening, karena panggilanku sama sekali tidak ada sahutan dari istri tercinta ku.


"Sayang? Tolong jangan terus menerus mendiamkan ku! Lebih baik maki aku sepuasnya, daripada kamu menyiksa ku dengan cara mendiamkan ku seperti ini, Sayang." ucapku dengan suara parau.


Kemudian di pun kembali menoleh ke arah ku dan memberikan tatapan tajam kepadaku.


"Waw! Benarkah Anda tersiksa? Lalu bagaimana dengan saya? Apa Anda pikir saya baik-baik saja?" tanya Andini dengan sinisnya.


'Ya Allah, mengapa menjadi seperti ini? Mengapa semua semakin terasa rumit? Apakah aku salah bicara?' keluhku dalam hati.


"Ti-tidak seperti itu, Sayang! A-aku hanya ingin melihat senyuman mu kembali, aku benar-benar merindukannya." jelasku dengan terbata.


"Huh? Jika Anda merasa tersiksa dengan sikap saya. Lebih baik Anda temui kembali gund1k Anda, lalu tinggalkan saya! Oh, iya.. dan satu lagi! Jangan pernah temui saya ataupun anak saya setelah lahir nanti. Karena setelah anak ini lahir, saya secepatnya akan mengajukan perceraian ke pengadilan dan Anda tidak perlu memikirkan bagaimana kehidupan kami nanti!" serunya dengan penuh penekanan.


Dengan cepat aku pun meraih tangannya lalu menggelengkan kepalaku.


"Tidak, Sayang! Aku mohon! Jangan pernah tinggalkan aku! Aku tidak ingin kehilanganmu, dan berpisah dari kalian. Aku mohon tetaplah bersamaku demi anak kita." pintaku sambil menggenggam erat tangannya.


"Istighfar, Sayang ...."


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2