
Setelah perdebatan antara aku dan Kak Devan, kini aku pun sedikit mengalah. Karena sejujurnya melihat raut wajah sendu Kak Devan, membuat hatiku sedikit luluh dan mencair.
Akan tetapi aku juga tidak sepenuhnya percaya begitu saja kepadanya. Kini aku pun mengajukan beberapa syarat untuk Kak Devan. Dan dia harus menyetujuinya, jika dia masih ingin bersama dengan kami.
"Jika Kakak masih ingin bersama dengan kami, maka Kak Devan harus bisa memenuhi semua syarat yang aku ajukan!" ucapku dengan penuh penekanan.
Tanpa berpikir panjang, Kak Devan pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Sayang. Aku pasti akan memenuhi semua syarat yang kamu ajukan." ucap Kak Devan dengan mantap.
"Baik, dengarkan baik-baik syarat yang aku ajukan ini!
*Syarat pertama : Jika benar Kak Devan tidak bersalah, maka Kakak harus memberikan bukti yang detail kepadaku.
*Syarat kedua : Sebelum bukti itu terkumpul, maka Kak Devan tidak boleh menemui kami. Karena setelah keluar dari rumah sakit ini, aku akan pulang ke rumah Ibu untuk sementara waktu.
*Syarat ketiga : Selama aku di rumah Ibu, jangan sekali-kali menemui ku. Kecuali Kak Devan sudah mendapatkan semua buktinya, bahkan jangan pernah berharap bisa untuk menyentuh ku kembali sebelum Kak Devan mendapatkan kepercayaan dariku.
*Syarat keempat : Aku ingin masalah ini harus di rahasiakan untuk sementara waktu dari keluarga kita, sebelum kebenaran yang sebenarnya terungkap.
*Syarat kelima : Kak Devan harus melakukan penyelidikan itu sendiri, tanpa campur tangan orang lain, termasuk Kak Daniel.
Apa Kak Devan sanggup untuk memenuhi kelima syarat yang aku ajukan? Apa Kak Devan merasa keberatan?" tanyaku sambil menatap lekat wajahnya.
Terdengar suara helaan napas berat dari arah Kak Devan.
"Apakah syarat kedua dan ketiga bisa aku lakukan, Sayang? Bahkan sehari berjauhan darimu, membuat ku sangat tersiksa. Apalagi jika sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Apa jadinya aku tanpamu, Sayang?" ujar Kak Devan dengan tatapan sendu.
Kemudian aku pun menyipitkan mataku, sambil berdecak.
"Ckk! Benarkah seperti itu? Tetapi saya rasa Anda bisa tanpa saya. Bukankah tanpa adanya saya di sisi Anda, Anda bisa bebas melakukan apapun yang Anda inginkan?" sindirku sambil mengangkat sebelah bibirku ke atas.
Dengan cepat Kak Devan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Sayang! Tolong jangan katakan itu lagi! Aku mohon percayalah! Aku akan segera membuktikannya kepadamu, bahwa aku memang hanya di jebak oleh wanita ular itu," ujar Kak Devan dengan suara parau.
"Hah! Jebakan yang sangat terasa nikmat 'kan, Pak Devano?" sindirku sambil tersenyum getir.
Tanpa aku sangka, jika Kak Devan akan bersimpuh di samping ranjang ku. Sehingga membuat ku terkejut.
__ADS_1
"Apa yang Kak Devan lakukan? Cepat berdirilah! Atau aku yang akan pergi dari kamar ini!" titahku dengan tegas.
"Tidak akan! Sebelum kamu memberikan sedikit kepercayaan mu kepadaku, Sayang." tekatnya sambil menatap lekat wajahku.
"Baik. Jika itu mau Kak Devan, maka aku yang akan keluar dari kamar ini!" ucapku sambil menarik paksa selang infus yang masih terpasang di tanganku.
Setelah berhasil melepaskan jarum infus itu, kini darah segar mulai mengalir dan membahasi tanganku, hingga tetesan darahnya pun mengotori lantai kamar ini.
Perlahan aku pun turun dari ranjang dan mencoba untuk berdiri. Ya, meskipun tubuhku masih terasa gemetar, akan tetapi aku tetap memaksakan diriku untuk segera keluar dari kamar ini.
"Sayang? Apa yang kamu lakukan? Lihatlah kini darahmu banyak yang keluar. Baiklah aku akan mengalah saat ini. Aku berjanji akan segera mengumpulkan bukti-bukti bahwa semua ini hanya jebakan." ujar Kak Devan yang mencoba untuk meraih tanganku yang dibasahi oleh darah segar.
"STOP!! Jangan mendekat! Dan jangan pernah sentuh kami!" pekikku sambil menepis tangan Kak Devan.
"Baiklah, Sayang. Aku akan keluar, tapi kamu harus tetap berada di sini. Aku akan memanggil Dokter Hendra, agar beliau kembali memasangkan jarum infus itu di tanganmu," ucapnya sambil bergegas keluar dari dalam kamar.
Perlahan tubuhku pun merosot ke lantai, bahkan darah segar kini masih mengucur dengan derasnya.
Akan tetapi aku sama sekali tidak merasakan kesakitan, sehingga tanpa sadar darah pun mengalir di lantai dan membasahi bajuku.
*Ceklek!*
"Astaghfirullah, Bu Andini?" pekik Dokter Hendra dan suster Vera.
Perlahan suster Vera dan Dokter pun membantuku untuk kembali berbaring di ranjang.
Sedangkan tanganku yang masih mengeluarkan darah segar, kini perlahan di tekan oleh suster Vera, agar darah bisa segera berhenti.
Akan tetapi saat suster Vera menekan perlahan tanganku, kini rasa sakit mulai aku rasakan. Sehingga membuatku meringis menahan rasa sakit.
"Apa yang Anda lakukan, Bu? Mengapa Anda sampai berbuat nekat dan melepaskan jarum infus ini? Saya sarankan, jangan pernah melakukan ini lagi ya, Bu? Karena ini sangat berbahaya untuk kesehatan Ibu, bisa saja Ibu nanti akan kehilangan banyak darah. Dan ini sangat beresiko untuk Ibu hamil, Bu." ujar Dokter Hendra sambil menasehati ku.
Dengan terlaten Dokter Hendra dan suster Vera membersihkan darah dan kembali memasangkan jarum infus itu ke tanganku yang satunya.
Aku pun hanya terdiam, tanpa menyahuti nasehat Dokter Hendra. Karena saat ini pikiranku sedang berkelana entah kemana.
Perlahan suster Vera membaringkan tubuhku, setelah darah yang menempel di tanganku sudah bersih.
"Sekarang Ibu beristirahat dulu ya? Semoga Ibu segera membaik dan sehat kembali. Saya berharap Ibu tidak bertindak nekat lagi seperti tadi," ujar Suster Vera dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Aku pun hanya menganggukkan kepalaku dengan lemah.
'Mengapa aku selalu bertindak gegabah seperti ini? Sehingga aku membahayakan kesehatan ku, dan keselamatan nyawa yang ingin hidup di dalam perutku. Astaghfirullahal'adziim! Maafkan aku, Ya Allah! Aku memohon pengampunan darimu! Karena tidak seharusnya aku bertindak kelewatan dengan suamiku sendiri,' sesalku dalam hati.
Tes... Tes... Tes...
Kini air mataku pun menetes kembali di kedua sudut mataku dengan derasnya.
Entah bagaimana keadaan wajahku saat ini. Mungkin sangat berantakan dengan mataku yang sembab.
Perlahan aku pun menenangkan diriku sendiri, sambil memejamkan mataku. Akan tetapi kini suara dering panggilan masuk kembali menyadarkanku.
Kring... Kring... Kring...
Kemudian aku pun bergegas untuk mencari keberadaan ponselku, saat aku mencari-cari ternyata sumber suara ada di tas sebelah ranjangku.
Saat aku melihat panggilan video masuk, aku pun segera menolaknya. Lalu menggantinya dengan panggilan suara.
Karena aku tidak ingin sang penelepon akan merasa khawatir, saat melihat wajahku yang terlihat sangat berantakan dengan mata sembab pula.
"Halo, Assalamu'alaikum?" sapaku.
"..............."
"Alhamdulillah aku baik, Bu. Oh, iya.. Ibu dan Nenek bagaimana kabarnya? Kalian baik-baik saja 'kan?" tanyaku dengan suara lembut.
"................"
Aku pun berusaha untuk menetralkan kembali napas ku, sehingga perlahan kini suaraku pun menjadi lebih tenang.
"Alhamdulillah. Kalian baik-baik ya di sana? Aku sangat merindukanmu kalian. I Miss you so much?" ucapku dengan suara parau.
"..............."
"Emn, ya sudah dulu ya, Bu. Nanti aku telpon kembali. Assalamu'alaikum?" salamku mengakhiri percakapan kami.
"..............."
Tut... Tut... Tut...
__ADS_1
Setelah panggilan masuk berakhir, kini aku pun langsung menghela napas lega.
"Maafkan Andini, Bu......."