
"SAYAAANGG?!" pekik Devano.
Andini yang masih bergeming dengan pandangan yang berkaca-kaca, kini hanya terdiam dan mematung tanpa menjawab sepatah katapun.
Perlahan Devano mengayunkan kakinya, dengan tatapan mata masih lurus ke depan. Dia sama sekali dengan sekitarnya, entah berapa kali dia menabrak beberapa barang yang terletak di sekitarnya.
"Andini Sayang?"
Di setiap langkahnya, Devano terus memanggil nama Andini tanpa menghiraukan ucapan Mamanya.
"Van! Jalannya jangan Meleng! Lihat tuh, barang-barangnya hampir jatuh semua!" omel Rahma sambil mencebikkan bibirnya.
Devano pun masih tak menghiraukan ucapan Mamanya, dan pandangannya masih fokus kepada wanita yang sangat dia rindukan. Bahkan hampir membuatnya gila.
Jarak di antara mereka pun semakin terkikis dan hanya tinggal beberapa langkah saja. Tiba-tiba Rahma langsung memasang badan untuk menghalangi pandangan putra semata wayangnya.
Dia melakukan itu, bukan tanpa sebab. Rahma masih sedikit merasa dongkol, karena Devan mematikan panggilan darinya, padahal dia masih ingin berbicara.
"STOP! Jangan mendekat! Jangan pernah mencoba untuk menyentuhnya!" ketus Rahma yang saat ini berdiri di depan Andini.
Devan pun langsung terkejut dengan gerakan cepat dan ucapan Mamanya. Dia tidak pernah menyangka jika Mamanya akan menjadi penghalang untuknya.
"Mama?! Apa-apaan sih? Mengapa Mama menghalangi Devan untuk bertemu dengan istri Devan? Apa Mama ingin membuat Devan stres lagi?" cecar Devano dengan raut wajah yang memelas.
Andini yang saat ini masih berdiri di belakang Rahma, hanya bisa menahan rasa gugupnya. Keringat dingin bercucuran dan mengalir di sekitar wajahnya.
Karena merasa sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Tiba-tiba pandangan Andini menjadi kabur dan ........
"Bruk!"
__ADS_1
"Sayang?"
"Neng Andini?"
Rahma pun terkejut saat mendengar pekikkan dan suara benturan yang cukup keras. Dia pun langsung membalikkan badannya dan mendapati Andini sudah tergeletak di lantai.
Bi Sarah yang saat itu memiliki posisi yang terdekat dengan Andini, langsung berlari ke arah wanita hamil yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tolong! Cepat bawa Neng Andini ke rumah sakit!" pinta Bi Sarah, saat menyadari wajah pucat wanita hamil itu.
Devano yang tidak menghiraukan ucapan Mamanya, kini langsung berlari ke arah wanitanya dan dengan sigap langsung menggendongnya.
Pak Purnomo pun tidak mau tinggal diam, dia pun langsung mengambil alih kemudi dan langsung membawa wanita hamil itu ke rumah sakit terdekat.
"Sayang? Bangunlah! Setelah sekian lama aku menunggu mencari mu. Mengapa kita harus dipertemukan dengan kondisi yang seperti ini? Tolong bangunlah, Sayang! Aku mohon!" racau Devano sambil meneteskan buliran bening yang keluar dari pelupuk matanya.
"Maafkan Mama, Sayang! Mama tidak pernah menyangka, jika akan terjadi seperti ini. Maafkan Mama!" ucap Rahma lirih.
Hanya memerlukan waktu 20 menit saja, akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota itu. Devan pun langsung menggendong tubuh wanita hamil itu, dan sedikit berlari.
"Tolong, selamatkan Istri dan anak saya!" pinta Devan kepada sang perawat yang saat ini sedang menarik brankar yang membawa tubuh wanita hamil itu.
"Baik, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tolong kalian tunggu di sini!" ucap sang perawat, kemudian pintu pun tertutup rapat.
Devan yang sangat merasa cemas dan khawatir dengan keadaan istri dan anaknya, kini hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah SWT, semoga mereka berdua selamat dan baik-baik saja.
Ceklek!
"Bagaimana dengan keadaan istri dan anak saya, Sus?" tanya Devan dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Dokter sedang memeriksa pasien. Sekarang, tolong Anda mengurus pendaftaran pasien. Agar kami bisa menindak lanjuti perawatan pasien!" ucap sang perawat dengan ramah.
"Baik, Sus. Tolong lakukan yang terbaik!" pinta Devan lagi.
Devan yang tidak ingin membuang-buang waktu, kini langsung berlari ke arah pendaftaran dan langsung membayar semua biaya perawatan istrinya.
Setelah selesai, dia pun langsung kembali ke ruang rawat istrinya. Dan tepat pada saat itu, Dokter dan dua orang perawat keluar dari kamar Andini.
"Dok, bagaimana dengan keadaan istri dan anak kami, Dok?" tanya Devan yang sudah tidak sabaran.
"Alhamdulillah. Kalian membawa mereka tepat waktu. Karena jika terlambat sedikit saja, pasien akan kritis." terang sang Dokter.
Keempat orang yang sedang menunggu wanita hamil itu, langsung menghela napas lega. Kini kekhawatiran mereka pun sedikit berkurang dengan penjelasan sang Dokter.
"Apakah saya boleh menunggunya di dalam, Dok? Dan apakah istri saya akan segera sadar?" tanya Devan yang sedikit memaksa.
"Boleh. Silahkan! Tetapi hanya satu orang saja yang menjaganya. Untuk itu, saya belum bisa memastikan berapa lama pasien akan sadar dari pingsannya. Karena saat ini kondisi pasien sedikit melemah, karena kecemasan yang berlebihan dan itu juga bisa berimbas pada janinnya." terang sang Dokter lagi.
Keempat orang itu saling melemparkan pandangan, entah apa yang saat ini berada di dalam pikiran mereka. Yang jelas rasa kekhawatiran itu masih menyelimuti hati mereka.
"Baik, Dok. Kami mengerti." ucap Devan dengan sedikit ragu-ragu.
Setelah mendapatkan persetujuan dan keterangan dari sang Dokter, akhirnya Dokter dan dua perawat itu langsung bergegas meninggalkan mereka. Karena salah satu pasiennya juga sedang kritis dan membutuhkan bantuan mereka.
"Ma, Devan masuk dulu ya? Untuk menemani istri dan anak Devan. Doakan, semoga Andini segera sadarkan diri." pinta Devan dengan tatapan sendu.
Rahma pun langsung memeluk dan mencium lembut kening putranya. Dia juga menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui permintaan sang putra.
"Baiklah, Sayang. Cepatlah temani istrimu! Jangan biarkan dia sendiri di dalam sana. Semoga menantu kesayangan Mama segera sadar." ucap Rahma dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Saat itu juga, Devan memasuki ruangan yang bernuansa serba putih. Dia pun menatap lurus ke depan dan mengayunkan kakinya menuju ke sisi ranjang, yang terdapat istrinya yang sedang terlelap dengan wajah yang pucat.
"Bangunlah, Sayang! Aku sangat merindukanmu!"