Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Menenangkan Diri


__ADS_3

Tiga hari kemudian..


Akhirnya aku bisa menghela napas lega, karena hari ini Dokter Hendra telah mengijinkan aku untuk pulang. Dan Siska saat ini juga sudah kembali membaik, setelah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit yang sama denganku.


Di sepanjang perjalanan, Siska juga terus menggenggam erat tanganku dan enggan untuk melepaskannya.


"Andin, apa kamu yakin ingin kembali ke rumah Ibumu?" tanya Siska yang saat ini duduk di bangku sebelahku.


"Tidak , Sis. Untuk sementara waktu aku ingin menyendiri terlebih dahulu." jawabku dengan seulas senyum tipis.


Siska pun mengernyitkan dahinya, lalu menatap penuh selidik kepadaku.


"Maksud kamu apa, Ndin? Kamu mau kemana?" tanya Siska yang kini menatap sendu ke arahku.


Aku pun menghela napas panjang, dan menatap lekat wajah sahabatku.


"Tidak kemana-mana kok, kamu tenang saja." kilahku sambil terkekeh.


'Maafkan aku, Sis! Sesuai dengan keputusanku, aku akan pergi sejauh mungkin dari kalian dengan uang yang pernah diberikan oleh Kak Devan kepadaku. Sementara aku akan menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan kami," gumamku dalam hati.


Siska pun mempercayai ucapanku begitu saja, tetapi tidak dengan Kak Daniel yang sejak tadi selalu melirikku melalui kaca spionnya dengan rasa curiga.


"Apa kamu ingin menginap di kontrakan ku lagi, Ndin? Sebelum kamu pulang ke rumah Ibumu," tanya Siska yang menawarkan tempat tinggal sementara kepadaku.


Dengan cepat aku pun langsung menggelengkan kepala.


"Tidak, Sis. Dua hari ini aku ingin mencari penginapan, dan ingin menyendiri terlebih dahulu. Jadi aku mohon, mengertilah!" kilahku lagi, saat meyakinkan Siska.


Siska hanya menghela napas panjang, dan kembali menatap ku dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Baiklah. Tetapi kamu juga harus berjanji kepadaku jika ada sesuatu nanti, kamu harus memberikan kabar kepadaku terlebih dahulu." pinta Siska yang masih menggenggam erat tanganku.


Aku pun tersenyum lebar dan menganggukkan kepala.


"Siap, tuan putri!" gurauku sambil terkekeh kecil.


Siska dan Kak Daniel hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengedikkan bahu.


***


Setelah sampai di sebuah penginapan akhirnya kami pun berpisah di tepi jalan. Awalnya Siska terus mendesak ku, akan tetapi saat aku memohon kepadanya. Akhirnya dia pun mengalah dan memilih memberikan ruang untukku.


Setelah itu, aku pun memastikan terlebih dahulu jika mobil yang di kendarai Kak Daniel sudah melaju kembali dibalik deretan kendaraan lainnya.


Sementara aku segera mencari taksi yang berlawanan arah dengan tujuan mereka. Entah akan kemana aku pergi, aku juga belum tau pasti. Yang ada di dalam pikiran ku saat ini hanyalah pergi sejauh mungkin dari Kak Devan, meskipun sangat berat bagiku harus meninggalkan Ibu dan Nenek, serta Siska yang selalu ada untukku di saat suka dan duka ku.


Saat taksi melaju dengan kecepatan sedang, aku hanya menatap ke luar jendela. Menatap hampa keluar sana saat melewati sebuah hotel yang memberikan kenangan terburuk untukku, tempat dimana kehancuran hubungan ku dengan Kak Devano.


Aku pun terdiam sejenak. 'Apakah untuk sementara waktu sebaiknya aku pergi ke desa itu, dan tinggal di sana?' gumamku dalam hati.


"Em, lebih baik kita desa terpencil itu saja, Pak. O, iya.. di desa itu apakah sudah ada kendaraan juga? Semisalnya nanti ingin bepergian?" tanyaku sambil berbasa-basi kepada sopir taksi itu.


"Di desa itu sudah ada beberapa kendaraan roda dua dan empat, Neng. Jika nanti Neng mau bepergian, mereka akan menyediakan jasa antar jemput, jika Neng bersedia. Karena ada saudara saya juga yang juga tinggal di sana." ujar sang sopir taksi tersebut, sembari menjelaskan tentang desa itu.


Kemudian aku pun menganggukkan kepala dengan mantap, sambil mengulas senyum di kedua sudut bibirku.


"Baiklah, Pak. Saya mengerti. Kita pergi ke desa itu ya, Pak? Saya ingin menikmati suasana pedesaan yang masih terlihat sangat indah dan asri." cetus ku dengan antusias.


Entah apa yang membuatku semakin yakin untuk memilih desa itu. Desa yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Namun, rasa ingin untuk datang dan tinggal di sana sangat besar saat ini.

__ADS_1


Sejenak aku pun melupakan semua masalah dan kejadian yang sangat membuat hatiku hancur dan remuk, saat taksi yang ku tumpangi memasuki kawasan pemukiman desa tersebut.


"Neng, mau turun dimana?" tanya sopir taksi tersebut.


Aku pun terdiam sejenak dan menghela napas panjang. Karena aku pun belum memiliki tujuan di desa ini, entah akan tinggal dimana? Aku juga belum bisa memikirkan semua itu.


"Entahlah, Pak. Mungkin saya akan mencari sewa atau kontrakan disana." ucapku sambil menyapu setiap jalan yang kami lewati.


"Bagaimana kalau saya menawarkan Neng untuk tinggal di rumah Bibi saya? Saat ini dia hanya tinggal sendiri, karena anak-anaknya juga sudah berkeluarga dan tinggal di kota. Tetapi jika Neng tidak bersedia, juga tidak apa-apa. Saya hanya bermaksud ingin menolong Neng saja, dan tidak ada maksud lain." ujar sang sopir taksi dengan keramahan.


Sungguh. Aku benar-benar merasa sangat beruntung sekali. Karena saat ini aku dipertemukan dengan orang baik seperti sopir taksi ini.


"Em, apa tidak akan merepotkan nanti, Pak? Karena sejujurnya saat ini, saya sedang hamil muda." terang ku sambil menundukkan kepala dan mengusap perutku yang masih rata.


"Masya Allah, ternyata Neng sedang hamil? Alhamdulillah, semoga kalian sehat-sehat saja ya?" syukur sang sopir taksi tersebut.


"O, iya.. lebih baik Neng terima tawaran saya ya? Karena saya memaksa Neng saat ini. Dan tenang saja, pemaksaan saya hanya untuk kebaikan Neng saja, dan saya tidak memiliki tujuan yang lain. O, iya.. satu lagi, jika suatu hari nanti Neng ingin meminta pertolongan kepada saya, pasti saya akan datang kemari. Dan ini kartu nama saya, Neng." ujar sang sopir taksi dengan antusias.


Kemudian aku pun mengulurkan tanganku untuk mengambil selembar kertas, yang berisi nama dan nomor telepon sang sopir taksi tersebut.


"Nama anda Pak Purnomo? Perkenalkan nama saya Andini, Pak." ucapku sembari mengulurkan tanganku kepada Pak Purnomo.


Pak Purnomo langsung menyambut uluran tanganku, dengan seulas senyum yang menghiasi bibirnya. Ternyata saat bertatap muka, Pak Purnomo memiliki lesung pipi di kedua sisinya.


"Terimakasih, Pak. Karena Pak Purnomo sangat baik kepada saya. Saya sangat berhutang budi kepada Pak Purnomo. Terimakasih banyak Pak, terimakasih!" ucapku dengan penuh semangat.


Sementara Pak Purnomo hanya menggeleng-gelengkan kecil, saat melihat tingkahku yang sangat mirip seperti anak kecil yang sedang mendapatkan hadiah.


Saat taksi tersebut berhenti di sebuah rumah sederhana, akhirnya Pak Purnomo mengajakku untuk mengikuti langkah kaki. Aku pun mematuhi Pak Purnomo, sebagai jembatan jalanku.

__ADS_1


'Semoga saja dia benar-benar orang baik." batinku.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2