Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Cocok


__ADS_3

Happy reading.....


Sungguh benar-benar penyesalan yang sangat terlambat untukku. Saat mengetahui semua yang terjadi kepada putri ku sendiri.


"Aku berjanji! Jika nanti Andini sembuh, aku akan menebus semua kesalahan dan dosa yang telah aku lakukan kepadanya," janjiku kepada diriku sendiri.


"Semoga saja nanti hasil kalian sama, tetapi jika tidak ..." Kini Ibu tidak melanjutkan ucapannya, karena merasa ragu.


Aku pun hanya menghela napas panjang. Kini suasana pun terasa hening kembali.


"Saya juga akan memeriksa sumsum tulang belakang saya, Bu. Semoga saja diantara kami, ada yang cocok dengan Andini," ucap Devano tiba-tiba.


Kami pun terkejut dengan ucapan yang baru saja dia lontarkan. Kini aku dan Ibu saling beradu pandangan, dan saling bertanya-tanya lewat tatapan kami.


"Apa kau yakin akan melakukannya, Van?" tanya Rahma, Ibu dari Devano.


"Aku yakin, Ma! Aku tidak mau melihat calon istriku menahan rasa sakitnya seorang diri. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan orang yang aku cintai," ucap Devano dengan penuh keyakinan.


"Jika kamu memang yakin, maka lakukanlah! Mama hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kesembuhan calon menantu Mama," ucap Rahma, dengan suara seraknya.


"Insya Allah, Ma. Do'akan yang terbaik untuk kesembuhan calon istriku. Devan tidak mau kehilangan Andini, karena dia sudah menjadi separuh dari hidup Devan, Ma," tutur Devano, dengan buliran air mata yang menetes perlahan.

__ADS_1


Saat melihat ketulusan dari putra sahabat ku, kini aku pun semakin yakin jika dia bisa membahagiakan putriku nanti.


"Terima kasih banyak, Nak. Ibu akan berhutang nyawa kepadamu, seandainya benar kamu yang menjadi pendonor untuk putri Ibu," ucapku sambil menatap sendu ke arahnya.


Kini Devano pun duduk bersimpuh di depanku, dan menggenggam erat satu tanganku.


"Jangan katakan itu, Bu! Karena yang terpenting saat ini adalah kesembuhan gadis kesayangan kita. Jadi Devan mohon, Ibu jangan mengatakan apapun tentang itu! Devan ikhlas jika harus melakukan ini untuk Andini," ucapnya dengan penuh kasih sayang.


Aku yang mendengar ucapan Devano, kini tangisku pun kembali pecah.


"Sudah Shin. Sekarang persiapkan diri kalian untuk melakukan pemeriksaan, jangan sampai kalian kelelahan nantinya," ucap Ibu, yang mencoba untuk tegar.


*


*


Saat ini kami sedang menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter Irawan.


"Bu Shintya Arumdari dan Pak Devano Wicaksana, silakan kalian ke ruangan Dokter Irawan. Saat ini beliau sedang menunggu kalian," ucap seorang perawat dengan ramah.


"Baik, Sus. Kami akan segera ke sana," ucap Devano dengan sopan.

__ADS_1


Setelah perawat itu berlalu, kami pun bergegas untuk ke ruangan Dokter Irawan.


"Silakan duduk!" ujar Dokter Irawan dengan seulas senyum.


Kami pun menganggukinya, lalu duduk berseberangan dengannya. "Bagaimana, Dok? Apa diantara kami ada yang cocok?" tanyaku dengan penuh harap.


"Baik, sebelum saya memberikan hasil pemeriksaan ini. Saya ingin mengatakan bahwa kondisi pasien mengalami penurunan saat ini, dan sebelum melakukan tindakan operasi, kami harus menunggu kondisi pasien kembali stabil," jelas Dokter Irawan.


Kami pun masih diam dan menyimak setiap ucapan dari Dokter Irawan.


"Dan untuk hasilnya, hanya sumsum tulang belakang Pak Devano yang cocok dengan putri Anda," jelas Dokter Irawan lagi.


Aku pun sedikit terkejut dengan penjelasan dari Dokter Irawan.


"Bagaimana mungkin, Dok? Saya ibu kandungnya, bagaimana bisa sumsum kami tidak cocok?" kagetku, yang terkejut dengan hasil pemeriksaan itu.


"Begini Bu, tidak semua yang sedarah itu cocok dalam segala hal, yang ada di dalam tubuh kita. Semua itu bisa saja terjadi bahkan sering, tidak hanya kepada Bu Shintya dan nona Andini. Tetapi banyak pasien saya, yang sama persis yang di alami oleh kalian," jelas Dokter Irawan dengan sabar.


"Baiklah, Dok! Semoga ini yang terbaik," ucapku yang hanya bisa pasrah.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2