
Semalaman aku menunggui istri, berharap dia akan segera sadar. Agar aku bisa meminta maaf secara langsung kepadanya.
Tak terasa kini malam pun telah berganti menjadi pagi, sinar matahari perlahan menerobos melalui celah jendela di kamar istriku.
Saat ku lihat ternyata Dokter dan sang perawat yang masuk, yang berjalan sambil tersenyum tipis.
"Selamat pagi, Pak Devano? Bagaimana apakah ada tanda-tanda kesadaran dari Bu Andini?" tanya Sang Dokter saat tiba di sebelah sisi ranjang istriku.
Aku pun menggeleng lemah, sambil tersenyum tipis.
"Belum ada tanda apa pun, Dok. Mungkin dia sedang mimpi indah saat ini, hingga sampai sekarang dia belum juga ingin bangun dari tidurnya." jelasku dengan suara parau.
"Pak Devano tenang saja, ini tidak akan lama. Karena Bu Andini memang terlihat sangat kelelahan, dan tidurnya pun sepertinya kurang teratur." jelas sang Dokter kepadaku.
"Dan satu lagi, kemungkinan saat ini Bu Andini mengandung. Tapi ini baru dugaan kami, nanti jika pasien sudah sadar kami akan segera melakukan pengecekan keseluruhan kepada istri Anda." jelas sang Dokter lagi.
"A-apa, Dok? Istri saya hamil?" tanyaku dengan nada terbata-bata.
"Insya Allah, sepertinya iya, Pak. Semoga saja dugaan kami benar. Akan tetapi untuk lebih jelasnya, kita harus menunggu istri Anda agar sadar terlebih dahulu." ujar sang Dokter.
Entah apa dan bagaimana yang aku rasakan saat ini? Rasanya aku sangat bahagia sekali, akan tetapi aku juga sedikit merasa takut dengan masalah yang baru saja terjadi. Sungguh aku benar-benar sangat dilema saat ini.
'Ya Allah, berikan aku petunjukMu, aku tau ini hanyalah kesalahpahaman. Hanya kepadaMu saat ini aku meminta pertolongan.' gumamku dalam hati.
Setelah beberapa waktu berlalu, kini aku merasakan sebuah pergerakan di tangan istriku. Lalu aku pun bergegas untuk bangkit dari dudukku.
"Sayang?" panggilku dengan suara lembut.
"Kak Devan?" sahutnya lirih.
"Ah, lepaskan!" serunya lagi, sambil mengibaskan tanganku agar melepaskan genggaman tangannya.
"Sayang?" panggilku lagi.
"Pergi, Kak! Pergi! Keluar dari sini!" usirnya sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Sayang? Aku mohon, tolong dengarkan aku!" pintaku dengan suara parau.
__ADS_1
"Tolong Anda pergi dari sini sekarang juga! PERGI!!" pekiknya lagi.
Karena saat ini aku tidak ingin lebih memperumit keadaan, jadi aku memutuskan untuk keluar dari kamar rawat istriku.
Kemudian aku pun bergegas untuk mencari sang Dokter untuk memberitahukan keadaan istri tercintaku saat ini.
Ya, meskipun aku juga melihat sebuah kebencian yang tersorot dari matanya. Akan tetapi semua itu tidak akan membuat ku merasa lelah, untuk mengambil kembali hati dan kepercayaan darinya.
Setelah menyusuri lorong, akhirnya aku pun bisa menemukan Dokter yang menangani istriku.
"Alhamdulillah, akhirnya Saya menemukan Anda, Dok!" ucapku dengan seulas senyum tipis.
"Lho, Pak Devano! Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sang Dokter dengan raut wajah yang sedikit khawatir.
"Oh, tidak Dok. Justru Saya mencari Anda, untuk mengatakan bahwa istri Saya sudah sadar saat ini," ucapku dengan raut wajah yang berbinar.
"Alhamdulillah. Ya sudah mari! Kita harus segera memeriksa keadaan pasien! Semoga semuanya baik-baik saja." ucap Sang Dokter dengan penuh harap.
"Aamiin. Semoga saja, Dok!" harapku sambil tersenyum tipis.
Di sepanjang perjalanan ke kamar rawat istriku, aku pun hanya terdiam dan tidak banyak bicara.
Dengan cepat ku gelengkan kepalaku.
"Silahkan Anda masuk terlebih dahulu, Dok! Saya nanti saja." ucapku sambil mempersilahkan masuk Sang Dokter dengan ditemani oleh seorang perawat.
"Baiklah kalau begitu, Saya izin masuk terlebih dahulu ya, Pak!" ujar Sang Dokter sambil tersenyum.
"Iya, Dok. Silahkan!" ucapku sambil tersenyum tipis.
Saat Sang Dokter dan sang perawat masuk, kini aku hanya bisa memandangi wajah istriku dari balik kaca pintu kamar rawatnya.
Jujur saja, sebenarnya ingin sekali aku masuk ke dalam sana, lalu menemaninya di saat seperti ini.
Akan tetapi aku pun kini juga menyadari, bahwa istriku bisa di dalam sana akibat dari kebodohan ku sendiri.
"Maafkan aku, Sayang! Aku memang sangat bodoh! Aku memang sangat pantas untuk kau benci. Aku memang pantas untuk mendapatkan semua ini. Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku!" ucapku dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
Kini terdengar suara langkah kaki dari sebelah kanan ku. Saat aku melihatnya, ternyata Daniel yang sedang berjalan mendekat ke arahku. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Sudah puas 'kan, Lo?" tanya Daniel sambil menatap tajam ke arahku.
"Maafin gue, Ren! Gue emang laki-laki yang bodoh dan ceroboh! Gue memang di jebak oleh Vania dan Damian, kakak Lo. Apa Lo udah nggak percaya sama gue?" tanya ku dengan suara parau.
Dengan senyum miringnya, Daniel pun berdecak.
"Ckk! Di jebak? Benarkah? Jika saat itu Lo tau kalau sedang di jebak oleh mereka. Lantas mengapa Lo masih ngeladenin mereka, hah?" tanya Daniel yang masih memberikan tatapan tajam kepadaku.
"Sumpah! Demi Allah, Dan! Gue nggak pernah punya pikiran sampai ke situ sebelumnya. Karena Kakak Lo yang ngeyakinin gue, kalau Vania sudah berubah." jelasku dengan suara parau.
"Ckk! Dan Lo percaya begitu saja kepada mereka? Tanpa Lo mencari tau terlebih dahulu, siapa yang sedang Lo hadapi? Apa Lo tau? Kalau hotel itu adalah milik bajing*n itu? Apa sekarang seorang Devano menjadi sangat begitu bodoh dan mudah di kelabuhi?" tanya Daniel kini sambil memberondongi ku begitu banyak pertanyaan yang memojokkan ku.
Sambil bersandar di dinding, kini tubuhku pun merosot ke lantai.
"Ya, Dan. Gue akui! Gue memang sangat bodoh! Gue memang ceroboh! Tapi gue memang nggak pernah memikirkan semua itu sampai sejauh itu. Karena gue juga nggak tau, bagaimana seorang Damian yang aku hadapi saat ini." ucapku sambil merutuki kebodohan ku.
Daniel pun berjongkok, ketika akan berbicara kembali kepadaku.
"Oke! Gue paham, Van! Tapi gue juga nggak bisa maafin Lo gitu aja, apalagi Andini. Apa Lo tau? Bagaimana hancurnya perasaannya saat ini?" tanya Daniel sambil menepuk-nepuk pundak ku.
Kini aku pun menatap sayu ke arah Daniel.
"Gue tau, Dan. Pasti saat ini dia benar-benar hancur karena kebodohan gue. Gue juga tau, kalau saat ini dia juga sangat membenci gue. Daniel, apa Lo bisa bantu gue, buat jelasin semuanya kepada Andini? Gue mohon, Dan! Hanya Lo satu-satunya harapan gue! Tolong bantu gue, Dan!" pintaku sambil memohon kepada Daniel.
Saat mendengar permintaan ku, Daniel pun tampak sedang berpikir dan mempertimbangkannya.
"Emn, oke! Gue akan coba. Tapi gue nggak janji ya? Karena gue tau, sangat sulit buat Andini untuk mempercayai Lo kembali. Dan gue harap Lo bisa mengerti tentang perasaannya saat ini, Van! Lo juga harus bisa berusaha sendiri, untuk membuat istri Lo kembali percaya sama Lo lagi! Gue sebagai sahabat Lo, hanya akan membantu sebisa gue. Jadi gue harap Lo juga ngerti posisi gue! Karena gue hanya orang lain di dalam rumah tangga kalian." jelas Daniel sambil menepuk-nepuk pundak ku.
"Iya, Dan. Terimakasih. Semoga saja Andini segera bisa maafin gue! Karena gue juga sangat terluka dan tersiksa saat melihat dia seperti ini ke gue. Apalagi saat gue lihat dari sorot matanya, dia sangat membenci gue, Dan." ucapku sambil tersenyum kecut.
"Lo harus lebih bersabar untuk meluluhkan kembali hatinya yang kembali membeku, Van! Seperti dulu, saat Lo juga berusaha untuk mendapatkan Andini sepenuhnya. Dan Lo juga tidak boleh terlalu memaksakan dirinya, agar dia bisa memaafkan Lo secepatnya." jelas Daniel sambil tersenyum tipis.
Aku pun hanya menganggukinya.
'Semoga aku bisa melewati badai ini bersamamu, Sayang!'
__ADS_1
BERSAMBUNG...M