
Happy reading...
Kini kecupan hangat mendarat di keningku. Aku pun terpaku di tempat, kini desiran aneh kembali aku rasakan di dalam diriku.
Tak bisa ku pungkiri, bahwa aku bahagia saat ini, karena perasaanku ternyata terbalaskan oleh Pak Devano.
"Sayang?" panggilnya dengan suara lembutnya.
Aku pun masih bergeming, belum mengucapkan sepatah katapun saat ini.
"Hey, Sayang! mengapa melamun?" panggilnya lagi, sambil sedikit mengguncangkan bahuku.
"Emn, i-iya Pak, eh.. Kak!" sahutku sambil tergagap dan salah tingkah. (Ah, sangat memalukan sekali).
Kak Devano pun terkekeh saat melihat ku yang sedang salah tingkah sendiri.
"Hey, Sayang! Apakah selama ini aku salah? Jika aku memendam perasaan ini kepadamu, hingga memaksaku untuk menjadi istriku?" tanya Kak Devan sambil menangkupkan kedua tangannya di pipiku.
"Hah?"
"Haha, kamu pasti terkejut bukan? Mungkin kamu selama ini pasti menganggapku orang yang tidak waras, karena aku selalu saja mengambil kesempatan untuk mendapatkan ciuman darimu. Sejujurnya aku sangat sulit untuk mengendalikan diriku saat berada di dekatmu. Oleh karena itu, aku memutuskan agar sesegera mungkin untuk bisa menikah denganmu." jelas Kak Devan sambil tersenyum manis kepadaku.
Aku pun masih terdiam, sambil menyelami dalam-dalam iris matanya.
"Eh, tanpa ku duga. Ternyata Ibu adalah salah satu sahabat Mama, yang belum pernah aku temui sebelumnya. Karena selama ini Mama juga tidak pernah menceritakan tentang Ibu kepadaku. Jadi aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, agar bisa secepatnya menikahimu." jelasnya lagi.
Kini aku pun mulai tersadar kembali dari lamunan ku.
Lalu aku pun teringat akan surat perjanjian pernikahan kontrak ku dengan Kak Devano.
"Jadi surat perjanjian itu?" tanyaku sambil menautkan kedua alisku.
Kak Devano pun hanya terkekeh saat mendengar pertanyaan dariku.
__ADS_1
"Hahaha, maafkan aku, Sayang! Itu hanyalah salah satu akal-akalan ku saja, agar kamu tidak bisa terlepas dariku. Ya, mungkin aku memang egois dan serakah agar bisa mendapatkan mu, dengan menghalalkan segala cara. Akan tetapi percayalah! Bahwa cintaku kepadamu ini sangatlah tulus!" ucapnya sambil menempelkan hidung kami.
Terasa sangat hangat saat hembusan napas kami saling beradu, perlahan Kak Devan pun mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Lalu dengan cepat aku pun segera memalingkan wajahku darinya.
"It's okey ! Mungkin kamu saat ini belum bisa percaya kepadaku, Andin. Tetapi aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar serius mengatakan hal ini kepadamu. Karena semua adalah isi di dalam hatiku, tanpa rekayasa ataupun drama." ucap Kak Devano sambil menangkupkan kembali kedua tangannya di pipiku.
Perlahan aku pun menarik kedua tangannya, agar terlepas dari pipiku. Jujur saja, ini sangat sulit untukku menepis semua ungkapan darinya. Siapa yang tidak bahagia jika cintanya ternyata terbalas? Pasti setiap orang mengharapkan hal itu bukan? Akan tetapi aku belum bisa sepenuhnya percaya kepada Kak Devano, karena sikapnya yang dulu seperti apa kepadaku.
"Lebih baik Kak Devan mandi dulu! agar tubuh Kak Devan terlihat segar kembali," ucapku sambil berjalan untuk mengambilkan handuk untuknya.
Setelah itu, aku pun langsung memberikannya kepada Kak Devano agar dia bisa segera untuk mandi. Akan tetapi tiba-tiba saja tangannya kembali meraih pinggangku dengan lengan kekarnya. Aku pun kembali diam dan mematung di tempat.
"Apa kamu tidak ingin mandi bersama, Sayang?" bisik Kak Devan tepat di samping telinga ku. Sehingga membuat merinding hingga semua bulu kuduk ku berdiri.
Kini hembusan napasnya yang terasa hangat, menerpa tekuk leherku. Dan membuat aliran darah ku kembali berdesir dan memanas.
Tak berselang lama, aku pun akhirnya kembali tersadar dan mencoba untuk melepaskan pelukannya.
"Ti-tidak, Kak! Nanti saja aku akan mandi setelah Kak Devan," ucapku sambil tergagap.
"Mungkin saat ini kamu akan menolakku, tetapi percayalah! Tidak akan lama lagi kamu pasti akan segera mempercayai semua ucapan ku, Sayang. Maafkan aku!" ucapnya dengan wajah yang masih tersembunyi.
Cup!
Kini kecupan singkat mendarat di pipiku dengan tiba-tiba, yang seperti biasa tanpa aba-aba.
Lalu dia pun berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan ku sendiri yang masih terpaku di tempat.
'Mungkin aku harus membiasakan diri untuk mendapatkan serangan dadakan dari Kak Devan,' gumamku dalam hati, sambil memandangi punggungnya yang kini mulai menghilang setelah pintu tertutup.
Jika ditanya bagaimana perasaan ku saat ini? Aku sangat bahagia. Akan tetapi aku juga takut jika ini hanyalah kebahagiaan semu yang hanya sementara saja.
Karena bagaimana pun juga, aku tidak mungkin semudah itu mempercayai setiap ucapan dan perlakuan yang mendadak berbanding terbalik dengan sebelumnya.
__ADS_1
Akan tetapi, tiba-tiba aku mengingat kembali saat dia dengan begitu ikhlas dan tulusnya menjadi pendonor untukku, di saat aku menduganya jika dia meninggalkan ku karena penyakit ku. Tetapi setelah aku tau jika dia juga sedang melakukan pemulihan, hatiku pun membuka celah kembali untuknya.
Kini pintu kamar mandi pun terbuka kembali. Dan keluarlah sosok yang sedari tadi berkecamuk di dalam hati dan pikiran ku.
Akan tetapi aku pun langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku, saat melihatnya keluar hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah perutnya. Dan tanpa sengaja aku pun melihat jelas tubuh sixpack nya.
"Aaaaaa ... Kak Devan! Mengapa Kakak tidak memakai pakaian di dalam kamar mandi?" seruku sambil menutup wajahku.
Lalu aku pun langsung membalikan badanku, agar aku tidak melihatnya tanpa pakaian.
Akan tetapi tanpa ku duga....
Kini tangan kekarnya kembali melingkar di pinggang rampingku. Aku yang merasa terkejut langsung memekik.
"Aaarghh!" pekikku.
"Ssttt! Diamlah, Sayang! Aku hanya ingin memelukmu saja. Tenang saja aku masih bisa menahannya untuk saat ini, akan tetapi aku tidak yakin jika akan bisa bertahan lama. Karena saat berada di dekatmu, tubuhku seperti mendapatkan tarikan magnet dari dalam tubuhmu. Jadi ingin rasanya aku terus menempel denganmu." ucap Kak Raga tepat di samping telinga.
Aku pun mencoba untuk melepaskan diri darinya. Karena untuk saat ini aku pun belum siap, jika dia meminta haknya dariku.
"Tetapi pakai dulu pakaian Kakak! Aku belum terbiasa melihat seorang laki-laki yang tidak memakai pakaian seperti saat ini. Tolong lah, Kak!" ucapku sambil memberontak.
Kak Devan pun terkekeh geli melihat tingkahku.
"Hahaha, oke Sayang! Tetapi kamu harus ingat, kamu akan mulai terbiasa melihat penampakan ini, bahkan melihatnya tanpa tertutup satu helai benang pun." ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Kak Devan!" pekikku dengan suara lantang.
"Hehehe, oke.. oke, Sayang! Baiklah aku akan menggunakan pakaian ku terlebih dahulu, sesuai dengan perintah Tuan Putri tercintaku," ucapnya sambil melepaskan pelukannya dariku.
Kini aku pun bisa bernapas lega, lalu aku pun mencoba untuk menetralkan kembali debaran jantungku yang bertalu-talu.
'Astaghfirullahal'adzim! Seperti hampir copot jantungku ini!' gerutuku dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....