
"HENTIKAN!"
Semua mata pun langsung tertuju ke arah Andini, yang saat ini sedang menatap tajam ke arah dua orang yang sedang melakukan perdebatan sengit.
Rahma yang melihat menantunya yang saat ini sedang berada di antara keributan mereka. Kini langsung menghampiri wanita yang baru saja melahirkan cucunya.
"Sayang, kenapa kamu keluar dari kamar? Seharusnya kamu di dalam kamar dan beristirahat saja. Tidak baik jika kamu melihat kejadian yang seharusnya tidak perlu kamu ketahui. Semua ini hanyalah kesalahpahaman saja, Sayang. Mama tau, jika wanita ular itu hanya ingin menjebak Devan lagi. Percayalah, Sayang!" tutur Rahma sambil mengusap lembut punggung Andini.
Andini yang sudah merasa kecewa kembali dengan kejadian yang baru saja dia saksikan. Kini membuatnya, harus kembali menelan kekecewaan untuk kedua kalinya.
"Apakah aku harus mempercayai apa yang baru saja aku dengar dan ku lihat, atau ini, Ma?" tanya Andini sambil mengangkat kertas yang berisi hasil tes DNA.
Devano pun langsung membelalakkan matanya, saat dia melihat Andini membawa kertas yang sempat dia lempar ke sembarang arah. Dia sebelumnya tidak pernah berpikir, jika Andini akan mengambil kertas itu. Dan saat ini, pikirannya pun kembali teringat tentang kejadian beberapa bulan yang lalu.
Dengan cepat Devano mengayunkan kakinya ke arah Andini. Dia berniat ingin merengkuh tubuh mungil itu, dan membawanya ke dalam pelukannya.
Akan tetapi, siapa sangka dia saat Devan ingin meraih tubuh istrinya. Kini Andini justru memundurkan langkahnya dan menghindari Devan.
"STOP! Jangan menyentuh ku, Kak! Tolong jangan sentuh aku! Seharusnya aku sadar diri untuk tidak menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Dan mungkin keputusan ku untuk pergi darimu adalah salah satu keputusan yang tepat. Oh, ya, satu lagi. Jika memang hasil tes DNA ini benar adanya, maka aku dan Arvin akan pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu. Dan aku ingin kita bercerai!" cetus Andini dengan suara lantang.
Devan dan orang-orang yang mendengar ucapan Andini, langsung tertegun dengan mata yang membola sempurna. Rahma yang juga mendengar ucapan menantunya, kini merasa sangat terkejut. Dia tidak menyangka, jika Andini akan kembali berpikir sejauh itu.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Jangan pernah mengatakan hal itu! Aku yakin jika wanita itu hanya ingin menjebak Devan kembali. Percayalah, Nak!" celetuk Rahma.
"Tolong, Sayang! Aku mohon, tarik kembali ucapan mu itu! Percayalah kepadaku! Jika aku tidak pernah menyentuh wanita ular itu lagi, setelah aku memutuskan untuk bersamamu." jelas Devan.
Andini pun langsung tertawa lepas, saat mendengar ucapan suaminya. Saat ini dia tertawa dengan derai air mata yang mengalir dengan derasnya.
"Hahaha... Harus kah aku percaya?! Oh, sepertinya, TIDAK! Jika sampai aku melakukannya lagi, maka aku akan menjadi wanita terbodooh yang selalu di bohongi oleh kalian semua. Seharusnya aku sadar diri, dengan posisi ku saat itu. Dan mungkin benar, jika pernikahan kita hanyalah sebatas pernikahan kontrak saja. Dan waktunya pun telah berakhir, jadi aku akan mengurus surat-surat untuk pengajuan gugatan cerai kita, Pak Devano Wicaksana!" papar Andini dengan tatapan mata tajam.
Rahma yang baru saja mendengar tentang pernikahan kontrak itu, langsung melayangkan tatapan penuh selidik kepada putra semata wayangnya.
"Apa maksud dari ucapan Andini, Van? Apa maksud dari pernikahan kontrak? Apa selama ini kamu mengikat Andini dengan surat perjanjian itu?" tanya Rahma.
"Surat itu sebenarnya hanyalah akal-akalan ku saja, Ma. Dan surat itu pun sudah hilang entah kemana. Saat aku mencoba mencari dan ingin membakar surat itu, tetapi justru tidak menemukannya. Maka aku tidak mau ambil pusing dan menganggap semuanya telah berakhir." jelas Devan.
"Dan surat itu akan ku gunakan untuk mengajukan surat gugatan cerai kita ke pengadilan, Pak Devano!" sela Andini.
Devan pun kembali terkejut dengan ucapan istrinya. Dia jadi teringat saat dia mengatakan jika surat itu hanyalah alibinya untuk mendapatkan Andini, tepat di saat malam pengantin mereka.
"Maksud kamu apa, Sayang? Atau jangan-jangan surat itu? Jangan bilang kalau......." Devan pun sengaja menjeda pertanyaannya, dan ingin mendengar semuanya secara langsung dari istrinya.
"Ya. Surat perjanjian nikah kontrak itu memang ada di tanganku. Dan itu sangat berguna untuk di saat seperti ini. Dengan surat itu, dengan mudah aku bisa terbebas dari anda, Pak Devano. Semoga setelah ini, Anda tidak pernah mengusik saya dan putra saya lagi!" ucap Andini dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Devano kembali membelalakkan matanya, dia tidak pernah sedikitpun berpikir sejauh itu. Bahkan dia sudah melupakan perjanjian nikah kontrak itu, setelah dia menyatakan perasaannya kepada Andini.
"TIDAK! JANGAN PERNAH KAMU BERPIKIR UNTUK PERGI DAN MENINGGALKAN KU LAGI, ANDINI AMALIA! AKU PASTIKAN KAMU DAN PUTRA KITA, TIDAK AKAN KELUAR DARI RUMAH INI, MESKIPUN HANYA SELANGKAH SAJA!" bentak Devan.
Andini pun langsung terdiam dan membatu di tempat. Dia tidak pernah menyangka, jika suaminya akan membentaknya. Di saat yang sama, setelah bentakan keras itu, menjadikan dunianya seketika runtuh dan hancur berkeping-keping.
Orang yang dia anggap sebagai pemimpin dan imam di dalam keluarga kecilnya. Kini dia dengan lantang membentaknya di depan semua orang yang berada di sana, termasuk mantan kekasih suaminya.
"ANDA TIDAK BERHAK UNTUK MELARANG DAN MEMBENTAK SAYA, PAK DEVANO WICAKSANA! APAKAH ANDA BELUM PUAS, TELAH MERUNTUHKAN DAN MENGHANCURKAN HIDUP SAYA, HUH?" gertak Andini, saat di kembali tersadar.
Devan yang melihat sorot mata yang penuh dengan luka dan kecewa, kini hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Bentakan keras yang baru saja dia katakan kepada istrinya, semua itu tanpa sengaja lolos begitu saja dari mulutnya.
Semua itu terjadi secara tiba-tiba. Saat Andini kembali memojokkan nya dan tetap kekeuh untuk menggugat cerai dirinya. Saat melihat buliran bening kembali membasahi pipi Ibu dari putranya, rasa bersalah pun kembali hingga pada dirinya.
"Sa-sayang? Maafkan aku! Aku tak bermaksud untuk membentak mu. Aku mohon, jangan pernah katakan hal itu lagi. Aku mohon, percayalah kepadaku! Dia hanya ingin menghancurkan kehidupan kita, Sayang. Dia itu bukan manusia, dia itu siluman ular yang sangat beracun dan berbahaya. Dia hanya ingin melihat kehancuran ku kembali, Sayang. Aku mohon, percayalah!" jelas Devan.
Tepat di depan Andini, Devan pun langsung bersimpuh disertai dengan buliran bening yang sudah jatuh, entah sejak kapan.
Dan saat Devan melihat Andini lengah, dia pun langsung mengambil kesempatan untuk lebih mengikis jarak diantara mereka. Pada akhirnya, Devan berhasil merengkuh tubuh mungil yang selalu dia rindukan setiap waktu.
"LEPASKAN!"
__ADS_1