
Di saat Andini sedang berada di titik keterpurukannya, kini Devan memberikan peringatan kepada Vania yang masih terjerat dalam jebakannya sendiri.
"Jangan kamu kira aku tidak tau apa tujuan mu datang ke rumah ini, Vania! Apa kamu pikir aku adalah laki-laki yang bodooh, yang bisa kamu manfaatkan untuk menanggung aib mu itu?" gertak Devan saat melihat Vania yang masih bungkam.
'Apakah Devan sudah mengetahui semua tentang kejadian itu, setelah aku memutuskan untuk pergi dengan Damian setelah melakukan penjebakan itu?' batin Vania.
"Apakah sekarang kamu tuli dan bisu, wanita jalaang?" hardik Devan.
Vania pun terlonjak, dengan raut wajah yang pias. Dia tidak pernah berpikir jika Devan akan berbuat di luar dugaannya. Padahal sebelumnya dia sudah menyusun rencana dan strategi yang sangat matang sebelum datang ke rumah Devan.
"Jawab aku, wanita jalaang?!" tegas Devan dengan tatapan mata tajam.
Vania pun seketika menjadi kehilangan akal, karena nyalinya yang sedikit menciut dan dia sama sekali tidak bisa berkutik. Selain Devan, di ruangan itu juga ada beberapa bodyguard yang menjadi orang-orang kepercayaan Devan.
"Dev-an, a-aku minta maaf!" ucap Vania dengan suara yang bergetar dan terbata.
"Hah? Hanya itu yang bisa kamu katakan kepadaku sekarang, setelah kamu menghancurkan kehidupan ku untuk kesekian kalinya, Vania?! Apa kamu pikir aku akan memaafkan mu begitu saja dengan mudahnya?! Ku pastikan jika hidupmu akan lebih menderita dari pada ini!" geram Devan dengan rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal kuat.
"A-ampun, Van! Aku berjanji, jika aku tidak akan mengusik dan mengganggu mu lagi. Dan aku pastikan jika kamu tidak akan melihatku lagi di kota dan negara ini. Aku akan pergi sejauh mungkin dari kalian." mohon Vania sambil berlutut di hadapan Devan.
__ADS_1
Devan yang sudah kehilangan kesabaran dengan membiarkan Vania bebas, maka saat ini dia sama sekali tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Vania yang datang sendiri untuk masuk ke kandang singa, maka dia juga harus bersiap-siap untuk menjadi mainan dan santapan untuk para singa-singa yang kelaparan.
"Apa? Kamu ingin bebas? Jangan pernah bermimpi, wanita jalaang!" geram Devan sambil mencengkeram dagu Vania hingga meninggal bekas merah.
Vania pun hanya bisa meringis saat mendapatkan perlakuan dari mantan kekasihnya. Dia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan dan memberontak. Di tambah lagi saat ini dia dikelilingi oleh beberapa pria yang berbadan besar dan kekar.
"Ampun, Van! Ampun! Aku berjanji, tidak akan pernah mengulanginya lagi! Tolong lepaskan aku!" pinta Vania sambil berlutut di depan Devan.
Vania yang awalnya datang dengan keangkuhan dan kepercayaan diri yang tinggi, layaknya singa betina yang sedang menantang sang singa jantan untuk beradu. Kini Vania hanya menjadi seperti kucing kecil yang tidak memiliki nyali sedikitpun.
Si kembar yang menjadi bodyguard sekaligus sebagai kepercayaan Devan untuk menjaga keamanan di rumahnya. Mereka langsung mendekat ke arah Devan dan melaksanakan perintah dari Bos mereka.
"Apakah Bos yakin jika ini tidak akan beresiko? Apakah bayinya akan baik-baik saja?" tanya Franz sambil melirik ke arah Vania yang masih berderai air mata.
"Aku sama sekali tidak peduli tentang bayi itu! Karena bayi itu hanyalah pembawa sial untuk kehidupan dan rumah tangga ku nanti. Bahkan dia juga tidak bisa resiko dari tindakannya itu. Oh, ya.. pastikan jika saat dia akan melahirkan nanti, dia hanya akan melahirkan di sini. Karena aku sama sekali tidak pernah Sudi untuk mengurusi mereka yang sama sekali bukan tanggung jawabku." tegas Devan.
Franz yang sejak tadi sudah menahan Vania agar tidak nekat untuk masuk ke dalam rumah Devan, kini hanya bisa melirik dan wajah Vania yang sudah sangat terlihat pucat.
__ADS_1
Sedangkan Ferdinand yang selalu tegas dan kaku, kini hanya menatap datar ke arah Vania dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan Vania pun semakin tidak memiliki nyali, saat mendapatkan tatapan dari beberapa orang-orang di sekitarnya.
'Apa yang sebenarnya ingin Devan lakukan kepadaku? Mengapa dia tidak membebaskan ku saja, dan membiarkan ku pergi dari rumah ini dan kehidupannya. Oh, Vania! Kamu pasti akan habis di dalam rumah ini. Kamu memang benar-benar bodooh! Karena tidak memikirkan tentang resiko yang akan kamu hadapi.' batin Vania yang merutuki kebodohannya.
"Lakukan saja apa yang aku katakan tadi! Dan ingat! Jangan sampai dia membuat kalian terperdaya oleh rayuan dan godaannya! Jika kalian sampai melakukan kecerobohan sedikitpun, maka aku sendiri yang akan memberikan sanksi tegas itu!" tegas Devan.
Tanpa ingin membuang-buang waktu lagi untuk meladeni wanita ular itu. Kini Devan langsung keluar dan meninggalkan Vania dengan beberapa bodyguardnya.
.
.
"Sayang, makanlah sedikit saja! Mama mohon, jangan biarkan Arvin menangis karena kehilangan jatah ASI nya!" bujuk Rahma.
Andini pun masih bergeming, dan masih enggan untuk mengeluarkan suara sedikitpun. Dia hanya bisa menghela napas panjang, tanpa menoleh ke arah Rahma.
"Bagaimana, Ma? Apakah Andini sudah mau makan dan berbicara?" tanya Devan hati-hati.
Dia tidak ingin, jika kedatangannya akan menggangu ketenangan istri tercintanya. Karena saat ini dia hanya ingin memastikan jika wanitanya sudah lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
"Tidak, Van. Andini masih belum mau makan dan mengeluarkan suaranya. Bahkan bujukan dan rayuan Mama pun di abadikan oleh menantu kesayangan Mama." terang Rahma sambil menatap lekat wajah sang putra semata wayangnya.