Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Maafkan andini, Ma.


__ADS_3

Setelah berunding dengan kedua orang yang telah menolongnya. Akhirnya Andini memutuskan untuk menemui Devano, meskipun masih terbesit sedikit keraguan di dalam hatinya.


Tap... Tap... Tap...


Suara hentakan kaki wanita hamil itu membuat penjaga pintu gerbang itu merasa sangat terkejut. Dia pun langsung menghampiri wanita hamil itu dan membukakan pintu gerbang untuknya.


"Non Andini? Non, kemana saja? Mengapa Non menghilang begitu saja? Kasian Tuan Devano yang kalang kabut untuk mencari keberadaan Non Andini, bahkan Tuan Devano semakin tidak terurus setelah kepergian Non Andini." Penjaga itu langsung memberondongi berbagai macam pertanyaan kepada istri majikannya.


"Nanti saya akan menceritakan semuanya kepada kalian. Tetapi saya minta tolong, bukakan pintu gerbang dan biarkan taksi itu masuk ya, Pak Miko?" pinta Andini dengan seulas senyum.


Rasa haru dan syukur dia ucapkan, setelah berbulan-bulan lamanya istri Tuannya menghilang. Akhirnya dia pun langsung memberikan instruksi kepada sopir taksi itu untuk masuk ke dalam.


Setelah taksi memasuki halaman yang sangat luas dan rumah bertingkat tiga, Andini pun langsung mengajak Bi Sarah dan Pak Purnomo untuk mengikutinya.


Sedangkan Pak Miko langsung berlari dan menyusul istri majikannya. Senyuman pun terpancar dari wajah Pak Miko, kemudian Pak Miko membukakan pintu untuk istri Tuannya.


"Selamat datang kembali, Nona. Saya akan memanggilkan Nyonya Rahma dan semua asisten rumah tangga di sini. Saya sangat yakin, jika mereka akan sangat merasa bahagia dengan kedatangan Non Andini. Non Andini, Ibu dan Bapak tolong tunggu di sini sebentar dan silahkan duduk dulu sembari menunggu." ujar Pak Miko dengan Antusias.


Entah mengapa, Pak Miko yang seharusnya standby di pos jaga dan menjaga pintu gerbang, kini justru memilih untuk mengantarkan istri Tuannya masuk ke dalam rumah mewah itu.


Tak berselang lama kemudian, akhirnya suara langkah kaki yang menuruni anak tangga terdengar sangat jelas, dan tepat di pertengahan pijakannya wanita paruh baya itu langsung mempercepat langkah kakinya, setelah mengetahui siapa yang datang ke rumah putranya.


"ANDINI?!" pekik Rahma, yang sudah tiba di anak tangga terakhir.


Dengan langkah kaki panjang, wanita paruh baya itu pun semakin mempercepat langkah kakinya, dan langsung memeluk menantu kesayangannya.


"Andini? Sayang? Kemana saja kamu, Sayang? Mengapa kamu pergi meninggalkan kami? Dan mengapa kamu tidak memberikan kabar apapun kepada kami?" cecar Rahma yang memberondongi berbagai macam pertanyaan kepada menantu kesayangannya.

__ADS_1


Andini pun masih bergeming dan memeluk erat wanita paruh baya yang sudah dia anggap sebagai Ibunya sendiri. Pelukan yang semakin erat, dengan diiringi dengan suara isakan tangis di dalam ruangan itu.


"Apa kamu tau? Setelah kepergian mu, hidup Devan semakin kacau dan hancur. Bahkan, dirinya pun seperti tak terawat dan tubuhnya kini semakin kurus." cetus Rahma yang masih memeluk Andini.


"Maafkan Andini, Ma! Andini memang egois. Andini memang tidak pantas untuk menjadi istri Kak Devan. Seharusnya Andini tidak pergi saat itu dan membuat kalian semuanya cemas. Maafkan aku, Ma! Maaf!" ucap Andini lirih.


Rahma pun langsung merenggangkan pelukannya, kemudian dia langsung menyadari jika perut Andini kini sudah membesar. Dia pun langsung mengusap lembut perut buncit itu.


"Ssstt!! Sudahlah! Lebih baik kamu duduk terlebih dahulu. Mama akan menghubungi Devan, agar dia memutar arah tujuannya. Mungkin dia belum terlalu jauh." ujar Rahma, sambil meraih ponselnya.


Tepat di dering pertama, panggilan suara pun langsung terjawab oleh Devan.


"Halo, Van?" panggil Rahma.


"Iya. Halo Ma. Ada apa?" sahut Devan.


"Ada apa, Ma? Maaf, Devan tidak bisa kembali. Devan harus mencari Andini sampai ketemu, Ma. Devan sangat merindukannya. Mama juga tau itu. Jadi Devan mohon, jangan biarkan Devan kembali frustrasi seperti dulu lagi!" celetuk Devano.


Andini yang mendengar ucapan Devan, kini semakin membuatnya gusar. Jantungnya kini berdegup kencang, setelah dia mendengar suara Devan yang mengatakan jika sangat merindukannya.


"Cepatlah kembali! Jika kamu tidak ingin menyesalinya! Dan jangan sampai kamu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kejutan dari Mama!" titah Rahma, yang sedikit merasa geram karena ketidakpekaan sang putra semata wayangnya.


"Em. Baiklah. Lima belas menit lagi aku akan sampai di rumah." jawab Devano.


Kemudian panggilan pun terputus sepihak oleh Devano. Rahma yang sudah sangat mengenal bagaimana perangai sang putra, hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar, anak tidak punya sopan santun! Awas saja nanti kalau sudah pulang! Aku tidak akan membiarkannya untuk mendekati menantu kesayangan ku ini." gerutu Rahma sambil memajukan bibirnya.

__ADS_1


Andini, Bi Sarah dan Pak Purnomo yang melihat tingkah Rahma hanya bisa menahan tawanya. Melihat Rahma yang seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk, membuat ketiga orang beda usia itu hanya mengulum senyum.


"Sudahlah, Ma. Biarkan saja. Yang terpenting sekarang Kak Devan sudah berputar arah dan pulang." ucap Andini dengan seulas senyum.


Sejujurnya, setelah sekian lama tidak bertatap muka dengan Ibu mertuanya, kini sedikit membuatnya canggung. Bahkan dia juga tidak bisa berpikir, bagaimana reaksinya nanti saat bertemu dengan sosok yang sangat dia rindukan itu.


"Oh, iya. Kamu belum menjelaskan semuanya kepada Mama, Sayang. Dan em, maaf! Siapa Ibu dan Bapak yang datang bersamamu?" ucap Rahma yang menuntut penjelasan dari Andini.


Andini pun langsung menatap kedua pria dan wanita yang telah menolongnya itu. Setelah mendapatkan persetujuan dari keduanya, akhirnya Andini pun menjelaskan semuanya kepada Rahma.


"Jadi seperti itu, Ma. Bi Sarah dan Pak Purnomo adalah malaikat penolong untuk kami. Jika Andini tidak bertemu dengan mereka, entah apa yang terjadi dengan kami." jelas Andini.


Rahma yang sudah memahami situasi yang sedang dialami oleh wanita hamil itu, hanya bisa menatapnya dengan tatapan sendu. Dia tidak pernah menyangka, jika menantunya mendapatkan pertolongan dari orang-orang baik.


"Terimakasih banyak Pak Purnomo dan Bu Sarah. Saya sebagai Ibu dari Andini, tidak bisa mengucapkan banyak kata-kata dan membalas Budi atas kebaikan kalian. Tetapi nanti setelah putra saya datang, dia yang akan mewakili saya untuk berbicara. Tetapi sebelumnya saya benar-benar mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada kalian." tutur Rahma dengan tulus.


Setelah beberapa saat menunggu kehadiran sosok yang mereka nantikan. Akhirnya suara deru mobil yang memasuki halaman rumah terdengar oleh telinga mereka.


Andini yang juga sangat menantikan kehadiran sosok yang sangat dia rindukan itu, hanya bisa menautkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Tap... Tap... Tap...


Ceklek!


Pintu pun terbuka lebar dan menampilkan sosok pria matang yang terlihat sangat kurus dan sedikit berantakan.


Baru hendak melanjutkan langkahnya, kini pria itu langsung menghentikan langkahnya sambil membelalakkan matanya.

__ADS_1


"SAYAAANGG?!"


__ADS_2