Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Apakah dia mau menerimaku, Bi?


__ADS_3

Minggu demi Minggu terlewati dan kini telah berubah menjadi bulan. Tak terasa saat ini kandungan Andini sudah memasuki bulan ke sembilan. Dia dan Bi Sarah pun sudah tidak sabar untuk menunggu hadirnya malaikat kecil Andini.


Tinggal menunggu hitungan hari saja, Andini akan bertemu dengan sosok mungil yang selalu dinantikan. Entah laki-laki atau perempuan, karena Andini sengaja meminta sang Dokter kandungan untuk tidak memberitahukannya. Dia ingin mendapatkan sebuah kejutan dari malaikat kecilnya itu.


"Nak, hari ini bukankah jadwal periksa ke Dokter Erina? Kenapa kamu belum bersiap-siap untuk pergi?" tanya Bi Sarah yang melihat Andini sedang melamun.


"Coba katakan kepada Bibi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Bi Sarah lagi.


Andini pun kembali menimbang kata-kata yang akan dia ucapkan kepada Bi Sarah. Sejujurnya beberapa bulan terakhir ini, dia sangat merindukan kehangatan dan kasih sayang sang suami, Devano Wicaksana.


"Bi, Salahkah jika aku merindukan dia?" tanya Andini sembari menundukkan kepalanya.


Bi Sarah pun langsung mengerti siapa yang dimaksud 'DIA' oleh Andini. Bi Sarah yang merasakan sebuah kerinduan yang mendalam melalui sorot mata Andini, kini merasa sedikit terkejut dengan pernyataan wanita yang sedang hamil tua itu.


"Tidak, Sayang. Kamu tidak salah jika merindukan suamimu sendiri. Karena seharusnya kalian saat ini sedang bersama-sama untuk menikmati momen-momen yang sangat penting ini." ujar Bi Sarah.


Andini yang merasa jika matanya sudah memanas, kini sudah tidak mampu lagi menahan buliran bening di pelupuk matanya yang sudah menggenang. Akhirnya buliran bening itu tumpah membasahi pipi chubby Andini.


"Jika kamu ingin bertemu dengannya, Bibi akan mengantarkan mu, Sayang. Bibi akan menelpon Pur dulu, agar dia bisa mengantarkan kita untuk ke kota." ujar Bi Sarah lagi.


Lagi dan lagi, Andini menangis di dalam pelukan tubuh gempal Bi Sarah. Dia pun merasa dilema, sejujurnya dia ingin pergi, tetapi saat teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, kini seakan membuatnya sedikit ragu.


'Apakah kamu juga merindukan aku, Kak? Apakah kamu juga mencari keberadaan ku? Atau kamu sedang bahagia dengan wanita barumu, setelah kepergian mu?' batin Andini, yang tiba-tiba hatinya terasa nyeri kembali.


Tetapi saat Andini terlalu menekankan perasaannya, kini bayi yang masih berada di dalam kandungannya, menendang dengan sangat kuat sehingga membuatnya meringis.


"Awh!" ringis Andini sambil memegangi perutnya yang sudah membuncit.

__ADS_1


"Apakah dia menendang?" tanya Bi Sarah yang mulai mengusap perut Andini.


Di sela isakan tangisnya, Andini pun menganggukkan kepalanya disertai dengan seulas senyum tipis.


"Mungkin dia juga merasakan hal yang sama denganmu, Nak. Kembalilah kepadanya, biarkan dia melihat perkembangan anaknya meskipun hanya sebentar saja." usul Bi Sarah.


Andini yang masih merasakan keraguan di dalam hatinya, kini hanya mengangguk samar. Meskipun dia sangat ingin, tetapi masih terbesit kekecewaan di dalam hatinya.


"Baiklah. Bersiaplah! Bibi akan menghubungi Pur terlebih dahulu, semoga dia saat ini tidak jauh dari sini." ucap Bi Sarah.


Andini pun patuh. Dia pun langsung menuruti perintah dari Bi Sarah. Kini wanita hamil tua itu perlahan memasuki kamarnya dan bersiap-siap.


Selang setengah jam kemudian, akhirnya keduanya telah bersiap dan Pak Purnomo pun telah tiba di rumah sederhana milik Bi Sarah.


"Maaf, Pak Pur! Jika saya kembali merepotkan Pak Pur." ucap Andini yang merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Neng Andini. Saya juga sedang berada di dekat sini, pada saat Bi Sarah menelpon saya." terang Pak Purnomo sambil melirik ke arah Bi Sarah.


Andini pun menganggukkan kepala dan mempercayainya begitu saja, tanpa menaruh rasa curiga kepada kedua orang yang berada di depannya.


Akhirnya mereka pun bergegas menuju ke mobil taksi yang dikendarai oleh Pak Purnomo. Mobil yang bertuliskan Taksi itu langsung dikemudikan oleh sang empu, dengan kecepatan sedang dan hati-hati.


"Neng Andini masih ingat kan jalan ke rumah suaminya? Tolong masukkan di GPS saya ya, Neng. Biar nanti saya tidak menggangu istirahat Neng Andini." tutur Pak Purnomo.


Andini pun lalu meraih ponsel yang di sodorkan oleh Pak Purnomo, kemudian dia langsung mengetikkan alamat Devano. Dan menyerahkan kembali ponsel itu, setelah alamatnya sudah terlihat di GPS.


"Baiklah, Neng. Sekarang kalian beristirahatlah terlebih dahulu. Jika nanti sudah sampai, saya akan membangunkan kalian" ucap Pak Purnomo.

__ADS_1


"Baik, Pak. Terimakasih banyak atas bantuan anda. Saya benar-benar berhutang budi kepada anda." ucap Andini dengan tulus.


"Sama-sama, Neng. Sudah seharusnya kita saling tolong menolong. Sebaiknya Neng Andini beristirahat dulu, perjalanan kita juga masih jauh, dan memerlukan waktu beberapa jam untuk sampai di tempat tujuan." jelas Pak Purnomo.


Tak berselang lama kemudian, rasa kantuk pun menghampiri wanita yang sedang hamil tua itu. Bi Sarah yang melihat mata Andini yang memerah karena menahan rasa kantuk, kini langsung menarik perlahan tubuh Andini ke dalam pelukannya. Andini pun kembali patuh dan menyandarkan kepalanya di bahu Bi Sarah, dan akhirnya dia pun langsung terlelap di dalam mimpinya.


***


"Neng, bangun yuk! Kita udah sampai. Apa benar ini rumahnya?" tanya Pak Purnomo.


Andini pun langsung terbangun, entah berapa lama dia bersandar di bahu Bi Sarah. Mungkin jika tidak merasa sungkan, wanita paruh baya itu pasti sudah mengeluh karena badannya merasa pegal-pegal.


"Eh, i-iya, Pak. Benar ini rumahnya." jawab Andini sambil menyapu sekelilingnya.


'Ternyata semuanya masih sama, dan tidak berubah sama sekali.' batin Andini.


Tetapi saat dia hendak turun dari taksi yang dikendarai oleh Pak Purnomo, Andini mengurungkan niatnya. Karena tiba-tiba pandangannya menjurus ke sebuah gerbang yang terbuka, dan menampilkan mobil yang sangat dia kenali.


Andini yang masih bergeming, kini hanya menatap mobil sport tersebut yang semakin menjauh dari pandangannya.


Bi Sarah yang merasakan sesuatu hal, kini sedikit mengguncang bahu Andini agar tersadar dari lamunannya.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa tidak jadi turun, Nak?" tanya Bi Sarah yang mulai kebingungan.


"Em, dia sudah pergi, Bi. Entah dia akan kemana, padahal ini sudah sore dan seharusnya dia saat ini berada di rumah." ucap Andini sambil menghela napas panjang.


Bi Sarah dan Pak Purnomo pun langsung tanggap dengan ucapan Andini. Mereka pun masih menunggu keputusan Andini, apakah dia akan pergi dari tempat itu atau masuk ke dalam rumah itu?

__ADS_1


"Apakah aku harus menemuinya saat ini juga, Bi? Apakah dia akan menerima ku kembali, setelah berbulan-bulan aku meninggalkannya?" tanya Andini dengan suara parau.


__ADS_2