
"LEPASKAN!"
Andini pun memberontak saat tubuhnya sudah berada di dalam pelukan Devano. Sedangkan Devano hanya terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya, karena dia tidak ingin kembali kehilangan separuh hatinya lagi.
"LEPASKAN SAYA, PAK DEVANO WICAKSANA! LEPAS!" berontak Andini.
Semakin Andini memberontak, maka pelukan itu akan semakin erat. Bahkan saat Andini berhasil melepaskan satu tangannya dan mendorong tubuh Devan. Devan pun sama sekali tak bergeming.
"Lepaskan aku, Kak! Lepas! Aku mohon lepaskan dan bebaskan aku! Biarkan aku hidup bahagia, meskipun harus tanpamu. Jangan biarkan aku kembali tersiksa dengan hubungan yang mengikat ku ini. Lepaskan a-aku!" racau Andini.
Tiba-tiba tubuh Andini semakin melemas dan seketika kehilangan kesadarannya. Devano yang menyadari bahwa istrinya mulai kehilangan kesadarannya, kini langsung membawa tubuh wanita itu untuk masuk ke dalam kamar.
"Tolong panggil Dokter Andra sekarang, Ma!" pinta Devan kepada Rahma.
Rahma pun dengan sigap langsung meraih ponselnya, dan langsung mencari nama Dokter pribadi keluarganya. Setelah menemukan nama yang tertera, Rahma pun langsung memencet tombol berwarna hijau, untuk melakukan panggilan kepadanya.
"Dan satu lagi, jangan biarkan wanita ular itu keluar dari rumah ini! Jaga dia jangan sampai keluar dari rumah ini!" titah Devan kepada salah satu penjaga di rumahnya.
Vania yang merasakan aura dingin dari tatapan mata Devan, hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Entah apa yang akan dilakukan oleh Devan kepadanya nanti. Dan sepertinya keputusan untuk mendatangi rumah Devan, adalah kesalahan yang sangat besar untuknya.
"Apa yang akan Devan lakukan kepadaku? Mengapa tatapannya terlihat sangat menakutkan? Ah, tenang Vania. Percayalah, semua akan baik-baik saja." gumam Vania sambil menenangkan dirinya sendiri.
Vania yang saat ini sedang diselimuti dengan rasa ketakutan, hanya bisa pasrah dan berharap Devano akan melepaskannya nanti.
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai, kembali terdengar dengan jelas saat langkah kaki tersebut semakin mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Saat dia mendongakkan kepalanya, kini terlihat jelas sosok wanita paruh baya yang selalu menentang keras hubungannya dengan Devano. Bahkan wanita itu dulu pernah memintanya secara langsung, agar meninggalkan putra semata wayangnya.
"Tunggulah sampai putraku sendiri yang akan memberikan hukuman yang setimpal kepadamu, wanita jalaang!" ancam Rahma dengan tatapan mata tajam.
Oee... Oee... Oee...
Tiba-tiba suara tangisan bayi Arvin pun kembali terdengar dengan keras. Mungkin dia juga merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Bundanya.
Rahma yang mengambil alih gendongan itu dari tangan Bi Sarah, langsung menimang-nimang bayi Arvin dengan penuh kasih sayang. Namun, bayi Arvin tidak kunjung diam dan justru tangisannya semakin kencang.
Devano yang mendengar suara tangisan putranya, langsung keluar dari kamarnya dan menghampiri sang putra tercinta. Dengan cekatan, Devano pun mengambil alih gendongan putranya, kemudian menimang-nimangnya dan menciumi seluruh wajahnya dengan lembut.
"Ada apa, Sayang? Mengapa kamu masih menangis? Ada Ayah di sini. Em, apakah kamu haus?" tanya Devano kepada bayi Arvin.
"Mungkin saja dia haus, Van. Dia sepertinya ingin meng ASI Bundanya. Tapi kan saat ini Andini sedang tidak sadarkan diri, jadi lebih baik kita menggunakan susu formula untuk sementara waktu, hingga Andini kembali tersadar nanti." usul Rahma.
"Pak Purnomo dan Bu Sarah, bisakah kalian membantu saya untuk membelikan susu formula?" tanya Devano dengan sopan.
"Tentu saja kami mau, Tuan. Kami akan membelikan susu itu sekarang juga." ucap Pak Purnomo dengan sopan.
"Baiklah. Ini uangnya ya, Pak. Tolong belikan susu yang terbaik untuk putra saya! Oh, ya, satu lagi. Tolong jangan panggil saya Tuan! Panggil nama saya saja, atau kalian bisa menganggap saya seperti putra kalian sendiri." tutur Devano sambil menyerahkan lembaran kertas berwarna merah sebanyak sepuluh lembar.
"Baiklah, Tuan. Eh, Nak. Kami akan segera kembali. Tunggulah!" ucap Bi Sarah yang masih merasa canggung.
Devano dan Rahma pun tersenyum saat melihat tingkah kedua orang itu. Terlihat sangat lucu dan unik, sehingga membuat kedua orang itu sedikit lebih baik.
.
__ADS_1
.
"Ini kita beli susu yang mana ya, Pur? Apa lebih baik kita belikan yang paling mahal saja?" tanya Bi Sarah saat melihat deretan susu formula yang sangat banyak.
"Tentu saja yang paling mahal dan memiliki kandungan gizi yang seimbang, Bi. Jangan sampai kita asal-asalan mengambilnya. Lihatlah, Nak Devano memberikan kita uang sebanyak ini untuk membelikan susu untuk putranya." jawab Pak Purnomo.
"Kamu benar, Pur. Oh, lihatlah ini. Sepertinya jika kita menggunakan uang ini, kita akan mendapatkan dua kaleng besar ini untuk si tampan Arvin." celetuk Bi Sarah.
Akhirnya kedua orang itu langsung mengambil dua kaleng sekaligus untuk si tampan Arvin. Kemudian mereka pun langsung ke kasir untuk membayarnya. Mereka pun tidak ingin berlama-lama di sana, karena bayi Arvin yang sudah merasa kehausan.
"Ayolah, Pur! Cepatlah sedikit! Kita harus segera sampai di rumah Nak Devano. Kasian si tampan Arvin jika harus menahan rasa hausnya terlalu lama." protes Bi Sarah.
Pak Purnomo pun langsung mengikuti instruksi dari Bi Sarah. Memang benar, kasian bayi itu jika terlalu lama merasakan haus. Dia bisa saja dehidrasi karena kurang asupan gizi dan ASI.
"Oh, iya, Bi. Kita sampai kapan berada di rumah Nak Devano? Apakah sebaiknya kita pergi hari ini? Aku sebagai orang asing di rumah itu, menjadi tidak enak hati, karena melihat perdebatan mereka secara langsung." ujar Pak Purnomo.
"Entahlah, Pur. Sejujurnya aku masih merasa berat untuk meninggalkan Nak Andini dan si tampan Arvin. Tetapi apa yang baru saja kamu katakan memang benar adanya. Kita sebagai orang asing di rumah itu, tidak seharusnya menyaksikan kejadian yang menjadi privasi di dalam keluarga Nak Devano dan Nak Andini." ucap Bi Sarah, yang sepakat dengan Pak Purnomo.
Saat mobil mereka tiba di halaman rumah mewah itu, Bi Sarah dan Pak Purnomo bergegas untuk memberikan susu formula yang baru saja mereka beli, beserta uang kembaliannya.
"Nak Devano, ini susunya dan ini kembaliannya. Oh, iya. Jika diizinkan, aku ingin membuatkan susu ini untuk si tampan Arvin." ucap Bi Sarah dengan rasa sungkan.
"Tentu saja boleh, Bi. Anggap saja Arvin juga cucu Bi Sarah. Dan saya minta, kalian jangan sungkan untuk mengatakan apapun kepada saya." ucap Devano dengan sopan.
"Baiklah. Kalau begitu, saya akan membuatkan susu ini terlebih dahulu." ucap Bi Sarah dengan seulas senyum.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Devano, akhirnya Bi Sarah langsung membuatkan susu formula untuk bayi Arvin.
__ADS_1
"Semoga kalian dihindarkan dari orang-orang yang ingin memisahkan kalian!" gumam Bi Sarah.