Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Melahirkan


__ADS_3

Beberapa jam menunggu sang istri yang tak kunjung sadar, akhirnya rasa kantuk pun datang menghampiri Devano. Namun, baru beberapa saat memejamkan mata, akhirnya dia merasakan gerakan dari tangan sang istri yang masih di dalam genggamannya.


"Sayang?" panggil Devano lirih.


Andini yang baru saja hendak membuka matanya, kini langsung meringis saat merasakan kesakitan di sekitar punggung hingga pinggangnya.


"Awh! Sshh!" rintih Andini.


Devan yang melihat istrinya kesakitan, langsung memencet tombol untuk memanggil sang Dokter. Tak berselang lama kemudian, akhirnya Dokter pun datang dengan kedua perawatnya.


"Selamat malam, Nyonya, Tuan?" sapa sang Dokter.


"Selamat malam, Dokter." sahut Devano.


"Bagaimana? Apakah ada sesuatu yang anda rasakan, Nyonya Andini?" tanya sang Dokter sambil memeriksa Andini.


"Sakit, Dok." rintih Andini, sambil meringis.


Devano yang melihat sang istri seperti sedang merasakan sakit yang teramat sangat, kini semakin menggenggam erat tangannya.


"Sepertinya Nyonya Andini akan segera melahirkan, Tuan." ucap sang Dokter yang melihat raut wajah Andini yang bercucuran keringat dingin.


"Suster, tolong panggilkan Dokter Rebecca! Agar dia bisa memeriksa keadaan Nyonya Andini." titah sang Dokter kepada salah satu perawatnya.


"Baik, Dokter." jawab sang perawat sembari menganggukkan kepalanya.


Sang perawat yang di tugaskan oleh sang Dokter umum itu pun langsung meninggalkan kamar rawat Andini. Dia pun bergegas untuk memanggil Dokter kandungan yang saat ini sedang bertugas di rumah sakit itu.


Tak berselang lama kemudian, sang perawat pun kembali datang bersama seorang wanita muda yang terlihat sangat anggun.


"Ada apa, Dokter Dito? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Rebecca berbasa-basi.


Dokter Dito pun langsung menganggukkan kepala, dan menggeser posisinya dan memberikan ruang kepada Dokter Rebecca. Sedangkan Dokter Rebecca bergegas untuk memeriksa Andini yang semakin merasakan sakit yang luar biasa.

__ADS_1


"Suster, tolong siapkan ruang persalinan untuk Nyonya Andini! Sepertinya sebentar lagi dia akan melahirkan, tolong segera ya?!" titah Dokter Rebecca.


Dua suster yang sedari tadi mengiringi Dokter Dito, kini langsung meninggalkan ruangan itu. Mereka berdua pun segera memanggil beberapa rekannya untuk mempersiapkan segala keperluan untuk persalinan nanti.


"Silahkan kalian keluar terlebih dahulu, saya akan mengecek pembukaan Nyonya Andini!" titah Dokter Rebecca dengan seulas senyum.


Dokter Dito dan Devano pun langsung menuruti perintah sang Dokter kandungan itu. Sedangkan Dokter Rebecca kini langsung mengecek pembukaan Andini.


"Alhamdulillah. Sudah pembukaan tujuh. Mungkin sebentar lagi dia akan lahir ke dunia ini, Nyonya. Sekarang tolong ikuti instruksi saya, untuk meredakan sedikit rasa sakit dan nyeri ini." ujar Dokter Rebecca.


Dokter Rebecca pun langsung memberikan instruksi kepada Andini, agar mengatur napas dan menahan diri agar tidak mengejan.


Tiba-tiba pintu pun terbuka kembali, dan menampilkan salah satu suster yang dia berikan tugas untuk mempersiapkan segala keperluan untuk persalinan.


"Semua sudah siap, Dok." ucap sang suster.


"Baik. Kita harus segera memindahkan pasien, karena pasien saat ini sudah pembukaan tujuh. Jadi kemungkinan besar dua atau tiga jam lagi dia akan melahirkan. Dan tolong beritahukan kepada suami pasien, agar masuk dan menemani istrinya." tutur Dokter Rebecca.


"Baik, Dokter." jawab sang perawat itu.


"Jika Tuan Devano mau, silahkan temani istri anda! Semoga saja pembukaannya segera lengkap." ujar Dokter Rebecca.


"Baik, Dokter. Saya akan menemani istri saya di sini." putus Devano sambil menggenggam erat tangan Andini yang tidak terpasang selang infus.


Selang satu jam, Dokter Rebecca kembali mengecek pembukaan Andini. Ternyata pembukaannya sudah hampir sempurna, dan mungkin beberapa saat lagi Andini akan siap untuk melahirkan anaknya.


Namun, saat melihat Andini yang semakin melemah, kini Dokter Rebecca langsung angkat bicara dan meminta persetujuan dari Devano.


"Mohon maaf, Tuan Devano! Sepertinya istri anda sedikit melemah. Apakah kita harus melanjutkan proses persalinan normal atau operasi sesar saja?" tanya Dokter Rebecca saat melihat wajah Andini yang semakin memucat.


"Lakukanlah yang terbaik untuk keduanya, Dokter! Saya tidak mau tau, mereka harus selamat!" titah Devano dengan penuh penekanan.


Dokter Rebecca pun langsung bergerak cepat, karena dia tidak ingin melihat pasiennya yang semakin merasakan kesakitan yang berlipat-lipat.

__ADS_1


"To-tolong selamatkan anak sa-ya, Dokter! Tolong segera lakukan! Saya siap untuk melahirkan secara normal." ujar Andini dengan suara melemah.


Devano dan Dokter Rebecca pun tertegun dengan permintaan Andini, yang meminta untuk melakukan persalinan secara normal.


"Tetapi, Nyonya. Resikonya akan lebih besar jika anda memaksakan diri untuk melahirkan secara normal." ternag Dokter Rebecca.


"Sayang, kita lewat jalur operasi sesar saja ya? Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Tolong mengertilah, Sayang! Bahwa kamu adalah segalanya untukku." pinta Devano.


Andini pun masih tetap kekeuh pada pendiriannya. Akhirnya Dokter Rebecca mau tidak mau harus melakukannya, sesuai dengan permintaan pasiennya.


"Baiklah. Semoga persalinannya berjalan dengan lancar, Nyonya. Dan pastikan jika kesadaran Anda selalu terjaga sampai anak anda lahir ke dunia ini. Karena ini akan memiliki resiko yang sedikit besar, saat kondisi anda melemah seperti ini." terang Dokter Rebecca lagi.


"Lakukanlah, Dokter! Saya yakin jika istri saya akan bisa melewatinya. Dan saya akan selalu berada disampingnya, untuk memastikan kesadarannya." ujar Devano.


Dokter Rebecca akhirnya mengalah dan segera melakukan tindakan. Dia juga memberikan instruksi kepada beberapa perawat yang turut serta membantunya.


Selama tiga puluh menit lamanya, akhirnya suara tangisan bayi terdengar menggema di dalam ruangan persalinan itu.


Devano dan Andini pun langsung tersenyum, saat mendengar tangisan yang selalu mereka nantikan.


"Oee... oee... oee..."


"Selamat Tuan, Nyonya. Bayinya laki-laki dan sehat. Dia juga sangat tampan dan sempurna." ujar Dokter Rebecca.


Tanpa aba-aba, Devano langsung menciumi seluruh wajah Andini dan mengucapkan Terimakasih kepadanya. Serta rasa syukur yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


"Alhamdulillah, Sayang. Terimakasih kamu telah menghadirkan jagoan dia antara hidup kita. Sekarang hidup kita akan menjadi lebih sempurna dan berwarna, karena kehadiran malaikat kecil kita." ujar Devano.


Andini yang saat ini masih menitikkan air matanya, hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menatap bayi yang saat ini sedang berada di dalam dekapannya.


"Welcome to this world my baby boy!" ucap Andini sambil mengecup lembut puncak kepala putranya.


"Apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita, Sayang? Karena aku juga sudah menyiapkannya. Jadi nanti kita akan memilih nama yang terbaik untuk jagoan kita." ucap Devano dengan tatapan mata yang berbinar.

__ADS_1


"Siapa nama yang Kak Devan siapkan untuknya? Apakah nama itu lebih indah dari nama yang aku persiapkan untuknya?" tanya Andini lirih.


"Namanya adalah ...."


__ADS_2