
"Andini menghilang, dan ....''
"APA!"
Baru mengatakan jika Andini menghilang, Devan langsung bangkit dari duduknya dan memekik dengan suara tinggi.
Melihat raut wajah sahabatnya, kini Daniel sedikit merasa bersalah karena kelalaiannya. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu, jika Andini akan melakukan hal nekat yang akan membawa masalah baru untuk hidupnya.
"Bodooh! Bagaimana bisa Andini menghilang, huh?! Bukankah aku sudah mempercayakan semuanya kepada kalian, di saat aku sedang berusaha untuk mengumpulkan semua bukti-bukti itu?" cetus Devan dengan tatapan mata tajam.
"Dan buat Lo, Daniel?! Apakah sebelumnya Lo nggak mastiin kalau Andini benar-benar masuk, dan tinggal di sana sebelum Lo pergi ninggalin dia?" tanya Devan dengan tatapan penuh selidik.
Daniel yang mendapatkan pertanyaan dan tatapan itu, berusaha untuk menelan ludahnya dengan kasar. Meskipun sebenarnya ini juga murni karena kecerobohan dan kelalaiannya, dia harus mengatakannya dengan jujur kepada sahabatnya.
"Em, i-itu, Van. Gue langsung meninggalkan Andini setelah keluar dari mobil. Karena Andini sendiri yang meminta, dan Gue juga tidak pernah berpikir sejauh itu, jika Andini akan langsung pergi dari penginapan. Maafkan kami, Van!" jelas Daniel.
Devan pun hanya bisa menghela napas panjang, dia juga menyadari jika semua itu juga bersumber dari dirinya sendiri. Dia yang membuat Andini sampai nekat pergi dari hidupnya. Bahkan dia juga tidak tau, kemana istrinya pergi.
Namun, seketika dia pun langsung teringat akan cincin pernikahan yang dia sematkan di jari manis istrinya. Di cincin itu sengaja dia memberikan cip kecil, yang terdapat di balik batu permata.
Dengan cepat Devan langsung mengontak-atik ponselnya, untuk mencari dimana letak GPS yang dia pasang di cip itu. Setelah dia menemukan lokasinya, dia pun langsung tersenyum lebar.
"Semoga saja kamu benar di sana, my sweet heart!" cetus Devan.
Daniel dan Siska yang sama sekali tidak mengetahui tentang cip itu, hanya bisa saling beradu pandang. Mereka pun masih bergeming dan masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Dan, ikuti aku! Aku sudah menemukan dimana keberadaan istriku. Semoga saja lokasinya benar, jadi kita bisa segera menemukan Andini." titah Devan dengan tegas.
__ADS_1
Sepasang kekasih itu hanya bisa menuruti perintah dari Devano. Entah apa yang membuat Devan percaya, jika Andini saat ini berada di lokasi tersebut.
"Kita mau kemana, Van? Terus dari mana Lo tau jika Andini ada di sana?" tanya Daniel sambil menautkan kedua alisnya.
"Cepatlah ke mobil! Nanti gue ceritakan semuanya. Kita harus bergerak cepat, sebelum Andini pergi lebih jauh lagi." jelas Devan yang melangkahkan kakinya menuju ke basemen.
"Baiklah." jawab Daniel sambil menghela napas panjang.
Setelah mereka bertiga telah memasuki mobil berlogo kuda berjingkrak, Daniel yang saat ini mengambil alih kemudi langsung menginjak pedal gas nya.
Disepanjang perjalanan, Devan memberikan petunjuk jalan kepada Daniel. Tidak lupa dia pun menceritakan tentang cip yang berada di cincin pernikahan Andini.
"Awalnya gue cuma mau memantau pergerakan istri gue, Dan. Bukannya gue takut dia bermain-main di belakang gue, tetapi gue cuma mau memantau keadaannya saja. Gue nggak mau istri gue kenapa-napa, disaat gue nggak ada di sampingnya. Itulah alasan gue, kenapa gue sampai berpikir memberikan cip kecil dibalik cincin permata itu." terang Devan.
"Terus sekarang Andini berada dimana, Van? Apakah lokasinya benar-benar akurat? Lo udah benar-benar mastiin cip itu kan sebelumnya?" cecar Daniel yang masih mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ckk! Apa kamu meragukan hasil penelitian hebat dari ilmuwan yang terkenal, Dan? Ya, semoga saja cip ini benar-benar akurat dan tepat. Seandainya cip ini sudah tidak berfungsi dengan baik, maka aku akan menuntut ilmuwan itu, dan meminta pertanggungjawaban darinya." ujar Devan dengan penuh keyakinan.
Tak terasa, perjalanan yang mereka tempuh sudah cukup jauh dan jauh dari keramaian kota. Tepat di sebuah perbatasan kota, titik GPS itu pun berhenti di sebuah jalan raya yang kiri dan kanan, hanya ada pepohonan dan persawahan.
"Berhenti, Dan!" titah Devan.
Kemudian dia pun langsung turun dari mobilnya, lalu mencari keberadaan titik GPS itu. Saat dia menemukan lokasinya, di sanalah cincin permata itu berada. Devan menemukan cincin permata itu berada di balik rerumputan, dan tergeletak di tempat itu.
Daniel pun langsung ikut turun dari mobil tersebut, dan berjalan menghampiri Devan yang masih terpaku di tempat dengan tangan terkepal kuat.
"Argh! Mengapa kamu melepaskan cincin permata ini, Sayang? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Apakah saat ini kamu baik-baik saja?" Pekik Devan sambil memukul udara.
__ADS_1
Daniel yang belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi, kini masih terdiam dan menatap penuh selidik kepada sahabatnya itu.
"Dan, Andini membuang cincin pernikahan kita. Apakah dia sangat membenci gue, sehingga dia membuang cincin permata ini? Atau mungkin Andini saat ini sedang dalam bahaya? Bagaimana ini, Dan? Gue harus ngelakuin apa?" racau Devan yang mulai berputus asa.
Daniel pun langsung tanggap dan sigap, dia langsung menuntun Devan untuk masuk ke dalam mobil kembali, dan segera membawanya kembali pulang.
Mengenai pencarian Andini, akan dia pikirkan nanti. Saat ini dia pun belum bisa berpikir jernih, karena yang berada di pikiran Daniel saat ini adalah teka-teki tentang keberadaan Andini.
"Lebih baik kita pulang dulu. Kita akan memikirkan bagaimana cara untuk mencari Andini kembali. Saat ini yang kita butuhkan adalah ketenangan, Van. Agar kita bisa berpikir jernih dan bisa segera memikirkan jalan keluar." ujar Daniel sambil memutar arah kendaraannya.
Devan hanya bergeming, pandangannya kosong, dan pikirannya pun tampak kacau. Setelah dia berhasil mendapatkan lokasi itu, dia harus pulang dengan tangan kosong.
Siska yang saat ini duduk di bangku belakang, hanya bisa menangis sesenggukan, saat harapannya kembali pupus.
Pikirannya pun ikut kacau, dan tidak beraturan.
"Kamu dimana, Ndin? Kenapa kamu tega ninggalin aku? Apakah kamu sudah tidak menganggap ku sebagai sahabat mu lagi? Kamu benar-benar jahat, Ndin! Kamu jahat!" gumam Siska lirih.
Daniel yang saat ini sedang fokus mengemudi, sesekali dia pun melihat kekasihnya yang masih menangisi kepergian sahabatnya.
Air mata yang selalu mengalir, semenjak gadisnya mengetahui tentang kepergian dari sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara.
"Tenang, Sayang. Kita pasti akan segera menemukan Andini. Percayalah! Dia akan baik-baik saja, bersama dengan calon bayinya." cetus Daniel yang mencoba menenangkan sang kekasih.
Siska hanya bisa pasrah dan memaksakan seulas senyum di sela isakan tangisnya, tanpa menjawab ucapan dari Daniel. Sedangkan Daniel hanya membalas senyuman tipis.
'Semoga kamu baik-baik saja, Ndin! Kami semua sangat mencemaskan keadaan mu.' batin Daniel.
__ADS_1
BERSAMBUNG...