Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Pov Devano


__ADS_3

Setelah kejadian tadi pagi, aku mulai melakukan penyelidikan tentang Andini. Aku mengutus seseorang yang sangat aku percaya selama ini, dia adalah Daniel Wijaya, sahabat sekaligus kaki tangan kananku. Dia selalu ada untukku, saat aku mulai merintis bisnis ku pun hanya dia yang selama ini menjadi pendukungku. Ketika keluargaku sendiri justru menghinaku karena aku hanya anak dari seorang wanita simpanan.


Saat aku ingin melakukan panggilan video dengan Reno, dia pun langsung menjawab panggilan darimu.


"Halo bro, ada apa? Tumben lo telpon gue di saat sibuk seperti ini?" tanya Daniel dengan santainya.


Ku hembuskan napas perlahan.


"Gue punya tugas penting buat lo! Dan lo harus segera mendapatkan semua informasi tentang dia!" titahku sedikit basa-basi.


"Tunggu! Tunggu! Maksud lo semua informasi tentang dia? Dia itu siapa, bro? Coba katakan ke gue secara detail, biar gue ngga bingung," ucapnya dengan nada serius.


Aku pun berdecak.


"Ck! Oke, gue akan beritahu ke lo. Gue mau lo cari tau tentang seorang gadis yang bernama Andini Amalia, cari tau tentang dia dan keluarganya. Gue merasa ada yang tidak beres dengan dia bro. Dia seperti menyimpan sebuah luka yang teramat sangat dalam. Nanti gue kirim alamat rumahnya yang terletak di sebuah perkampungan," jelasku dengan santai.


"Wow, wow, wow! Ternyata seorang Devano Wicaksana sudah menemukan seorang gadis pujaannya. Gue kira setelah kepergian Vania, lo ngga menyukai seorang wanita lagi bro?" godanya sambil tertawa meledek.


"Stop! Jangan bawa-bawa lagi wanita murahaan itu, jika hidupmu masih ingin tenang! Jangan pernah menyebut nama wanita itu!" kesalku dengan nada sedikit meninggi.


"Oke, oke. Gue ngga akan bahas lagi tentang wanita itu. Kita fokus ke wanita yang bernama Andini Amalia saja saat ini. Sebenarnya apa yang lo mau dari dia, setelah lo tau semua tentang dia bro? Lo ngga akan mainin dia 'kan?'' tanya Daniel penasaran.


"Nanti lo juga akan tau sendiri, setelah lu dapatkan semua informasi tentang dia. Dan satu lagi, jangan sampai terlewat sedikit pun! Gue mau informasi yang sangat akurat. Lo pasti sudah paham 'kan?" jelasku sambil menyeringai.


"Oke, gue bakal lakuin sesuai dengan keinginan Lo. Tapi lo harus janji sama gue, setelah misi gue selesai. Lo harus ceritain semua rencana lo ke gue." tegas Reno.


"Siap! Lo tenang aja, seorang Revandra pantang untuk ingkar janji. Yaudah, lo kerjain sekarang, gue tunggu informasi ini secepatnya!" Lalu aku pun memutuskan panggilan secara sepihak.


Jika aku lanjutkan, hanya akan menjadi perdebatan yang semakin panjang. Yang ada informasi yang ingin segera aku dapatkan tak kunjung selesai.


_____##_____##______


Tak terasa kini hari sudah mulai senja, sesuai dengan perjanjian yang telah ku sepakati dengan Andini. Dia akan selalu menemaniku lembur setiap hari.


Tok! Tok! Tok!


Kini terdengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Ya, masuk!" Saat ku lirik siapa yang datang, ternyata Andini yang sedang berdiri dengan membawa sebuah nampan yang berisi kopi dan beberapa cemilan.


"Maaf Pak, jika saya mengganggu pekerjaan Pak Devano. Saya hanya ingin mengantarkan minuman dan beberapa cemilan untuk Pak Devano. Silahkan di minum Pak, saya permisi," ucapnya sambil menunduk.


Saat dia ingin berbalik untuk keluar, aku pun mencekal pergelangan tangannya.


"Tunggu! Temani saya di sini, jangan kemana-mana. Dan bawa kursi itu kemari!" perintahku padanya.


Dia yang masih mematung kini pun langsung tersadar, dan segera melaksanakan perintahku.


Saat kursi kami berjarak sedikit jauh, akupun langsung menarik kursinya agar mendekat.


Seketika matanya kini membulat sempurna, saat dia menatapku. Mata yang sedikit sipit, bulu mata lentik, alis yang tebal, hidung kecil yang sedikit mancung dan kini pandanganku menuju ke arah bibir kecilnya yang ranum.


Jujur saja, sebagai laki-laki normal. Saat aku berada di dekat Andini, hatiku mulai berdesir dan bergejolak hebat. Lalu ku tarik kursi yang kini di duduki oleh Andini lebih dekat, dan ku arahkan sejajar denganku.


Ku pandangi lekat wajahnya. Kini dia pun hanya bingung dan salah tingkah.


"Ma-maaf Pak! A-ada apa? A-pa ada yang sa-lah dengan penampilan sa-ya?" tanya Andini terbata.


Aku pun hanya terdiam dan ku dekatkan wajahku dengan wajahnya. Kini jarak di antara kami hanya beberapa centi saja.


Kini hembusan napas kami saling beradu. Ingin sekali aku mencicipi bibir ranumnya. Semakin terkikis jarak di antara kami. Lalu Andini pun memejamkan matanya.


Hidung kamipun kini sedikit menempel, saat ku satukan bibir kami. Ku rasakan tubuh Shintya menegang, mungkin dia terkejut.


Aku pun hanya menempelkan bibir kami, tanpa adanya gerakan sedikitpun. Tiba-tiba mata Andini terbuka dan membulat sempurna. Lalu dia mendorong ku, tapi ku tahan tangannya.


"A-apa yang Pak Devano lakukan?" Seketika matanya berkaca-kaca.


Aku masih terdiam memandanginya.


"Kenapa Pak Devano melakukan ini kepada saya? Kenapa Pak Devano mengambil ciuman pertama saya?" Kini air matanya pun mulai luruh.


Ku tarik lembut dia ke dalam pelukanku. Akan tetapi, aku tidak mengatakan satu patah katapun.


Kini aku pun merasa bersalah dan mulai menyesali apa yang baru saja aku lakukan padanya. Aku tak menduga, jika dia sama sekali belum pernah melakukan ciuman. Dan kini ciuman pertamanya sudah ku ambil dengan sengaja.

__ADS_1


"Maafkan aku Andini! Aku tak bermaksud untuk melakukan sesuatu padamu. Aku juga tidak pernah berpikir untuk membuatmu menangis seperti ini,'' ucapku dengan penuh rasa sesal.


Kini masih terdengar suara Isak tangisnya. Dan kini aku merasa kemejaku pun juga mulai basah karena terkena air matanya.


"Selama ini saya menjaga diri agar tidak ada seorang pun yang menyentuh saya Pak. Tapi kenapa Pak Devano bisa-bisanya melakukan ini pada saya? Mungkin menurut Pak Devano ciuman sudah menjadi hal biasa, akan tetapi tidak dengan saya. Bahkan untuk berpacaran saja saya tidak pernah." jawabnya dengan polos.


"Maafkan aku, Andini. Sungguh aku benar-benar minta maaf," sesalku.


Lalu dia mendorong tubuhku untuk melepaskan pelukanku. Tapi aku tak bergeming, aku masih mempertahankan pelukan ini. Entah mengapa ingin sekali aku melindungi gadis ini.


Seorang gadis dengan sejuta kepolosannya. Hatiku seperti tergerak untuk melakukan sesuatu agar selalu bisa bersama dengannya.


"Tolong jangan lepaskan dulu! Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja, aku teringat dengan adikku yang telah tiada," ucapku sendu.


Ya. Aku memang mempunyai seorang adik, namanya Meidina Wicaksana. Tapi dia sudah tiada. Saat usianya yang baru menginjak 14 tahun, dia di vonis kanker otak stadium akhir, dan kami pun terlambat untuk melakukan pengobatan kepadanya.


Sungguh sangat menyakitkan, saat aku melihat adikku satu-satunya menghembuskan napasnya yang terakhir.


Akhirnya Andini pun diam dan tidak memberontak lagi. Saat semua sudah tenang. Aku kembali memasang wajah yang datar, seakan tadi tidak terjadi apa-apa.


"Oke, maafkan aku. Kamu tetap duduk di sini. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku dulu!" titahku dengan senyum tipis.


Andini pun hanya terdiam dan memalingkan wajahnya dariku. Mungkin dia masih marah padaku, karena aku telah mengambil ciuman pertamanya.


Aku pun memiliki sebuah ide agar dia memperhatikan ku.


"Uhuk! Uuhuk!''


Andini pun bergegas mengambilkan minuman. Lalu dia pun menyodorkan minuman itu padaku.


"Silahkan di minum dulu Pak," ucapnya dengan nada khawatir.


Lalu ku ambil gelas darinya.


"Terimakasih." ujarku sambil tersenyum manis.


Dan kini pandangan kami saling bertemu kembali.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2