
"Ap-apa!''
Kini Ibuku pun terkejut dengan ucapan bu Rahma.
"Iya, Sya! Kita akan menjadi besan! Kenapa? Apa kau tidak setuju?" Tanya Bu Rahma kepada Ibu.
"Bu-bukan begitu, Ma. Tapi bagaimana bisa kalian mengenal Andini?" tanya Ibu dengan gugup.
"Duduklah terlebih dahulu! Biar aku jelaskan semuanya!" ucap bu Rahma, sambil menggandeng tangan Ibu agar duduk di sampingnya.
Ibuku pun mengikuti ajakan Bu Rahma. Sedangkan pak Devano, dia masih terdiam sambil menyimak percakapan antara Ibuku dan Ibunya. Sesekali dia pun melirik ke arahku.
"Jadi begini Shin, aku akan jelaskan, bagaimana aku bisa mengenal Andini. Karena putraku yang memperkenalkan dia kepadaku sebagai calon istrinya. Dan jika kau bertanya bagaimana mereka saling mengenal? Karena putrimu bekerja di kantor putraku sebagai asisten pribadinya. Sejak saat itulah putraku sudah jatuh hati dengan putrimu yang sangat cantik ini, sehingga dia ingin segera menghalalkan hubungan mereka," jelas bu Rahma kepada Ibu.
Pak Devano yang sejak tadi terdiam, kini dia pun ikut membuka suaranya. Sambil menggenggam erat tanganku.
Aku yang melihat tanganku yang di genggam olehnya, hanya diam membeku sambil menatap tajam ke arahnya.
"Benar Bu, saya memang sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama saat melihat putri Ibu. Sejak awal bertemu dengannya, hati saya sudah terpikat oleh kebaikan dan kegigihannya. Saya bangga dengan usaha dan kerja kerasnya," ucap Pak Devano, dengan sopan.
'Seandainya saja yang di ucapkan olehnya adalah sebuah ketulusan dari hatinya? Pasti aku akan merasa sangat bahagia saat ini, akan tetapi semua ini hanya sandiwara belaka, dan aku harus mengubur dalam-dalam harapkan ku ini kepadanya," gumamku dalam hati.
"Iya Sya, apa kau tidak ingin memiliki besan sepertiku? Kita akan bisa sering bertemu, jika kau menyetujui hubungan mereka, dan persahabatan kita akan selamanya bisa terjalin kembali," ucap Bu Rahma dengan antusias.
Kini terdengar suara helaan napas panjang Ibu.
"Baiklah! Akan tetapi aku ingin berbicara terlebih dahulu, berdua saja dengan Andini," ucap ibu sambil menatapku dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
__ADS_1
"Baiklah, Shin, silahkan kalian saling melepaskan rindu terlebih dahulu! Kami akan menunggu kalian di sini," jawab bu Rahma lagi.
Kini telapak tanganku pun terasa sangat dingin, dan pak Devano pun menyadarinya.
"Tenang, sayang! Percayalah padaku! Semua akan baik-baik saja," bisiknya tepat di samping telingaku.
'Ah, seandainya saja yang aku dengar ini adalah sebuah ketulusan dari dalam hatimu. Pasti ini akan menjadi momen yang paling membahagiakan untukku. Astaghfirullah! Sadar Andini, sadar! Ini hanyalah sebuah sandiwara belaka, dan hanya sementara. Bahkan jika pernikahan kontrak selama enam bulan ini berakhir, kalian tidak ada ikatan apa-apa lagi," gumamku dalam hati, mencoba untuk menyadarkan diriku sendiri, agar tidak berharap lebih kepada pak Devano.
"Tunggu! Aku akan ikut dengan mereka," ucap nenek, yang tiba-tiba menimpali ucapan kami.
Karena sedari tadi nenek hanya diam dan menyimak setiap obrolan yang mereka lontarkan.
"Baiklah Bu. Silahkan kalian saling berdiskusi terlebih dahulu, tenang saja tidak perlu terburu-buru!" jelas bu Rahma dengan sopan.
Lalu kami pun saling berjalan beriringan, menuju ke kamar pribadiku. Kemudian kami masuk ke dalam kamarku.
"Andini." Terdengar suara Ibu memanggilku.
"Iya, Bu," sahutku, kemudian aku menundukkan kepala.
"Maafkan Ibu, Nak! Ibu sangat menyesal, karena selama ini telah menyia-nyiakan putri ibu satu-satunya. Putri yang selama ini kami nantikan kehadirannya. Akan tetapi, setelah kejadian itu, Ibu justru mencampakkan darah daging Ibu sendiri. Maafkan Ibu, Andini!" Ibu berkata dengan suara yang serak, lalu Ibu pun bersimpuh di depanku.
Aku yang mendengar ucapan Ibu pun mendongakkan kepalaku, lalu saat itu juga aku melihat Ibu yang sedang bersimpuh. Aku pun buru-buru mensejajarkan tubuhku dengannya.
"Tidak Bu! Seharusnya Andini yang meminta maaf kepada Ibu, karena Andini, ayah meninggalkan kita selamanya. Seandainya saja saat itu Andini yang menggantikan posisi ayah. Mungkin ayah masih bersama dengan Ibu sekarang," kataku dengan air mata yang membasahi pipi, dan kini mengalir dengan derasnya.
"Apa kau baru menyadarinya saat ini, Shin? Kemana saja kamu? Hingga 18 tahun ini kau sama sekali tidak pernah menoleh sedikitpun ke arah putrimu sendiri?'' ucap nenek yang ikut menangis tepat di belakangku.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu. Mungkin aku memang sangat terlambat untuk menyadarinya, akan tetapi saat berada jauh dari putriku, hidupku terasa sangat hampa," ucap Ibu, di sela isakan tangisnya.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu memang salah. Apa kau mau memaafkan Ibumu ini?" tanya ibu dengan wajah sendu, dan suara isakan tangisnya kini terdengar jelas di telinga ku.
"Iya Bu, Andini juga minta maaf karena belum bisa menjadi seperti yang Ibu harapkan," ucapku sambil memandangi wajah teduh Ibu.
Tanpa ku duga, tiba-tiba Ibu menarikku ke dalam pelukannya. Nenek yang melihatnya pun ikut berhambur ke dalam pelukan kami.
Akhirnya kami bertiga saling berpelukan, dengan derai air mata yang mengalir dengan derasnya.
'Ya Allah, terimakasih karena Engkau telah mengabulkan do'a-do'aku, yang setiap hari ku pinta kepadaMu! Sungguh, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku, dan terimakasih Engkau telah mempertemukan aku dengan pak Devano. Karena dia aku bisa merasakan pelukan hangat dan kasih sayang dari seorang Ibu,' gumamku dalam hati, sambil mengucap syukur kepada Allah SWT.
Perlahan ibu dan Nenek mulai melepaskan pelukan kami, dan tanpa aba-aba, Ibu menciumi seluruh wajahku secara bergantian.
Tangisku pun pecah kembali, karena merasa terharu dengan perubahan drastis Ibu. Yang dulu sangat membenciku, akan tetapi sekarang beliau perlahan bisa membuka hatinya untukku.
"Ibu sangat bangga melihatmu seperti ini, Shin. Ini adalah hari yang bersejarah untuk putriku. Harapan dan keinginan sederhananya kini telah di kabulkan oleh Allah SWT. Dan selamat untukmu, sayang. Karena buah dari kesabaranmu, kini kau pun memetiknya dengan manis. Apa kau bahagia sekarang?" tanya nenek, yang melihat kami secara bergantian.
"Iya Nek! Aku sangat bahagia saat ini, karena untuk pertama kalinya aku mendapatkan pelukan hangat, dari seorang Ibu serta kasih sayang dari beliau. Inilah momen yang sangat aku nantikan selama ini!" jawabku dengan penuh semangat.
"Emm, apa kita bisa duduk di tepi ranjangmu? Kaki Nenek sudah tidak kuat jika lama-lama seperti ini," ucap Nenek kepada kami.
Kini kami pun saling berjalan bergandengan tangan, akan tetapi karena seketika cekalan tanganku dari mereka terlepas begitu saja. Lalu tubuhku pun terhuyung ke lantai. Dan akhirnya aku pun jatuh hingga tak sadarkan diri.
Bugh!
BERSAMBUNG.....
__ADS_1