Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Kita Akan Besanan


__ADS_3

Happy reading....


Hari yang di nantikan pun akhirnya tiba. Kini pak Devano dan Ibundanya, menjemput ku di depan kos Siska.


"Hay calon menantu Mama. Apa kau sudah siap, Nak?" sapa bu Rahma.


Aku pun masih merasa canggung saat berhadapan dengan bu Rahma.


"Insya Allah, saya siap Bu,'' jawabku dengan seulas senyum yang dipaksakan.


Saat ini aku duduk di bangku belakang. Ku lihat pak Devano sedang melirikku, dari balik kaca kecil yang tepat berada di depanku. Aku pun berpura-pura tidak tau, lalu mengalihkan pandanganku.


"Oh, iya Nak. Kau sudah memberikan kabar kepada keluargamu bukan? Bagaimana dengan mereka? Apakah mereka merasa keberatan dengan kedatangan kami?" yanyanya dengan lembut.


"Sudah Bu. Saya sudah memberikan kabar kepada mereka, setelah pertemuan kita tempo hari. Mereka mengatakan akan menyambut kedatangan kita, tapi hanya penyambutan sederhana, Bu," jelasku dengan sopan.


"Tidak apa-apa, karena kami ke sana bukan untuk mencari kemewahan. Kami ke sana ingin memiliki tujuan yang mulia, yaitu melamarmu untuk anak manja Mama ini," ucap bu Rahma, sambil menoleh ke arah pak Devano.


Pria itu pun berdecak, saat bu Rahma mengatakan bahwa dia anak manja. "Ckk! Apaan sih Ma. Memang siapa yang manja? Kalau seandainya aku anak manja, tidak mungkin aku bisa jadi orang seperti ini sekarang," ucapnya sambil menyombongkan dirinya sendiri.


'Huh! Sombong sekali sih! Tapi memang benar sih, kalau dia anak manja, dia tidak akan bisa menjadi pengusaha muda yang terkenal dan sukses.' gumamku dalam hati.


"Nak! Jangan terkejut dengan candaan-candaan yang kami lontarkan ini ya. Karena kamu nanti akan mendengarkannya setiap hari," ucap bu Rahma dengan senyum manisnya.


Aku pun menganggukkan kepala.


"Iya Bu, tidak masalah untuk saya, pasti nanti akan terasa menyenangkan," ucapku sambil tersenyum manis.


Tak terasa perjalanan yang kami tempuh sekitar tujuh jam, akhirnya kini kami sudah memasuki kampung halamanku.

__ADS_1


"Wah, masih terlihat sangat asri sekali ya? Udaranya juga terasa sangat sejuk," ucap bu Rahma dengan antusias.


"Tentu saja, Bu. Karena kami di sini masih menerapkan sistem penghijauan di sekitar lingkungan kami," jelasku.


"Nanti kalau kalian sudah menikah, Mama akan sering berkunjung kemari, dan ingin berkeliling daerah pedesaan ini," ucap Bu Rahma dengan semangat.


Tak terasa, kini akhirnya kami sampai di depan rumah.


"Ini rumah kami Bu. Maaf jika tidak senyaman dan sebagus rumah Bu Rahma," ucapku dengan sopan.


"Ah, kamu ini. Semua rumah sama saja, yang terpenting bisa untuk berteduh dengan nyaman," ucap bu Rahma lagi.


"Baik Bu, mari silahkan masuk!" ajakku lagi.


Kini ku lihat nenek sudah berada di teras, untuk menyambut kedatangan kami.


"Assalamualaikum," salam kami serentak.


"Mari silakan masuk! Maaf jika kami menyambut kedatangan kalian, dengan ala kadarnya saja," ucap nenek dengan keramahannya.


"Kami yang seharusnya meminta maaf Bu, karena kami merepotkan Ibu," ujar bu Rahma.


"Sama sekali tidak merepotkan Bu. Mari, silahkan duduk!" Nenek mempersilahkan bu Rahma dan pak Devano untuk duduk.


"O, iya Bu. Apa Ibu hanya tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Bu Rahma.


"Oh, tidak! Saya tinggal dengan putri saya. Dia tadi sedang keluar sebentar," jelas nenek kepada bu Rahma.


"O, begitu, baiklah Bu, mohon maaf sebelumnya. Apakah Nak Andini sudah menyampaikan kedatangan kami ke sini?" tanya bu Rahma hati-hati.

__ADS_1


Nenek pun tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Bu Risna.


"Sudah, Bu. Andini sudah mengatakannya kepada kami, dan kami dengan merasa tersanjung. Karena orang terpandang seperti kalian, telah sudi menjalin hubungan dengan orang sederhana seperti kami, Bu,'' terang Nenek dengan sopan.


Meskipun usia Nenek jauh lebih tua dari bu Rahma, akan tetapi beliau tetap memegang teguh adat istiadat dan kesopanan kami.


Terdengar suara hentakan kaki yang berjalan dari luar rumah. Siapa lagi kalau bukan Ibuku?


"Eh, ada tamu ternyata," Ulucap Ibu, saat memasuki rumah.


Saat mendengar suara Ibu, bu Rahma pun menoleh ke arah suara itu berasal.


"Lho, Shintya?" sapa bu Risna kepada Ibuku.


"Lho, Rahma Wati ya?" tanya Ibu dengan antusias.


"Iya Shin, ya Allah ... ini beneran kamu 'kan?" tanya bu Rahma dengan mata yang berbinar-binar.


"Iya Rahma, ini aku,'' jawab Ibu dengan raut wajah bahagia.


"Ya Allah, sudah 20 tahun kita tidak pernah bertemu kembali. Kamu bagaimana kabarnya? O, iya, kamu tinggal di sini juga?" tanya bu Rahma kepada Ibu.


"Iya Rahma, aku tinggal bersama dengan Ibuku. Kenapa kamu bisa sampai di sini?" tanya Ibu kepada bu Rahma.


"Jadi kau Ibunya Andini? Ya Allah, ternyata Allah mempertemukan kita kembali memalui anak-anak kita ya, Shin?" jelas bu Rahma dengan semangat.


"I-iya! Aku Ibunya Andini," jawab ibu sambil melirik ke arahku.


"Apa kau tau? Kita sebentar lagi akan menjadi besan!" jelas bu Rahma lagi.

__ADS_1


"Ap-apa!''


BERSAMBUNG....


__ADS_2