Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Firasat Seorang Ibu


__ADS_3

"Hentikan, Van! Apa kamu sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Mama, saat melihatmu yang begitu sangat berantakan? Apa kamu ingin membuat Mama stres karena memikirkan mu, yang terus menerus meracau tidak jelas? Dan apakah Andini akan kembali karena racauan mu itu?" cecar Daniel dengan tatapan mata tajam.


Saat ini dia sama sekali tidak gentar, apalagi merasa takut dengan Devan. Yang dia pikirkan saat ini adalah tentang kesehatan wanita paruh baya, yang sudah dia anggap seperti Ibu kandungnya sendiri.


Devan pun bergeming, dia pun langsung menatap netra kecoklatan dan mengayunkan kakinya ke arah sang Mama. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, setelah dia mengetahui perihal tentang kepergian Andini.


Dia juga sangat memahami melalui sorot bola mata coklat gelap bercahaya. Luka dan kekecewaan yang mendalam, dialami oleh wanita yang sedang hamil muda itu.


"Maafkan Devan, Ma!"


Hanya tiga kata itu yang terucap dari mulut Devano. Devan pun kini hanya bisa pasrah saat mendengar ocehan dari sahabatnya. Dia diam dan pasrah bukan karena merasa takut, tetapi apa yang dia ucapkan adalah sebuah kebenaran.


"Van, tenangkan dirimu terlebih dahulu, Sayang! Jika nanti hati dan pikiran mu sudah merasa lebih baik, kamu bisa mencari Andini kembali dan Daniel akan menemanimu untuk mencarinya. Iya kan, Nak?"


Setelah menasehati putra semata wayangnya, kini pandangan Rahma beralih kepada Daniel. Dia juga berharap jika satu-satunya orang yang dia percaya, bisa menolong putranya.


"Tentu saja aku akan membantu Devan, Ma. Daniel tidak akan membiarkan Devan terus dirundung kesedihan terus menerus. Sebagai seorang sahabat dan tangan kanan Devan, Daniel akan membantu Devan dengan cara apapun itu, agar Andini bisa ditemukan."jelas Daniel dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Devan yang mendengar ucapan sahabat sekaligus saudara baginya, kini semakin merasa terharu dan bersyukur. Di saat keterpurukannya pun Daniel selalu berada di depannya, sebagai tameng agar dia tidak mudah diruntuhkan.


"Baik, Ma. Aku akan menuruti bagaimana kemauan dan cara kalian. Karena yang terpenting, Andini bisa diketemukan. Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaannya, setelah menemukan cincin pernikahan kami yang tergeletak di rerumputan pinggir jalanan perbatasan kota." ujar. Devan sambil menerawang ke beberapa hari yang lalu.


Akhirnya Rahma pun bernapas dengan lega, dan dia pun bisa sedikit mengulas senyum di saat sang putra, bisa mendapatkan secercah cahaya untuk kembali bangkit, meskipun tanpa sang pujaan hati.


***


"Bagaimana, Kak? Apakah sudah ada harapan untuk kita, untuk menemukan keberadaan Andini? Apakah aku perlu menanyakan kepada Tante Shintya dan Nenek di kampung?" tanya Siska dengan polosnya.


"Lebih baik kita jangan bertanya atau mengatakan apapun terlebih dahulu kepada mereka, Sayang. Kita tidak tau apa yang akan terjadi jika sampai Tante Shintya dan Nenek tau, jika Andini menghilang karena Devan. Pasti mereka akan menyalahkan Devan untuk masalah ini, dan ini akan semakin memperumit keadaan pada akhirnya. Dan aku tidak mau, jika nanti mereka akan dipisahkan setelah Tante Shintya dan Nenek tau tentang fakta yang sebenarnya." jelas Daniel kepada sang kekasih hatinya.


Beberapa saat kemudian, Siska pun sudah mulai mencerna setiap ucapan dari Daniel. Kemudian dia pun langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oke. Aku sudah paham sekarang. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak? Apakah kita akan melakukan pencarian kembali kepada Andini, atau kita hanya dia dan pasrah menunggu Andini kembali dengan sendirinya?" tanya Siska lagi.


Daniel yang merasa gemas dengan Siska, kini hanya mencubit manja pipi sang kekasih lalu mencium bibirnya singkat. Saat melihat kepolosan Siska seperti ini, Daniel semakin memantapkan hatinya untuk melamar dan menikahinya setelah kondisi sudah memungkinkan untuknya.

__ADS_1


***


"Bu, kenapa Andini beberapa hari ini tidak memberikan kabar kepada kita? Biasanya hampir setiap hari dia melakukan panggilan video atau suara kepada kita. Apakah saat ini dia baik-baik saja? Akan tetapi, mengapa tiba-tiba aku memiliki firasat yang tidak baik tentangnya? Apakah ini hanya karena rasa rinduku saja kepada putriku?" cecar Shintya yang memberondongi berbagai pertanyaan kepada sang Ibu.


Sedangkan Nenek hanya bisa menghela napas panjang, karena dia pun juga memiliki pemikiran yang sama dengan putrinya. Dia pun merasakan keanehan dan kejanggalan di dalam hatinya.


"Iya, Shintya. Semua yang kamu tanyakan ataupun ucapkan memang benar adanya. Bahkan biasanya Andini selalu menanyakan tentang kita, meskipun hanya hal yang sederhana tetapi bisa membuat hati kita merasa tenang. Tetapi, entah mengapa sudah dua Minggu, dia tidak memberikan kabar apapun kepada kita." ujar Nenek yang sependapat dengan Shintya, Ibu kandung dari Andini Amalia.


Shintya pun terdiam sejenak sembari berpikir, 'Apakah dia harus menemui dan mengunjungi putri dan menantunya serta sahabatnya ke kota? Atau dia hanya menunggu saja, sampai Andini kembali memberikan kabar kepada mereka.


"Apakah lebih baik besok kita menemui mereka secara langsung, Bu? Aku takut jika terjadi sesuatu hal kepada Andini. Firasat ku mengatakan, jika saat ini dia sedang tidak baik-baik saja. Dan aku sangat yakin jika ini adalah sebuah pertanda, tetapi aku belum tau itu apa. Tetapi harapanku, semoga putri dan menantu ku selalu dalam keadaan baik-baik saja dan mereka bisa hidup rukun dan selalu dilimpahkan kebahagiaan." cetus Shintya sambil menatap sendu ke arah Nenek.


Nenek hanya bisa menampilkan senyum palsunya. Tidak bisa dia pungkiri, jika yang dikatakan putrinya memang benar adanya. Sepertinya idenya juga tidak begitu buruk, mereka juga bisa memberikan kejutan kepada sepasang suami-istri itu.


"Baiklah. Besok kita akan ke kota untuk memastikan keadaan mereka, dan aku akan ikut untuk menemanimu untuk memastikan semuanya. Semoga dugaan kita salah, dan mereka baik-baik saja. Aku berharap Devano bisa membahagiakan Andini dengan caranya sendiri." ucap Nenek dengan suara merendah.


Shintya pun langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. Mereka sudah sepakat untuk pergi menemui pasangan suami-istri yang belum lama ini menikah. Rasa rindu yang menggebu-gebu kepada sang putri, menjadikan semangat tersendiri untuk Shintya pergi ke kota itu.

__ADS_1


"Baiklah. Lebih baik sekarang kita beristirahat terlebih dahulu, agar besok kita bisa bangun pagi dan berkemas. Malam juga sudah mulai larut, kita harus tetap sehat agar bisa pergi ke kota besok. Dan ingat, percayalah! Semua pasti akan baik-baik saja." ucap Nenek dengan penuh kasih sayang.


"Iya, Bu. Aku akan menuruti semua ucapan Ibu. Semoga semuanya benar begitu adanya." jawab Shintya dengan sedikit keraguan.


__ADS_2