
POV Andini
Terakhir kali ku ingat, aku sedang berada di ruangan operasi, yang terasa dingin dan menakutkan. Dan kini saat ku dapati, aku sudah berada di ruang perawatan ku kembali.
Perlahan sayup-sayup terdengar suara lembut seseorang yang tidak asing bagiku.
Dia adalah Ibuku, yang selama ini aku nantikan kehadirannya, dan selalu aku rindukan kasih sayang serta pelukan hangat darinya.
"Andini Sayang, kamu sudah sadar, Nak?" tanya Ibu dengan raut wajah yang berbinar.
"I-ibu," panggilku lirih dan hampir tidak terdengar.
"Iya Sayang, ini Ibu. Kamu tunggu sebentar ya? Ibu akan panggilkan Dokter Irawan terlebih dahulu, agar dia bisa segera memeriksa mu,'' ucap Ibu kepadaku, kemudian Ibu pun berlalu dan meninggalkan ku sendiri di ruangan ini.
Tak berselang lama kemudian, aku pun melihat kembali Ibu dan Dokter Irawan masuk dan berjalan ke arahku.
Setahuku Dokter Irawan adalah dokter yang selama ini menangani penyakitku, hingga operasi pun dia yang melakukannya.
"Alhamdulillah, semua sudah mulai stabil. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu untuk pemulihan saja. Semoga setelah operasi tadi dilakukan, Nak Andini akan kembali pulih dan sehat kembali," jelas Dokter Irawan kepada Ibuku.
Ibu pun terlihat sangat bahagia, saat mendengar penjelasan dari dokter tentang perkembangan ku.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Terima kasih, Dok. Semoga saja, setelah ini tidak akan ada lagi penyakit apapun yang akan menggangu kesehatan putri saya!" ucap Ibu dengan penuh haru.
"Sama-sama, Bu. Sudah menjadi tugas kami sebagai seorang Dokter, untuk melakukan yang terbaik kepada pasiennya," jawab Dokter Irawan dengan tulus.
Ibu pun hanya menganggukkan kepalanya, lalu Dokter Irawan pun pamit untuk undur diri. Karena masih ada pasien lain yang membutuhkannya.
"Sayang, kamu dengar kan tadi? Kamu akan segera sembuh dan sehat kembali. Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan do'a-do'a kami,'' ujar Ibu dengan tangis harunya.
Aku yang melihat Ibu sangat mengkhawatirkan ku kemarin, membuat ku percaya jika Ibu sudah benar-benar menerima ku.
Aku pun hanya tersenyum sambil menganggukkan perlahan kepalaku. Lalu ku edarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan, untuk mencari sosok yang selama ini sangat menggangu ku.
Ibu pun langsung menyadari jika aku sedang mencari seseorang.
"Sayang? Apa kau sedang mencari seseorang? Apakah kau mencari Nak Devano?" tanya Ibu dengan suara lembutnya.
Dengan ragu-ragu aku pun menganggukkan kepalaku lagi.
"I-iya Bu," jawabku lirih.
"Dia masih ada sini, Sayang. Jika kau ingin bertemu dengannya, kau harus pulih dulu!" tutur Ibu kepadaku.
__ADS_1
"Baiklah, Bu,'' Jawabku lirih.
Dalam hati aku pun bertanya-tanya, kemana Pak Devano pergi? Padahal aku juga ingin saat membuka mata tadi, dia juga berada di samping ku.
Entah mengapa, perasaan ku seperti ada yang mengganjal jika tentangnya saat ini.
"Bu," Panggilku lirih.
"Iya, sayang," Sahut Ibu.
"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku dengan hati-hati.
"Tentu saja boleh, sayang. Katakanlah!" seru Ibu sambil tersenyum kepadaku.
Dengan ragu-ragu, kini aku pun membuka suara ku kembali.
"Siapa pendonor transplantasi sumsum tulang belakang ku, Bu?" tanyaku sambil menatap wajah teduh Ibu.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA VOTE, MAWAR, LIKE, DAN KOMENNYA YA GUY😘
__ADS_1