
Andini.
"Bersiaplah! Satu jam lagi kita akan menemui ibuku!" titah pak Devano.
'Apakah keputusan yang ku buat ini benar? Apakah aku harus menjalani pernikahan kontrak dengan CEO mesum itu? Ah, benar-benar menyebalkan!' gumamku dalam hati.
"Iya Pak, saya sudah tau! Kalau begitu saya izin untuk mempersiapkan diri dahulu," ucapku dengan nada malas.
"O, iya, kamu pakai baju yang telah aku sediakan di sana!" titahnya sambil menunjuk sebuah paper bag di atas sofa.
Dengan langkah kaki gontai, aku pun menghampiri paper bag itu, kemudian membukanya. Saat ku lihat isinya, aku pun membelalakkan mata.
"Wah, cantik sekali baju ini? Pasti mahal sekali harganya," ucapku, yang terpana melihat dress berwarna navy, dengan sedikit payetan mutiara asli di sekitar penutup dada, sungguh terlihat sangat mewah dan elegan.
"Apa kau menyukainya? Saya sengaja membelikan gaun ini, sepertinya cocok jika kau memakainya," ucapnya, sambil berjalan menghampiriku.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan? Sepertinya dress ini sangat mahal harganya, apa nanti aku juga harus menggantinya?" tanyaku dengan hati-hati.
"Ckk, memang siapa yang suruh mengganti? Saya hanya ingin kamu memakainya, saat pertemuan kita dengan ibu saya. Karena saya hanya ingin kau terlihat cantik dan sempurna di hadapan ibu saya," ucapnya dengan santai.
Saat mendengar ucapannya, aku pun hanya memutar bola mata malas.
"Baiklah, tunggu sebentar saya akan mempersiapkan diri dulu! Anda tunggu di sini, dan jangan coba-coba untuk masuk ke dalam!" ucapku dengan penuh penekanan.
Kini aku pun bergegas menuju ke kamar pribadi, yang berada di ruangan kerja pria itu.
"Kenapa aku menjadi gugup seperti ini? Bukankah ini hanya pura-pura saja dan sementara, nanti setelah enam bulan pun aku akan berpisah dengannya. Semoga saja perasaanku padanya tidak semakin mendalam, agar nanti jika perpisahan itu terjadi. Aku pun tidak merasakan sakit yang teramat dalam," gumamku, saat berada di kamar pribadi pak Devano.
Kini aku berada di kamar dengan nuansa abu-abu, aku pun berdecak kagum, saat memandangi seisi kamar yang bersih dan tertata rapi.
"Apakah dia sendiri yang membersihkan kamar ini? Atau ada orang lain yang membantunya untuk membersihkannya?" gumamku, saat merasa takjub dengan isi kamar seorang Devano Wicaksana.
"Ah, entahlah. Memang siapa yang mau memikirkannya? Mau bersih atau kotor, rapi ataupun berantakan, siapa juga yang peduli. Itu sama sekali bukanlah urusanku," ucapku, lalu bergegas menuju ke kamar mandi yang tersedia di dalam kamar itu.
Sebelum aku memakai dress itu, aku pun membersihkan diri terlebih dahulu. Agar saat memakainya nanti terlihat segar.
Setelah selesai, aku pun bergegas memakai dress itu, dan berdiri di depan cermin.
"Wah, ternyata aku cantik juga jika memakai dress mahal seperti ini! Semoga saja, suatu hari nanti aku bisa membelinya dengan uang hasil kerjaku sendiri," ucapku dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Sebelum keluar tidak lupa aku sedikit memoles wajah dan bibirku, agar tidak terlihat pucat dan sedikit menyempurnakan penampilanku.
"Sempurna!" seruku dengan senyum tipis.
Setelah selesai, aku pun keluar dari kamar pribadi itu, kemudian membuka pintu. Kini aku pun berjalan ke arah pak Devano, meskipun dia belum menyadari kehadiranku saat ini.
Aku pun berdehem, untuk mencari perhatian darinya.
"Ekhm!"
Dia langsung menoleh ke arahku, kini mulutnya pun menganga dan matanya pun melotot seperti hendak keluar, saat melihat penampilan ku saat ini.
'Apakah dia terpesona saat melihat penampilanku saat ini?' batinku.
"Pak Devan? Halo!" kini ku lambaikan tanganku di depan wajahnya, guna menyadarkannya kembali.
Beberapa saat kemudian, kini dia pun kembali tersadar dan memasang wajah coolnya.
"Oh, sudah selesai? Saya pikir kamu akan membutuhkan waktu berjam-jam, untuk mempersiapkan dirimu," ucapnya dengan sedikit melirikku.
"Apa Pak Devan, ingin saya mengulanginya kembali, agar waktu yang saya gunakan lebih lama? kalau iya, saya akan kembali lagi ke dalam kamar," jawabku, lalu memutar tubuhku untuk menuju ke arah kamar.
Akan tetapi, tiba-tiba tanganku dicekal oleh Pak Devano. Aku pun terkejut dengan gerakan pria tersebut yang secara tiba-tiba.
Cup!
Tiba-tiba kecupan singkat mendarat di bibirku. Dan membuat tubuhku kembali membeku.
"You are the most beautiful woman that I will soon have!" ucapnya dengan seulas senyum manisnya.
Cup!
Kedua kalinya, bibirku mendapatkan kecupan singkat darinya. Kini gejolak dalam diriku pun bangkit kembali, suhu tubuhku pun terasa memanas.
"Apa kau akan diam saja seperti ini? Atau kau mau melanjutkannya dengan lebih panas lagi?" bisiknya tepat di samping telingaku, hingga membuat bulu kuduku berdiri.
Aku pun kembali tersadar, dan mendorongnya agar sedikit menjauh dariku.
"Tolong jangan keterlaluan, Pak! Apa Anda tidak ingat isi perjanjian yang telah Anda buat sendiri?" tenyaku dengan menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Dia pun hanya menyeringai saat mendengar ucapanku.
"Jika kau mau lebih, dengan senang hati aku akan melakukannya! Aku tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang menguntungkan diriku, apalagi dengan calon istriku sendiri," ucapnya, sambil berjalan perlahan agar mendekat ke arahku kembali.
Aku yang membaca gerak-geriknya, langsung memundurkan langkahku. Hingga akhirnya tubuhku kembali membentur ke dinding.
Kini dia kembali mengungkungku, dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Pak Devan, bukankah seharusnya kita berangkat sekarang, agar kita tidak terlambat,'' lirihku.
"Kau yang membuatku mengulur waktu, sayang. Biarkan saja Ibu menunggu sebentar, aku menginginkanmu saat ini," ucapnya yang terdengar serak.
"Ma-maksud A-anda a-apa, Pak?" tanyaku terbata-bata.
Tanpa aba-aba, dia pun langsung menyerangku kembali, dengan mencium kembali bibirku.
Kini mataku pun membulat sempurna, dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk melepaskan diri.
Akan tetapi semua sia-sia, kekuatanku kalah darinya.
Dengan rakusnya dia bermain sedikit kasar di bibirku. Aku pun kembali pasrah dengan perlakuannya.
Semakin lama, permainan bibirnya kembali membuatku melayang. Hingga aku pun mulai terlena dengan permainannya.
Perlahan aku pun tersadar kembali, lalu ku dorong tubuhnya hingga terhuyung ke lantai.
"Pak Devano! Anda telah melanggar perjanjian yang telah kita sepakati, apa Anda tau itu?" kesalku dengan amarah yang berapi-api.
"Oh, benarkah? Tapi bukankah kau juga menikmatinya? Apa kau merasa kurang puas? Aku bahkan bisa melakukannya lebih jika sudah menjadi suamimu," ucapnya dengan seulas senyum liciknya.
"STOP! Jangan mengatakan apapun lagi! Jika Anda masih ingin melakukan perjanjian itu, maka Anda jangan macam-macam lagi dengan saya, atau saya--"
Dia pun bangkit dari lantai, lalu berdiri kembali.
"Saya apa? Apa kau ingin membatalkan surat perjanjian yang telah kau tandatangani? Apa kau lupa, jika saya bisa mengajukan tuntutan dan memintamu, untuk membayar denda dengan nominal yang saya inginkan?" tantangnya dengan santai.
Aku pun membelalakkan mata. Kenapa aku bisa melupakan isi perjanjian yang satu ini.
'Ah, Sial! Sangat menyebalkan!' batinku, yang merasa sangat geram dengan ancaman dari Pak Devano.
__ADS_1
"Tapi ....''
BERSAMBUNG.....