
"Namanya adalah Arvin El Fatih Wicaksana. Bagaimana? Apakah kamu menyukainya?" tanya Devano sambil mengusap lembut puncak kepala putranya.
"Nama yang indah, Kak. Aku sangat menyukainya. Semoga saja dia akan menjadi anak yang terbaik. Aku berharap jika dia akan menjadi laki-laki yang baik dan bertanggungjawab sama seperti Ayahnya." ujar Andini dengan mata yang berkaca-kaca.
Degh!
Bagai di hantam oleh batu karang. Ucapan Andini begitu menohok dan membuat Devano tertegun. Dia merasakan sesuatu hal dari ucapan istrinya.
Saat dia tersadar, dia langsung menciumi seluruh wajah putra dan istrinya secara bergantian. Dia pun sempat merasa gagal menjadi suami dan ayah untuk mereka. Bahkan, dia juga merasa jika ucapan Andini sedikit membuat hatinya terasa nyeri.
Semua itu bukan berarti dia akan menyalahkan istrinya karena ucapannya, karena ucapan itu memang pantas untuknya. Mungkin saat mengatakan hal itu Andini sama sekali tidak menyadarinya.
"Maafkan aku, Sayang! Karena sempat gagal menjadi imam dan suami yang baik untukmu. Bahkan aku juga tidak bisa menemukan mu, di saat kamu pergi dan mengandung buah cinta kita." ujar Devano sambil mencium lembut pipi Andini.
Andini yang belum sepenuhnya mengerti, dia hanya mengernyitkan keningnya. Entah apa yang dimaksud oleh suaminya, saat ini dia tidak ingin ambil pusing.
Setelah menjalani proses persalinan yang hampir saja merenggut nyawanya, kini Andini lebih berpikir positif dan menjauhkan pikiran negatifnya.
"Em, iya, Kak. Lihatlah dia sangat tampan sepertimu kan? Dia juga sangat mirip denganmu. Bahkan aku saja terlewatkan olehnya." ucap Andini sambil meneteskan buliran bening di kedua sudut matanya.
Air mata itu bukan pertanda jika dia sedang sedih ataupun tersakiti, tetapi karena dia begitu sangat bahagia dan tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
__ADS_1
Devano yang tidak ingin membuat istrinya bersedih, kini sejenak melupakan hal yang tidak seharusnya dia bahas untuk saat ini.
"Iya, Sayang. Tetapi Bundanya juga sangat cantik, jadi putranya juga menurun darimu. Coba lihatlah, bola mata hazelnya juga menurun darimu, dan ini bulu mata yang lentik pun juga menurun darimu. Jadi jangan bilang jika Arvin tidak menurun darimu, karena dia adalah perpaduan diantara kita, Sayang. Apa kamu bahagia sekarang?" ujar Devano.
Andini pun menganggukkan kepalanya sambil terkekeh. Dia tidak ingin membuat suasana bahagia menjadi sirna hanya karenanya. Meskipun di dalam hatinya dia masih enggan untuk berdekatan dengan suaminya, tetapi demi putranya dia harus sedikit menurunkan egonya.
"Iya, Kak. Kamu benar. Manik mata hazelnya dan bulu matanya sangat mirip denganku." ucap Andini sambil terkekeh.
Dokter Rebecca dan beberapa perawat yang melihat keharmonisan keluarga kecil itu, hanya bisa tersenyum dan turut merasakan kebahagiaan untuk mereka.
"Permisi, Nyonya, Tuan! Saya akan membersihkan bayinya terlebih dahulu. Dan suster yang lain juga akan membersihkan diri anda terlebih dahulu." terang sang perawat sambil mengulurkan tangannya.
Devano dan Andini kini langsung mengerti, dan menyerahkan putra tercinta kepada sang perawat itu. Di dalam ruangan itu, Andini dan Devan masih memandangi bayi mungil itu.
"Astaghfirullah! Aku hampir saja melupakan mereka, Sayang. Saat ini mereka pasti sangat khawatir dengan keadaan mu. Em, aku akan keluar sebentar untuk memberitahukan kepada mereka, jika kalian baik-baik saja." ujar Devano sambil mengecup lembut puncak kepala Andini.
"Baik, Kak. Cepatlah! Sebelum mereka mengkhawatirkan kami." cetus Andini.
Devan pun langsung meninggalkan ruangan itu, meskipun sebenarnya dia sangat enggan untuk berpijak dari tempat itu meskipun hanya selangkah saja.
Ceklek!
__ADS_1
"Bagaimana keadaan putri Mama, Nak? Apakah dia baik-baik saja? Dan kamu juga sempat mendengarkan suara bayi. Apakah dia sudah lahir?" tanya Rahma dengan suara parau.
Melihat mata Mamanya yang sembab, kini membuat Devan teringat akan perjuangan istrinya untuk melahirkan anaknya ke dunia.
Tiba-tiba Devan langsung bersimpuh di depan Rahma, sambil meneteskan buliran bening dari pelupuk matanya. Dia pun langsung menciumi kedua kaki Mamanya, tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya.
"Maafkan Devan, Ma! Saat melihat Andini yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan putra kami, aku jadi teringat dengan Mama. Mungkinkah dulu Mama juga merasakan apa yang istri Devan rasakan? Bahkan Devan pun tidak pernah bisa membayangkan, bagaimana rasanya menjadi wanita yang sudah mengandung selama sembilan bulan, dan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan buah hatinya. Maafkan Devan! Dan terimakasih karena Mama telah berjuang agar Devan bisa lahir ke dunia ini, dan bisa hidup diantara kalian semua. Terimakasih!" tutur Devan yang masih bersimpuh di depan Rahma.
Rahma yang tidak pernah menyangka, jika putranya akan mengatakan hal itu kepadanya. Kini buliran bening itu kembali membanjiri pipinya, dan dia pun langsung menarik tubuh putranya agar berdiri.
Devan yang saat ini juga sudah berderai air mata, langsung memeluk Mamanya dengan erat. Ucapan terimakasih dan pengabdiannya selama ini, tidak sebanding dengan perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan untuknya. Hidup mandiri tanpa seorang suami yang menemani, membuat sosok wanita paruh baya itu menjadi sosok yang sangat kuat dan tangguh.
Bi Sarah dan Pak Purnomo yang melihat momen yang sangat mengharukan untuk mereka. Kini mereka pun tidak luput dari air mata yang membasahi pipi mereka.
"Iya, Nak. Kamu adalah harta satu-satunya yang paling berharga yang Mama miliki. Tetaplah menjadi putra ku yang terbaik. Dan ingatlah, sekarang tanggungjawab mu bertambah satu. Jadi kamu harus bisa bersikap adil kepada keduanya, apalagi Andini juga baru saja kembali. Satu pesan Mama kepadamu, tolong jangan sakiti dia lagi dan apapun yang dia rasakan, kamu juga harus peka dan tetap berhati-hati. Ingatlah! Bahaya bisa mengancam kebahagiaan kalian kapanpun itu." tutur Rahma dengan penuh kasih sayang.
"Maaf! Apakah kami boleh ikut menunggu Nak Andini di sini?" sela Bi Sarah.
Devano dan Mamanya kini mengangguk antusias. Bagaimana mereka bisa menolak orang-orang berhati malaikat seperti mereka. Menolong dan memberikan tempat tinggal secara cuma-cuma kepada orang asing begitu saja, tanpa merasa curiga sedikitpun kepada orang asing itu.
"Tentu saja boleh, Pak, Bu. Dengan senang hati kami akan memberikan izin itu. Bahkan kami pun belum bisa untuk membalas budi kalian berdua. Saya selaku suami Andini, mengucapkan banyak terimakasih. Karena kalian telah Sudi untuk memberikan tempat tinggal dan kasih sayang kepada istri saya." ucap Devan dengan tulus.
__ADS_1
"Terimakasih, Nak. Kami sudah menganggap Nak Andini seperti keluarga kami sendiri. Pada saat itu, kami juga tidak pernah berpikir sejauh tentang hal negatif tentangnya." ujar Bi Sarah dengan suara parau.