
Satu Minggu kemudian...
di Hotel TiVan's
Setelah acara Ijab Qobul, tepat satu Minggu yang lalu. Kini sesuai dengan kesepakatan, kami pun menggelar acara resepsi di sebuah Hotel milik Kak Devano sendiri.
Jujur saja, aku sangat gugup hari ini. Bagaimana tidak? Apa yang akan di pikirkan oleh orang-orang sekantor di TiVan's Company Group? Seorang gadis desa yang hanya bekerja sebagai office girl, bersanding dengan seorang CEO muda yang terkenal dingin dan arogan.
"Sayang?"
Kini suara bariton menyadarkan aku dari lamunan ku.
"Eh, i-iya Kak?" sahutku sambil tergagap.
"Lho, kamu kenapa Sayang? Apa ada yang mengganggu pikiran mu?" tanya Kak Devan sambil menggenggam erat tanganku.
"Emn, apa kita harus melangsungkan acara resepsi ini? Eh, emn.. maksud ku bagaimana dengan mereka semua? Bagaimana tanggapan mereka tentangku, Kak? Apa yang akan mereka katakan nanti? Seorang Upik abu seperti ku bersanding dengan seorang pangeran seperti Kak Devan. A-aku -." kini Kak Devan membungkam bibirku dengan bibirnya. Aku pun langsung terkejut dengan serangannya yang tiba-tiba.
Meskipun kami sudah satu Minggu menikah, Kak Devano sama sekali tidak pernah memaksaku untuk meminta haknya. Hanya saja, serangan tiba-tiba seperti ini yang seringkali membuat jantungku berdebar kencang dan bertalu-talu.
"Ssttt! Tolong jangan katakan apapun lagi! Biarkanlah mereka berkata apa tentang hubungan kita! Jika mereka berani membicarakan mu di belakangku, maka aku orang pertama yang akan membelamu dan menghempaskan mereka dari Kantorku. Biarkan saja mereka akan menganggap ku kejam! Karena yang terpenting bagiku sekarang adalah kenyamanan dan kebahagiaan mu, Sayang." ucap Kak Devan dengan penuh keyakinan.
Aku yang mendengar ucapannya, kini sedikit membuat hatiku luluh. Aku tidak menyangka orang yang selama ini seringkali membuat ku kesal, sekarang justru menjadi suami yang begitu lembut dan penyayang.
'Ya Allah, apa semudah ini pertahanan ku goyah? Apa setelah ini aku akan luluh dan menjadi istri penurut untuknya? Sungguh aku benar-benar sudah tidak sanggup jika tidak memeluknya saat ini.' gumamku dalam hati.
Kini buliran kristal bening pun akhirnya lolos dari pelupuk mataku, yang sejak tadi aku tahan agar tidak luruh. Akan tetapi setelah mendengar ucapan Kak Devan, kini pertahanan ku pun goyah.
"Hey, Sayang! Mengapa kamu menangis? Ssttt! Diamlah! Sebentar lagi acara akan di mulai, nanti riasanmu akan luntur lho." ucap Kak Devan sambil meraih sapu tangan yang selalu ia bawa di sakunya.
Tanpa aba-aba, aku pun langsung berhambur ke dalam pelukannya. Kini rasa ego di dalam hatiku, ku tepis jauh-jauh. Karena aku sudah tidak bisa lagi menahan diriku lebih lama lagi.
Di dalam pelukan Kak Devan, kini aku merasakan kenyamanan dan kedamaian yang sama sekali belum pernah aku rasakan sebelumnya.
"Hey, hey! Sudah ya! Aku tidak mau kamu bersedih di hari bahagia kita. Aku ingin kita menunjukkan kepada dunia, bahwa kita adalah sepasang suami-istri yang bahagia." ucap Kak Devan dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Aku pun hanya mengangguk sambil memeluk erat tubuhnya. Kemudian secara perlahan pelukan kami terlepas, dan kini Kak Devan menangkupkan kedua tangannya di pipiku.
"Percayalah, Sayang! Jika aku benar-benar tulus mencintaimu sejak pandangan pertama, hingga saat ini dan selamanya hanya akan terukir nama Andini Amalia di dalam hatiku." ucap Kak Devan dengan penuh keyakinan.
Kini kecupan hangat mendarat di keningku.
Saat ini pertahanan ku benar-benar goyah, aku pun tidak lagi merasa malu untuk menatap intens matanya.
Kini pandangan kami saling terkunci, perlahan wajahku mendekat ke arah Kak Devan. Entah sosok apa yang telah merasuki ku, hingga aku menjadi seberani ini memulainya terlebih dahulu.
Gejolak di dalam diriku pun berkobar dan sulit untuk ku bendung. Ah, benar-benar sangat memalukan jika ada orang yang melihatnya saat ini.
Perlahan aku pun mendekatkan bibirku dengan bibirnya hingga menempel. Dan dengan sangat hati-hati, kini Kak Devan pun langsung menerima seranganku lalu ********** dengan lembut.
Tok... Tok... Tok...
Kini suara ketukan pintu menyadarkan kami, lalu aku pun langsung menarik tubuhku agar menjauh dari Kak Devan.
"Ish! Mengganggu saja!" gerutu Kak Devan.
"Iya, ada apa?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang datar.
"Maaf Pak, jika mengganggu! Acara resepsi sebentar lagi akan di mulai, jadi Pak Devano dan Bu Andini di mohon untuk segera keluar, dan mengikuti serangkaian acara resepsi ini." jelas salah satu kordinator yang sedang menjalankan tugasnya.
"Baiklah!" jawabnya singkat, lalu Kak Devan pun mengibaskan tangannya, memberikan tanda agar orang itu meninggalkan kami berdua.
Lalu Kak Devan pun menghampiri ku kembali, lalu menggandeng tanganku untuk segera keluar dari private room ini.
Kini terdengar suara sepatu pantofel yang beradu dengan lantai. Kami akhirnya tiba di sebuah Aula, yang di sana telah banyak orang yang sedang menantikan kehadiran kami.
Saat ini banyak pasang mata yang memperhatikan kami, kami pun menjadi pusat perhatian saat ini.
Gugup? Jelas. Siapa yang tidak gugup jika banyak pasang mata yang mengintimidasi. Sayup-sayup terdengar suara kasak-kusuk, yang menelisik ke dalam pendengaran ku.
"Lho, kok aku seperti pernah melihat gadis itu? Tetapi dimana ya?"
__ADS_1
"Bukankah dia Andini? Si office girl baru di kantor!"
"Iya, ya. Apa jangan-jangan selama bekerja dengan Pak Devano, dia mengguna-guna boss kita?"
"Wah, seperti ada yang tidak beres nih!"
Dan lain sebagainya...
Masih banyak lagi ucapan-ucapan yang membuat ku merasa tidak pantas, untuk bersanding dengan Kak Devano.
Akan tetapi tanpa ku duga, Kak Devano pun menyadari kegugupan ku karena tanganku saat ini menjadi sedingin es.
Tanpa aba-aba, Kak Devano pun menggendongku ala bridal style , aku pun terpekik karena terkejut lalu aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya . Dan apa yang dia lakukan membuat semua wanita yang melihatnya menatap iri kepadaku.
Seperti biasa, Kak Devano pun seperti tak peduli dengan tatapan dan ucapan mereka, bahkan dia mengacuhkan mereka.
Akhirnya kami pun tiba di panggung utama yang ternyata di sana sudah ada Ibu, Mama dan Nenek.
Mereka pun menyambut hangat kedatangan kami.
Lalu Kak Devan pun menurunkan aku dari gendongannya.
"Apa kamu menyukainya, Sayang?" bisiknya tepat di sebelah telinga ku, sehingga membuat semua bulu kuduk ku berdiri.
Aku pun tersenyum lebar kepadanya, lalu ku anggukan kepalaku.
"Iya, Kak. Aku sangat menyukainya. Akan tetapi apakah ini tidak berlebihan? Ini sangat mewah untuk wanita desa seperti ku," bisikku sambil tersenyum getir.
"Ssttt! Jangan katakan itu lagi, atau aku akan menciummu di sini, di depan semua orang. Agar mereka tau bahwa hubungan kita bukan hanya rekayasa semata, tetapi karena atas dasar CINTA ." bisiknya sambil menatap dalam-dalam ke arahku.
Aku pun menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Tidak, Kak! Jangan lakukan itu!" bisikku kepadanya.
'Ah, Dasar CEO Mesum.....'
__ADS_1
BERSAMBUNG....