Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Menyadari Kesalahan


__ADS_3

POV Shintya 


Brugh!


"Andini!" Teriakku dan Ibu secara bersamaan.


"Astaghfirullahal'adzim! Sayang, kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu yang ikut mengkhawatirkan keadaan Andini.


"Cepat, Shin! Ayo, kita bawa ke Dokter segera! Cepat kamu meminta tolong kepada nak Devano untuk membantu kita membawa Andini!" titah Ibu lagi.


"Baik Bu! Sebentar, aku akan keluar dulu!" jawabku sambil berlari kecil keluar kamar, untuk menghampiri Rahma dan putranya.


"Rahma, Tltolong bantu aku! Andini pingsan, dan wajahnya juga terlihat pucat! Tolong bantu kami untuk membawanya ke Dokter!" pintaku setengah berteriak dengan tangis yang akhirnya pecah.


"Apa!" Devano pun terkejut, kini dia berlari ke kamar Andini.


"Ayo, cepat, Shin!" titah Rahma yang tidak kalah terkejutnya.


Akhirnya kami pun berlari bersama-sama ke dalam kamar Andini.


"Sayang?" oanggil Devano, yang kini telah sampai lebih dulu di kamar Andini.


"Ayo Nek! Kita harus segera membawa Andini ke Dokter. Wajahnya sudah sangat pucat saat ini!" panik Devano kepada Ibuku.


"Iya, Nak, ayo!" jawab Ibu, lalu Devano pun langsung menggendongnya untuk menbawa putriku ke Dokter.


'Ya Allah, kenapa setelah Engkau menyadarkan aku, Engkau tidak memberikan waktu untukku bersama dengan putriku? Tolong jangan pernah pisahkan aku dengan putriku! Aku ingin menebus semua kesalahan yang telah ku perbuat kepadanya,' gumamku dalam hati, kini air mataku luruh dengan derasnya.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya kami pun tiba di sebuah Klinik swasta, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah.


Kami pun bergegas menuju ke ruang IGD.


"Sus, berikan perawatan sesegera mungkin untuk calon istri saya!" pinta Devano, yang tidak kalah khawatirnya.


"Baik, Pak,'' jawabnya dengan ramah. Suster itu pun dengan cekatan segera mengambil tindakan.


Kini selang infus dan oksigen sudah terpasang di tangan dan hidung Shintya.


"Tolong segera lakukan pendaftaran terlebih dahulu ya, Pak, agar kami bisa segera memindahkannya ke ruang perawatan," jelas suster tersebut.


Lalu kami pun menganggukinya.


"Baik, Sus, saya akan segera melakukan pendaftaran itu. Tapi saya mohon, segera pindahkan calon istri saya, ke ruang perawatan. Tolong lakukan yang terbaik untuknya!" pinta Devano lagi.


"Bu, bisakah membantu saya mengurus pendaftaran ini!" pinta Devano kepadaku.

__ADS_1


"Iya Nak, ayo!" jawab ibu Shintya kepada Devano.


"Bu, Ma, titip Andini terlebih dahulu ya. Kami akan segera kembali," ucap bu Shintya kepada Nenek dan Rahma.


Lalu mereka pun mengiyakannya.


Bu Shintya dan Devano, kini berjalan dengan cepat menuju ke ruang pendaftaran.


*Flashback on*


Setelah kepergian Andini ke kota, kini aku pun merasa kesepian dan kehilangan. Setiap hari aku merenungi dan menyesali atas semua perbuatanku kepada putri kandungku sendiri.


"Maafkan Ibu, Andini! Ibu menyesal karena selama ini telah mencampakkan mu. Ibu tau, Ibu sangat egois karena hanya memikirkan perasaan Ibu sendiri, tanpa tau bagaimana perasaan mu atas perlakuan dan sikap Ibu yang sangat keterlaluan. Maafkan Ibu, Nak! Sejujurnya saat melihat dirimu, Ibu selalu melihat sosok Ayahmu yang ada di dalam dirimu. Karena Wajah mu sangat mirip dengannya, kalian layaknya pinang di belah dua. Sejujurnya Ibu sangat tersiksa dengan perlakuan Ibu sendiri terhadapmu," ucapku, saat memandangi foto Andini yang selama ini tersimpan dengan rapi di balik tumpukan bajuku.


Sejak saat itulah, aku bertekad untuk menembus semua kesalahan yang telah aku perbuat kepada Andini!


*Flashback off*


Kini Andini sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Dan kami pun masih menunggu hasil dari Dokter yang memeriksa putriku.


Kini pintu pun terbuka, dari balik pintu Dokter berjalan ke arah kami.


"Keluarga pasien?" panggil sang Dokter.


Aku pun maju lebih dahulu ke arah Dokter itu, lalu di susul oleh Ibu, Devano, dan Rahma.


"Untuk saat ini kondisinya sedikit menurun, kami akan segera melakukan pengecekan keseluruhan. Mulai dari tes darah dan pemeriksaan lainnya, jadi kami belum bisa memastikan apa penyebab hingga pasien tidak sadarkan diri sampai saat ini," jelas sang Dokter kepada kami.


"Tolong lakukan secepat mungkin, dan berikan perawatan yang terbaik!" ucap Devano, yang tidak kalah khawatirnya denganku.


Saat ku pandangi putra dari sahabat ku, sepertinya dia benar-benar tulus kepada putriku. Karena sejak tadi dia selalu mondar-mandir di depan pintu dan mengintipnya dari balik jendela kecil di sana.


"Sekarang kalian tenang dulu, kita tunggu kabar selanjutnya dari Dokter. Semoga saja tidak terjadi apa-apa kepada Andini, aku tau dia anak yang hebat dan kuat. Percayalah kepadanya, Shin,'' ucap Rahma yang mencoba untuk menenangkanku.


"Insya Allah Ma. Semoga saja Allah SWT segera memberikan kesembuhan kepada putriku. Agar aku bisa menebus semua dosa dan kesalahanku kepadanya," jawabku sambil menerawang jauh ke masa-masa aku mencampakkan putriku.


Seandainya saja aku bisa melawan egoku sendiri. Mungkin saat ini Andini tidak kehilangan kasih sayang dari seorang Ibu, yang seharusnya dia dapatkan dariku sejak kecil.


"Maksudnya bagaimana Shin? Aku tidak mengerti dengan ucapan mu?'' tanya Rahma, yang merasa kebingungan saat ini.


Aku pun menceritakan semua perbuatanku kepada Andini. Terlihat Rahma pun terkejut dengan apa yang aku ceritakan kepadanya.


"Apa! Bagaimana bisa kau menyalahkan putrimu, yang sama sekali tidak tau menau tentang kejadian yang menimpamu. Tolonglah Shin! Jangan egois seperti ini! Dia sama sekali tidak bersalah atas semua kejadian ini, bahkan saat itu dia sama sekali belum mengerti apa-apa. Jadi aku mohon, sadarlah! Dia sangat membutuhkan sosok Ibunya untuk saat ini, dia hanya membutuhkan dukungan dari Ibunya," ucap Rahma dengan suara seraknya, dia pun tidak menyangka bahwa aku setega itu, kepada darah dagingku sendiri.


"Iya, Ma. Aku tau kesalahan ku sangat fatal, sehingga membuatnya tidak betah di rumahnya sendiri. Bahkan dia memutuskan untuk hidup mandiri, padahal dia belum lama ini baru lulus SMA. Aku benar-benar Ibu yang sangat bodoh untuknya, aku Ibu yang sangat kejam, Rahma!" Kini tangisku pun kembali pecah.

__ADS_1


Aku yang yang selama ini selalu mengutuk diriku sendiri, karena tidak selayaknya aku bersikap kasar dan keterlaluan kepada Andini.


******


Keesokan harinya...


Hari ini Andini belum juga sadarkan diri, aku yang sedari kemarin masih selalu terjaga, untuk menunggu putriku sadar.


"Nak, bangunlah! Ibu ada di sini sekarang, maafkan Ibu karena sangat terlambat untuk menyadari atas semua kesalahan Ibu kepadamu," ucapku, sambil menggenggam tangan Andini yang tidak terpasang selang infus.


Terdengar suara pintu terbuka.


Aku pun menoleh ke arah pintu itu. Kini aku pun melihat Dokter bersama dengan suster berjalan menghampiri kami.


"Selamat pagi, Bu," Sapa sang dokter dengan ramahnya.


"Iya Dok, selamat pagi juga," sahutku sambil tersenyum tipis ke arahnya.


"Baik Bu, saya akan memeriksa pasien terlebih dahulu, sebelum melakukan berbagai tes untuk mengetahui, apa penyebab sehingga sampai sekarang pasien belum sadar diri juga,"jelas sang Dokter.


Aku pun mempersilahkannya.


"Silahkan, Dok! Tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya!" Pintaku kepada sang Dokter.


"Insya Allah, Bu, kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien," ujar Dokter tersebut dengan ramah.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan mengambil sampel darah Andini, kini sang Dokter dan perawat itu izin untuk undur diri.


Kini aku pun masih menunggunya, dan berharap putriku agar segera tersadar. Saat aku menunduk kepalaku, kini aku merasakan gerakan di sela-sela jari yang berada di dalam genggaman ku.


"Sayang,'' panggilku dengan suara lembut.


"Ibu." Kini terdengar suara lirihnya yang memanggilku.


"Iya, sayang! Sebetar ya, Ibu akan memamggil Dokter terlebih dahulu," ucapku, lalu perlahan melepaskan genggaman tangan kami.


Tak berselang lama kemudian, kini sang Dokter dan seorang perawat tadi pun kembali lagi.


"Bagaimana keadaan putri saya sekarang, Dok?" tanyaku dengan penuh harap.


"Tolong nanti Ibu datang ke ruangan saya, karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan!" titah sang Dokter kepadaku.


"Baik, Dok,'' jawabku dengan seulas senyum tipis.


'Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu, Sayang?' gumamku dalam hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2