Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Harus Di Operasi


__ADS_3

BERSAMBUNG....


"Ap-apa, Dok! Kanker Darah? Bagaimana bisa itu terjadi? Putri saya bahkan tidak mengalami gejala apapun sebelumnya," ucapku dengan wajah yang terkejut, tak terasa kini tangisku pun pecah.


"Iya, Bu. Kanker darah bisa terjadi tanpa mengalami gejala apapun, karena yang di alami oleh putri Anda adalah jenis kanker darah yang lambat berkembang. Jadi baru ketahuan hari ini, saat kami melakukan tes darah putri Anda," jelas Dokter Irawan.


"Lalu bagaimanakah agar putri saya bisa sembuh, Dok? Tolong lakukan yang terbaik, apapun akan saya lakukan demi kesembuhan putri saya," ucapku dengan buliran air mata yang mengalir dengan derasnya.


"Karena ini kanker darah yang lambat berkembang, jadi kita masih bisa dengan cepat, untuk melakukan penyembuhan kepada putri Anda. Akan tetapi kami harus melakukan operasi, sehingga kami membutuhkan donor sumsum tulang belakang, untuk melakukan pencangkokan," jelas Dokter Irawan lagi.


"Silakan cek sumsum saya, Dok! Kerena saya ibu kandungnya, kemungkinan sumsum kami cocok," ucapku dengan penuh harap.


"Baiklah, kami akan melakukan pengecekan terhadap Bu Shintya. Akan tetapi, Bu Shintya harus mempersiapkan diri terlebih dahulu," ucap Dokter Irawan kepadaku.


Lalu ku angguki ucapannya.


"Baik Dok! Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," ucapku dengan seulas senyum yang dipaksakan.


Hati Ibu mana yang tidak hancur, saat mengetahui putrinya sedang berjuang untuk melawan sakit yang di deritanya. Dengan langkah gontai aku pun keluar dari ruangan Dokter Irawan.

__ADS_1


"Kenapa semua harus terjadi kepada putriku? Kenapa harus sekarang? Di saat kami akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, kini semua sirna begitu saja saat aku mengetahui penyakit putriku. Sungguh hatiku benar-benar sangat hancur," gumamku, di sela isakan tangisku.


Kini aku pun berjalan ke arah Ibu, Rahma, dan Devano. Mereka yang melihatku berjalan hampir terhuyung, dengan cepat mereka menangkapku agar tidak terjatuh.


"Ada apa, Shin? Kenapa kamu menangis?" tanya Ibu dengan wajah khawatir.


Aku pun masih terdiam, tanpa berkata apapun.


"Katakan, Shin! Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan diam saja seperti ini!" tanya Rahma, yang tidak kalah khawatirnya.


Lalu aku pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Aku mencoba untuk menenangkan diriku sendiri terlebih dahulu, sebelum menceritakan tentang penyakit yang di derita oleh putriku, Andini.


''Bu,'' panggilku lirih.


"Bu, apakah Allah SWT marah kepadaku? Karena telah mencampakkan darah dagingku sendiri? Apa ini hukuman untukku?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Ibu, kini aku melontarkan pertanyaan kembali kepadanya.


"Apa yang kau katakan, Shin? Ada apa? Coba jelaskan kepada Ibu, bagaimana keadaan cucu Ibu?" tanya Ibu lagi.


"Bu, Andini menderita penyakit kanker darah stadium awal, kemungkinan besar penyembuhannya akan lebih cepat. Tetapi ..." Aku pun sangat berat untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Tetapi apa Shin? Jelaskan kepada kami secara detail, jangan setengah-setengah begini! Sehingga membuat kami takut," ucap Ibu, dengan wajah memohon.


Aku pun menghela napas panjang, lalu melanjutkan kembali ceritaku.


"Tetapi Andini harus melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang, Bu. Agar penyembuhan nya tidak membutuhkan waktu lama, dan aku akan mengecek terlebih dahulu sumsum ku. Semoga saja sumsum kami cocok," ucapku dengan penuh harap.


"Apa! Operasi? Bagaimana jika sumsum kalian tidak cocok? Kita harus mencari pendonor dimana? Apakah Ibu bisa ikut memeriksa sumsum Ibu?" tanya Ibu, kini buliran air matanya pun mengalir dengan derasnya.


"Tidak Bu, Ibu tidak bisa melakukan itu! Karena usia Ibu tidak memenuhi syarat untuk menjadi pendonor. Semoga saja sumsum ku cocok untuk putriku," ucapku dengan penuh keyakinan.


"Tetapi bagaimana jika tidak cocok, Shin? Dimana kita harus mencari pendonor itu?" Tanya Ibu, yang kini menggenggam erat tanganku.


Suasana pun terasa hening.


"Ibu jadi kembali teringat kata-kata yang diucapkan oleh Andini, sebelum dia meminta izin untuk bekerja di kota," ucap Ibu yang menerawang 3 Minggu yang lalu.


"Apa yang Andini katakan kepada Ibu?" Tanya ku dengan rasa penasaran.


"Sebelum dia meminta izin kepada Ibu, dia pernah mengatakan bahwa dia ingin kamu memeluk dan menciumnya meskipun hanya sekali saja. Karena itu adalah harapan sederhananya selama ini, saat dia tau jika kamu sangat membencinya. Bahkan dia juga sering bertanya kepada Ibu, kenapa kamu sangat membenci dan memakinya setiap hari," ucap Ibu yang memandang lurus ke depan.

__ADS_1


"Apa!'' Kini air mataku pun mengalir lebih deras dari sebelumnya.


BERSAMBUNG......


__ADS_2