
Aku yang kini mendapatkan hinaan dan juga cacian dari seorang Devano Wicaksana, merasakan sesak yang teramat sangat menyakitkan.
"Maafkan aku, Van. Aku menyesal telah menyia-nyiakan ketulusanmu dulu. Kini aku sadar, selama dua tahun ini Rizky hanya memanfaatkan diriku saja. Bahkan setelah aku mengandung anaknya pun, dia justru mencampakkan aku. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" gumamku sambil meratapi nasibku yang begitu malang.
Kini aku bersandar di kursi belakang kemudi.
Tiba-tiba terlintas rencana licik dalam pikiranku.
"Kita lihat saja nanti Van! Kamu pasti akan menjadi milikku kembali dan kamu tidak akan pernah bisa menolaknya!" ucapku dengan seulas senyum licik.
Kini aku pun mengemudikan mobil, menuju ke arah apartemenku. Aku akan menyusun rencana untuk menjebak Revan, dan aku sudah tidak sabar untuk segera melakukannya.
Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk tiba di apartemen, karena jarak dari kantor Revan dengan apartemenku hanya 40 menit saja. Dan kini bisa aku tempuh dengan waktu 30 menit, karena aku mengemudikan dengan kecepatan tinggi.
Kini aku pun memasuki apartemenku, kemudian merebahkan diriku di atas ranjang. Ku pandangi langit-langit kamar, ada sedikit penyesalan kenapa dulu aku mencampakan orang yang sangat baik seperti Devan.
"Argh! Sial. Semua ini gara-gara Rizky! Andai saja dia mau bertanggung jawab dengan janin yang sedang aku kandung sekarang, mungkin aku tidak akan segilaa ini. Bahkan aku harus menjadikan Devan sebagai umpan!" teriaku di dalam kamar yang kini terdengar menggema.
Di saat kandunganku kini sudah memasuki usia 6 minggu, setiap pagi aku harus mengalami morning sickness, dan itu membuatku merasa sangat tidak nyaman.
Kini aku pun mulai menyusun rencana untuk menjebak Devan. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendapatkannya kembali.
Meskipun jalan yang ku ambil salah, akan tetapi ini hanya satu-satunya jalan yang harus aku lakukan.
Aku tidak mau menanggung aib ini sendiri, dan membuat malu keluargaku, bahkan reputasiku pun akan ikut hancur.
Mau tidak mau aku harus segera melakukannya sebelum kandungan ku mulai membesar, aku harus benar-benar matang untuk menyusun setiap rencana ini, aku tidak mau membuat Devan curiga kepadaku.
"Aku tahu sekarang apa yang harus aku lakukan!" Kini pikiran licik kembali merasuki ku.
Aku yang sudah dimasuki oleh nafsu, kini segera bangkit dan kembali menemui seseorang untuk ku ajak kerja sama.
Dalam perjalanan menuju ke apartemennya, kini aku seperti menghirup udara segar untuk melangsungkan rencanaku. Aku yang memiliki akses menuju ke apartemennya pun segera menaiki lift, untuk menuju ke salah satu kamar yang di tempati olehnya.
Ceklek!
Kini pintu telah berhasil terbuka. Dan ternyata orang yang aku cari sedang berada di dalamnya. Aku pun langsung datang untuk menghampirinya.
"Hai honey, tumben kamu ke sini? Pasti ada sesuatu yang sangat penting hingga membuatmu datang kemari," ucapnya dengan nada sedikit menyindir.
__ADS_1
Aku yang kini sedang berjalan ke arahnya pun hanya berdecak.
"Ckk! Diamlah aku mempunyai tugas penting untukmu, dan kamu harus berhasil memancing seseorang untuk datang menemuiku!" ucapku dengan tatapan tajam ke arahnya.
Dia pun kini justru tertawa dengan keras.
"Hahaha, sudah kuduga! Pasti jika kau kemari ada sesuatu yang sangat penting, dan kau pasti juga membutuhkanku kali ini,'' jelasnya dengan melipat kedua tangannya di atas dada.
Aku yang memang sudah hafal dengan sifatnya itu kini hanya bisa pasrah.
"Sebelum aku melakukan semua perintah darimu, pasti kamu juga sudah tahu apa yang aku inginkan saat ini!" ucapnya kini dia semakin mendekat ke arahku.
Aku yang sudah mengerti apa kemaunya, kini hanya bisa pasrah dan membiarkannya melakukan itu padaku.
.
.
Setelah kami selesai melakukan sesuai kemauanya.
Kini saat aku yang menjelaskan tentang tujuanku datang kepadanya.
Aku pun langsung menghadap ke arahnya, lalu mengusap dada bidangnya.
"Aku ingin kau memancing seseorang agar mau menemui ku!" pintaku dengan nada manja.
Dia pun mengernyitkan dahinya. "Seseorang? Siapa itu? Apakah Rizky yang kau maksud?" tanyanya penasaran.
Aku pun memukul pelan dadanya, karena merasa geram dengan nama itu.
"Ih, bukankah kau juga sudah mengetahui semua yang telah terjadi padaku? Aku sudah tidak membutuhkan laki-laki pecundang sepertinya. Saat ini aku menginginkan laki-laki yang lebih darinya, untuk menjadi ayah dari bayiku nanti," ucapku dengan seulas senyum licik.
Kini dia pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Lalu siapa yang kau maksud, honey?" tanyanya sambil mengecup singkat bibirku.
"Aku mau Devano Wicaksana!" jawabku dengan tegas.
Dia pun terkejut dan mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Emm, apa kau yakin? Bukankah dia adalah mantan kekasihmu yang dulu telah kau sia-siakan? Kenapa sekarang justru kau menginginkannya kembali?" tanyanya dengan penasaran.
Aku pun hanya menghela napas panjang.
"Aku tau dulu dia sangat mencintaiku, jadi apa salahnya jika aku akan membuatnya jatuh cinta kembali padaku," ucapku sambil menatap ke arahnya.
"Tapi apa kau yakin dia akan mau untuk kembali kepadamu?" tanyanya lagi.
"Justru itu, tujuanku kemari ingin meminta bantuan darimu! Kau mau 'kan?" pintaku dengan nada menggoda.
"Bisa saja. Asal kau mengijinkan ku melakukannya sekali lagi, aku masih sangat merindukanmu, honey,'' tuturnya lalu tanpa aba-aba dari ku, dia langsung saja menyerangku.
Kini aku hanya bisa pasrah kembali dan menikmati sentuhan demi sentuhan darinya, hingga membuatku kembali terbuai dalam kungkungannya.
Jujur saja, selama ini aku sangat menikmati sentuhan darinya, di banding Rizky yang notabenenya adalah kekasihku sendiri.
Setelah kami puas melakukannya kembali, kini kami pun sama-sama menyusun rencana agar berjalan sempurna.
Dia yang sudah ahli dalam hal jebak-menjebak, aku pun hanya mempercayainya dan berharap rencana kami berjalan dengan baik.
"Oke, kalau begitu, rencana ini kita lakukan di waktu yang tepat. Ingat! Sebelum rencana ini berjalan, jangan sekali-kali kau menemuinya dahulu. Nanti aku yang akan menggiringnya agar bisa masuk ke dalam jebakan kita," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Aku yang saat ini sedang bergelayut manja di lengan kekarnya, hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Aku terserah padamu saja, sayang, yang penting bagiku, semua berjalan lancar seperti kemauan ku," ucapku sambil mengecup singkat pipinya.
"Baiklah honey, jika saja kau mengijinkan aku untuk menggantikan pecundang itu, maka dengan senang hati aku akan melakukannya," ucapnya sambil mengecup singkat bibirku.
Aku pun langsung memberikan tatapan tajam ke arahnya. "Apa jadinya aku, jika memiliki suami sepertimu? Bagaimana dengan para gadis-gadismu nanti? Apa kau pikir aku mau di madu dengan para gadis-gadis liar itu?" tuturku dengan tatapan sinis.
Dia pun kini menjawil manja pipiku. "Yang pastinya aku akan meninggalkan mereka, demi dirimu honey!" Kini rayuan gombalnya keluar kembali.
Aku yang mendengar ucapannya hanya bisa kembali berdecak.
"Ck, sangat mustahil bagi orang sepertimu, bisa meninggalkan kebiasaan buruk itu," ucapku dengan sinis.
Aku yang sudah sangat mengenalnya, sama sekali tidak akan mempan dengan berbagai macam rayuan gombalnya itu.
"Ah, Honey."
__ADS_1
BERSAMBUNG....